Gitar Batak: Mendenting Sampai ke Eropa

suaratapian.com-Gitar adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan jari. Kita tidak membicarakan sejarah gitar yang menjadi perdebatan banyak orang: ada yang menyebut berasal dari Babilonia. Ada yang menyebut dari Spanyol. Sejak pertengahan abad ke-16, sekitar tahun 1650, di Spanyol ada alat musik “Vihuela” mirip gitar kecil. Dari sana olehPortugis, gitar dibawa ke bumi Nusantara pada abad ke-17, terselip di antara kegiatan untuk membangun mata rantai bisnis, terutama pengumpulan rempah-rempah.

Nah, orang Batak tidak ketinggalan membuat gitar sendiri. Dulu orang menyebutnya gitar Sipoholon. Karal Hutagalung, 87 tahun, adalah pelopor gitar Batak. Karal mendirikan bengkel gitarnya tahun 1956. Awalnya bengkel gitar itu didirikan karena kecintaanya pada alat musik berdawai tersebut. Suatu waktu, gitar kesayangannya terjatuh. Padahal gitar itulah modalnya kalau martandang, mengeker gadis-gadis di Sipoholon. Sipoholon umumnya dihuni marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Gadis dari empat marga itulah yang dia incar.

Kesal. Namun, Karal muda tidak terus merengek-rengek menangis gitar kesayangannya yang sudah tak bisa dipetik. Dia mencari akal bagaimana cara memperbaikinya hingga bisa dimainkan kembali. Dari pengalamannya memperbaiki gitar dia kemudian menerima order membuat gitar. Ada kemauan ada jalan, bigitulah kira-kira Karal muda memotivasi diri membuka bengkel gitar. Pelan-pelan secara otodidak, Karal muda menjadi pembuat gitar yang handal. Dan usaha inilah yang digelutinya berpuluh-puluh tahun. Sampai sekarang usaha ini sudah dia geluti selama tiga generasi. Ada tiga pembuat gitar di Sipoholon ini, semuanya keluarga dan anak Karal.

“Bapak dulu membuat gitar ini karena kecitaan  pada gitar. Tidak belajar secara khusus, tetapi dengan coba-coba membuat gitar sendiri. Lalu membuka usaha yang kemudian hari menjadi usaha warisan yang diteruskan pada kami. Sudah tiga generasi yang meneruskan pembuatan gitar ini,” ujar Albert Hutagalung, anak Karal yang tertua.

Albert terus mengembangkan usaha keluarga ini. Puluhan tahun lalu, dia diundang pemerintah Sumatera Utara untuk turut serta dalam Pekan ProdukKreatif Indonesia 2007 di Jakarta Convention Center untuk menggelar produk gitar dari Sipoholon. Pemerintah daerah Tapanuli Utara menyarankan sebelum mengikuti pameran terlebih dulu mendaftarkan mereknya. Sebelumnya polos begitu saja. Sejak itu gitar Sipoholon resmi bermerek “Bona Pasogit,” yang berarti gitar dari kampung halaman.

“Sebenarnya pemberian nama gitar Sipoholon kebetulan saja, karena tempat ini berada di Kecamatan Sipoholon. Itu bukan merek. Jadi orang sering menyebutnya gitar Sipoholon. Jadi merek resminya ketika pameran di Jakarta, oleh pemerinta Tapanuli Utara diusulkan membuat merek Bona Pasogit,” kata Albert menjelaskan.

Gitar “Bona Pasogit” ini bukan sembarang gitar. Banyak yang mengatrakan suranya  bagus, tidak kalah kalau dibandingkan dengan gitar dari Spanyol. Itulah sebabnya orang-orang datang ke Sipoholon hanya untuk memesan gitar. Tentunya pembelinya banyak dari Sumatera Utara. Tapi, ada dari Jawa. Malah ada yang dari Eropa, seperti Belanda, dan Amerika Serikat yang menjadi peminat gitar ”Bona Pasogit” ini.

Pemasarannya memang belum profesional. Kebanyakan hanya melayani pesanan. Belum diproduksi secara massal. Harga bervariasi, ada yang dipatok berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Pembuatan gitar umumnya dilakukan secara berkala, tapi rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu per satu gitar.

Bahan gitar “Bona Pasogit”  ini diolah dari pohon hantuang yang dipesan khusus dari Sarulla, Tapanuli Utara. Bagaimana cara membuatnya? “Ah, itu rahasia perusahaan Lae,” ujar Ranto Hutagalung, sambil tertawa saat ditemui suaratapian.com satu waktu ketika mengamplas gitar setengah jadi. Ranto adalah salah satu cucu Karal yang saat ini menggeluti usaha yang dirintis pompungnya.  

Gitar ”Bona Pasogit” telah memberikan warna kehidupan bagi beberapa keluarga. Menurut berbagai pihak, proses pembuatan gitar Batak ini bisa dijadikan obyek wisata. Terutama karena pengerjaaannya dilakukan dengan tangan, bukan masinal.

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *