Komnas PA Mendesak Polres Palalawan Segera Menahan Desman Zebua

Suaratapian.com JAKARTA-Tindakan kekerasan fisik dengan cara menyiksa anak kandung usia 10 tahun dengan benda tumpul seperti menjepit jari kelingking anaknya dengan Tang, kemudian berpindah ke jari kelingking kaki dan tangan, lalu mengayunkan kursi ke punggung anaknya, lalu kemudian mengambil Kapak dari bawah meja dan mengayun-ayunkan di wajah korban  dengan mengatakan, “nanti kupotong kakimu, karena kakimu itulah membuat mata adikmu bengkak.”

Di samping itu korban juga menderita pukulan dengan tangan kosong dari ayahnya dan mengakibatkan korban cedera,  luka, lebam dan fisik lalu korban dibuang di salah satu perkampungan dekat  SBPU di Desa Palas yang dilakukan Desman Zebua (34) warga Desa Teratang Manuk, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau mendapat atensi serius dari Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.

Arist mendesak Polres Palalawan untuk segera menangkap dan menahan Desman Zebua dan ibu korban untuk dimintai keterangan dan pertanggung-jawaban hukumnya. “Tak ada toleransi terhadap segala  bentuk kekerasan terhadap anak. Atas perbuatannya,  Desman Zebua  dan ibu korban berdasarkan ketentuan pasal 81 UU Nomor: 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor: 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pelaku dapat diancama pidana minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

“Mengingat pelakunya adalah orang tua kandung sendiri, maka pelaku dapat dijerat dengan hukuman tambahan  sepertiga dari pidana pokoknya,” jelas Arist. Arist juga meminta Polres Palalawan untuk menerapkan UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor: 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak untuk menjerat pelaku,  sehingga Jaksa Penuntut Umum (JPU)  dapat menuntut pelaku dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya dan berdasarkan dengan  aturan dan berdasar pada Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Untuk peristiwa ini, ketiga anak dari Desman Zebuah  pelaku kejahatan dan kekerasan fisik terhadap anak terhadap anak kandungnya sendiri ini, Komnas Perlindungan Anak meminta agar Dinas Sosial  beserta Dinas Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan anak Kabupaten Palalawan  bersama P2ATP2A dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) yang berada di Kabupaten Pelalawan untuk memberikan pendampingan dan  pemulihan serta reintegrasi sosial anak melalui program-program pemerintah,  sehingga korban di dalam menjalani proses trauma psikologisnya mendapat tempat yang baik.

Kasus kekerasan fisik, penganiayaan dan pembuangan anak ini berawal pada hari Minggu tanggal 27 September 2020 sekira pukul 21 WIB Polsek Palalawan  mendapat informasi dari masyarakat bahwa telah ditemukan seorang anak di bawah umur di Desa Palasari Kecamatan Pangkalan Kuras,  Kabupaten Pelalawan dan telah dibawa dan diamankan ke rumah kepala Desa Paras selanjutnya pihak Polsek Pangkalan Kuras langsung menuju rumah Kepala Desa untuk menjemput anak tersebut dan dibawa ke Polsek Pangkalan Kuras dan dikarenakan terdapat luka parah di anak tersebut.

Kemudian, pihak Polsek Pangkalan Kuras membawa anak tersebut ke Puskesmas Pangkalan Kuras untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan sekaligus visum et repertum dan selanjutnya melakukan interograsi terhadap korban anak untuk mengetahui siapa yang telah melakukan kekerasan terhadap dirinya. Pada saat itu korban  mengatakan yang  melakukan kekerasan adalah bapak atau orang tua kandungnya sendiri bernama Desman Zebua.

Pada hari Senin, 28 September sekira pukul 10 keluarga mengantar pelaku dan istrinya ke Polsek Pangkalan Kuras untuk selanjutnya diperiksa di unit Reskrim untuk melakukan klarifikasi kepada kedua orangtua anak. Dalam keterangan di Polsek Palalawan pelaku mengakui bahwa pelaku mengakui perbuatannya telah melakukan kekerasan terhadap anaknya yang bernama Bernama RF (10) dengan cara menjepit jari kelingking kaki sebelah kiri anak saya, lalu dia menangis dan kemudian saya tetap melakukan dan lalu mencubit jari manis dan kelingking kaki sebelah kanan.

Desman mengatakan, “Sambil menahan kaki anak saya, saya mengambil sebuah kursi kecil yang terbuat dari kayu, lalu mengayunkan kursi tersebut dan mengenai punggung anak saya sebanyak dua kali, dan lalu saya meletakkan kursi dan mengambil tang penjepit kembali dan memukul dengan tangan ke arah wajah bagian pipi sebelah kiri anak saya. Setelah itu, saya duduk sambil marah-marah dan lalu karena emosi saya mengambil sebuah buah kapak dari bawah meja dan mengatakan, kepada anak saya, nantiku potong kakimu kalau keluar kau, karena kaki itu yang membuat mata adiku bengkak,” demikian perbuatan dan penjelasan Desman Zebua. (HM)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.