Kebenaran, Integritas, dan Peran Gereja Membangun Bangsa Jadi Pesan Utama Malam Pujian HUT RI ke-81 di Kota Blitar

Dalam khotbahnya, Derman menegaskan bahwa gereja bukan penonton, melainkan bagian dari perjuangan membangun bangsa. Gereja hadir di tengah keluarga, sekolah, kantor, pasar, pemerintahan, dunia usaha, masyarakat hingga media sosial. Di mana pun orang Kristen berada, di sanalah nilai-nilai Kristus harus terlihat.

Pesan itu kemudian diperkuat dengan ajakan agar kehidupan sehari-hari menjadi kesaksian iman: menjadi pegawai yang jujur, guru yang sabar, pedagang yang tidak curang, pejabat yang tidak menyalahgunakan kewenangan, serta aparat penegak hukum yang menjaga integritas.

“Integritas adalah tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat.” Pesan ini menjadi salah satu penekanan penting dalam khotbah tersebut.

Derman juga mengajak gereja mengambil peran sebagai pembawa damai. Ketika masyarakat marah, gereja harus membawa kesejukan. Ketika masyarakat terpecah, gereja menjadi jembatan. Dan ketika masyarakat kehilangan harapan, gereja hadir membawa pengharapan. Karena itu, menurutnya, gereja tidak boleh diam.

Dalam konteks BAMAG, ia mengingatkan bahwa meskipun gereja memiliki denominasi, tradisi, tata gereja, dan cara pelayanan yang berbeda, semuanya memiliki satu panggilan: menjadi berkat bagi bangsa dan menjalankan Amanat Agung.

Momentum HUT RI ke-81 juga menjadi kesempatan untuk merenungkan makna kemerdekaan yang lebih dalam. Derman mengajak umat bertanya: “Apakah kita benar-benar merdeka?” Kemerdekaan sejati, menurut pesan khotbah tersebut, adalah kebebasan untuk melakukan kehendak Tuhan—merdeka dari korupsi, narkoba, judi, pornografi, kebencian, keserakahan, egoisme, dan berbagai bentuk keterikatan lainnya.

Menutup khotbahnya, Derman menggunakan gambaran rajawali sebagai inspirasi untuk menghadapi tantangan. Rajawali tidak menghindari angin dan badai, tetapi menggunakannya untuk terbang lebih tinggi. Demikian pula bangsa Indonesia dan gereja harus mampu menghadapi tantangan, perbedaan, serta pergumulan dengan iman, kasih, kebenaran, keadilan, persatuan, dan pelayanan.

Ia mengajak seluruh peserta pulang dengan komitmen baru: menjadi pemimpin yang berintegritas, warga negara yang bertanggung jawab, pribadi yang melayani, memiliki hati yang mengasihi, pikiran yang membangun, serta keberanian untuk melakukan yang benar.

Usai Khotbah, Derman Ajak Kapolresta dan Kajari Blitar Bernyanyi Bersama

Ada momen menarik dan penuh keakraban usai khotbah. Derman P. Nababan, yang mengawali perjalanan kariernya sebagai cleaning service, mengajak Kapolresta Blitar AKBP Kalfaris Lalo dan Kepala Kejaksaan Negeri Blitar Romulus Haholongan Sitinjak, S.H., M.M, M.H., untuk bersama-sama menyanyikan lagu rohani “Hidup Ini Adalah Kesempatan.”

Ajakan tersebut langsung disambut hangat. Serentak, hadirin memberikan aplaus dan turut bernyanyi bersama. Suasana pun berubah menjadi penuh sukacita dan keakraban, memperlihatkan kebersamaan para pemimpin lintas institusi bersama para pimpinan gereja dan jemaat yang hadir.

Momen sederhana itu terasa semakin bermakna karena lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan” sejalan dengan pesan yang disampaikan Derman: bahwa hidup adalah kesempatan untuk melakukan yang benar, melayani, menjadi berkat, dan memberikan yang terbaik bagi sesama.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + 14 =