Delapan Dekade Panji Gumilang: Dari Ma’had Al-Zaytun Menuju 500 Titik Pendidikan untuk Indonesia
Yang membedakan Al-Zaytun bukan hanya luasnya lahan. Ia punya arah. Mottonya jelas: “Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.” Misi itu diterjemahkan ke dalam prinsip bashthotan fil ‘ilmi wal jismi: keluasan ilmu dan kekuatan jasmani. Lulusan diharapkan kuat secara intelektual sekaligus tangguh secara fisik dan mental.
Panji Gumilang menolak model pendidikan yang tercerai-berai. Ia membangun One Pipe Education System. Satu pipa dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi dalam satu ekosistem. Santri tidak putus di tengah jalan. Kurikulum, asrama, dan pembinaan jalan beriringan. Ini upaya menutup kebocoran: anak masuk sekolah tapi keluar tanpa arah.

Selain sistem, ia menanamkan kemandirian. Al-Zaytun mengelola pertanian terpadu, ketahanan pangan, dan ekonomi internal. Pesantren tidak boleh menjadi beban negara atau donatur. Ia harus berdiri di atas kaki sendiri. Dalam bahasa kepemimpinannya, ini disebut manajemen “kekitaan”, bukan “keakuan”. Pendidikan adalah kerja kolektif.
Milad ke-80 menjadi ruang untuk mengumumkan langkah berikutnya. Rencana replikasi 500 titik sekolah berasrama modern di seluruh Indonesia adalah jawaban atas pertanyaan besar: bagaimana memperluas dampak? Titik beratnya dua: penguasaan sains dan pembentukan karakter. Tanpa dua itu, Indonesia akan tertinggal dalam persaingan global.
Gagasan itu mendapat sambutan lintas tokoh. Prof. Dr. Ermaya Suradinata menyoroti Al-Zaytun sebagai pabrik kader bangsa yang menanamkan karakter, nasionalisme, dan penghormatan pada keberagaman. Prof. Connie Rahakundini Bakrie mengirim surat terbuka, mengapresiasi dedikasi Panji Gumilang dan berharap gagasan besarnya terus hidup untuk peradaban.
Dari dunia usaha dan kebijakan, Dr. Gita Irawan Wirjawan menekankan pentingnya penguasaan STEM dan kesiapan menghadapi kecerdasan buatan. Sementara Sultan Paser ke-18, Dr. Adrian Sulaiman, bahkan berkomitmen mereplikasi model Al-Zaytun di Kalimantan Timur. Ia menghadiahkan dokumen pendirian Yayasan Nusantara sebagai wujud integrasi kepulauan lewat jalur pendidikan.
Yang menarik, dukungan juga datang dari lintas iman. Saya (Dr. Antonius Natan dari Pewarna Indonesia) mengaitkan angka 80 dengan simbol “awal baru” dalam tradisi Alkitab. Ia menyebut Al-Zaytun sebagai “Indonesia kecil yang harus menjadi Indonesia raya”. Doa bersama juga dipanjatkan Pdt. Danny Supangat dan Pdt. Wim Wairata. Ini menunjukkan, pendidikan bisa menjadi jembatan, bukan tembok.
Kesaksian lain datang dari Drs. Ch. Robin Simanullang, wartawan senior yang telah 20 tahun mencatat perjalanan Al-Zaytun. Ia menyebut dirinya saksi sejarah. Kado ulang tahunnya berupa dokumentasi pemikiran Panji Gumilang tentang solusi pendidikan modern. Pesannya sederhana: biarkan karya ini membumi dan menuntun peradaban.

Tentu, perjalanan 80 tahun tidak selalu mulus. Setiap lembaga besar pasti diuji. Tapi yang patut dicatat adalah konsistensi. Dari satu titik di Indramayu, lahir sebuah ekosistem yang berani bermimpi besar untuk bangsa. Mimpi 500 titik bukan ambisi pribadi. Ia adalah tawaran solusi sistemik.
Pendidikan memang jalan sunyi. Ia tidak ramai di awal, tapi hasilnya memanen peradaban. Kitab Amsal mengingatkan: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang.” Semangat itu hidup di Al-Zaytun. Jujur, toleran, mandiri, dan berilmu.
Delapan dekade Panji Gumilang mengingatkan kita: usia panjang hanya bermakna jika diisi karya. Kini estafet ada di tangan kita semua. Mendukung 500 titik pendidikan berarti mendukung masa depan Indonesia. Apapun latar kita, jika tujuannya mencerdaskan anak bangsa, maka kita satu barisan.
Pro Ecclesia Et Patria
