Mambere Namalum Hubani Inong: Memberi yang Menyembuhkan

Suaratapian.com-Karena usia Inong Rosdiana T. Boru Munthe sudah 98 tahun dan memasuki masa uzur, St. Dr. dr. Waldensius Girsang, Sp.M(K), D.Min bersama saudara-saudaranya menggelar acara “mambere namalum” sebagai bentuk bakti dan syukur kepada Tuhan. Dalam tradisi Batak Simalungun, mambere namalum secara harfiah berarti “memberi yang menyembuhkan”, sebuah ritual pemberian sajian makanan khusus kepada orang tua dengan harapan memohon kesehatan, kekuatan jasmani dan rohani, serta panjang umur. Hal ini sepadan dengan tradisi Batak Toba yang disebut “mangalehon mangan”. Di tengah doa, tangis haru, dan nyanyian El Shaddai, Waldensius bersama keluarga menyuapkan makanan, memohon berkat, dan menyatakan, kasih mereka: bahwa selama napas masih ada, bakti kepada orang tua tidak akan pernah berhenti, karena dari rahim dan doa ibundalah lahir semua keberhasilan mereka hari ini.

Hari ini, Sabtu, 22 Agustus 2026 mereka berdoa untuk ibunda, perempuan inspiratif yang doanya tidak pernah putus untuk keturunannya, Rosdiana T. Boru Munthe, usia 98 tahun. Di usia hampir satu abad itu, ia masih menjadi pendoa bagi anak, cucu, dan semua orang yang mengenalnya. Sebagai anak laki-laki pertama, St. Dr. dr. Waldensius Girsang, Sp.M(K), D.Min selalu menuruti apa yang dikatakan ibunya. Dari kecil ia diajarkan satu hal: anak yang berbakti tidak pernah membantah dengan kasar, tetapi mendengar, menimbang, dan melakukan dengan kasih.

Istilahnya sederhana: penurut, patuh, berbakti. Tapi bagi Waldensius, itu bukan sekadar sifat. Itu adalah kompas hidup. Karena ia percaya, berkat Tuhan mengalir paling deras melalui pintu penghormatan kepada orang tua.

Ibu Rosdiana bukan perempuan biasa. Ia adalah perempuan Batak yang ditempa kerja keras. Dari ibunya Dr Waldensius mendapat vitamin belajar. Pendidikan dasarnya di SD HKBP Sidikalang, SMP di SMPN 1 Sidikalang, dan SMA di SMAN 225 Sidikalang.

Pendidikan di rumah ibunya menanamkan disiplin kepada mereka, anak-anaknya: “sekolah harus sungguh-sungguh, karena ilmu adalah jalan keluar dari kemiskinan.”

Buah dari didikan itu terlihat nyata. Sebagai anak sulungnya, Waldensius, menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 1985. Lalu melanjutkan spesialis mata di FKUI tahun 1999 dengan tesis tentang “meibomian gland dysfunction”. Ia juga menempuh fellowship katarak, refraktif, dan vitreo-retina di Jakarta Eye Center.

Di usia yang tidak muda lagi, waktu itu, Waldensius kembali kuliah. Tahun 2020 ia meraih gelar Doktor dari Universitas Gadjah Mada. Lagi-lagi karena inspirasi dari ibunya. Bahkan, disertasi yang ia tulis menjadi penemuan baru dalam pengobatan mata dan mendunia. “Semua itu tidak mungkin terjadi tanpa doa seorang ibu yang setiap malam menyebut nama anaknya di hadapan Tuhan.”

“Bahwa hidup hanyalah perkenanNya. Semua karena anugerahNya,” ujar Dr. Waldensius. Kalimat itu ia dapat dari rumah. Dari seorang ibu yang mengajarinya bahwa sehebat apa pun gelar, kalau tidak disertai rasa syukur, maka hampa.

Rosdiana T. Boru Munthe adalah tipe ibu yang tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. “Unang Ramos Dihata, Alai Pogos Diulaon” demikian kata-katany untuk anak-anaknya, jangan banyak bicara, tapi banyak bekerja. Itu yang ia ajarkan di dapur, di ladang, dan di gereja.

Ia juga menanamkan: “Namora Daion ma ho, unang gabe Namora nasoboi Daion” jadilah orang kaya yang berlomba berbuat baik. Pesan itu yang membuat Waldensius, selain menjadi dokter mata, juga menempuh D.Min dan aktif melayani sebagai Sintua di gereja GKPS Simalungun Jemaat Salemba. Gelar panjangnya bukan untuk dipamerkan, tapi untuk melayani lebih luas.

Setiap 31 Januari, mereka, anak-anaknya selalu merayakan ulang tahun ibunda. Setiap tahun tulisannya sama: “Perjuangan dan Kasih Sayangmu Sungguh.”

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 + 14 =