Japarmen Manalu, Kepala OJK NTT: Inspirasi dari Tano Batak untuk Timur

Peduli Pelayanan Publik

Di Tengah kesibukannya memimpin OJK NTT Japarmen tetapi aktif melayani di gereja. Sebagai sintua di HKBP dia sempatkan melayani dan membantu kegiatan gereja, termasuk aktif melayani pusat HKBP. Dia juga aktif memantau perkembangan di media sosial tentang pelayanan HKBP. Ketika segelintir orang yang tendesi pada Ephorus HKBP yang meminta sumbangan dari jemaat HKBP, dia justru menyambut positif seruan pimpinan HKBP agar jemaat mengumpulkan persembahan untuk menopang pederitaan korban bencana alam di Tapanuli Raya.

“Ini adalah contoh nyata dari kepedulian dan tanggung jawab sosial.” Lebih lanjut, Japarmen menekankan pentingnya memelihara lingkungan dan mengelola alam ciptaan Tuhan dengan bijak, bukan mengeksploitasi. Suara dari jemaat HKBP dan pimpinan jemaat tentang peduli kelestarian lingkungan harusnya menjadi contoh bagi kita semua.

“Sayangnya, masih ada orang yang menyikapi hal ini dengan sinis, mungkin karena memperoleh benefit dari perusahaan pengeksploitasi alam, bahwa kerusakan alam menjadi beban banyak orang, bahkan korban nyawa dan harta,”ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta audit menyeluruh terhadap semua perusahaan yang menjadi perusak alam Tapanuli, termasuk korporasi yang menjadi penadah ilegal logging. Semoga kita semua beroleh hikmat dan kesadaran untuk mengelola alam dengan bijak dan bertanggung jawab

Dekat dengan Jurnalis

Dia sosok pejabat yang bersahabat. Dia dekat dengan semua kalangan, termasuk dengan jurnalis. Di satu siang dia diwawancarai oleh wartawan RRI Kupang dan Antara terkait dengan jatuhnya lagi korban investasi ilegal di NTT. Dia menyampaikan rasa sedihnya karena masih ada masyarakat yang menjadi korban penipuan.

Japarmen menjelaskan, bahwa OJK NTT telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, seperti podcast di berbagai kanal media, kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga keumatan, dan industri jasa keuangan. Sejak 2023, OJK NTT telah melaksanakan 296 kegiatan literasi keuangan dengan 35.375 peserta.

“Saya menekankan pentingnya prinsip 2L: Legal dan Logis. Legal berarti perusahaan investasi harus berijin dan terdaftar di OJK,” katanya. “Logis berarti imbal hasil dan metode investasi harus masuk akal.” Karena itu, Japarmen melalui media mengajak masyarakat untuk selalu waspada dan tidak serakah. “Tidak ada yang instan di dunia investasi,” katanya. “Salam literasi keuangan!” (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + three =