Niat Filantrofi Keluarga Akidi Tio Menyumbang Dua Trilyun Terindikasi Amoral

suaratapian.com JAKARTA-Kasus keluarga Akidi Tio berwujud amoral, karena makin dibahas maka makin salah. Berawal dari niat memberi bantuan sebesar Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio untuk membantu pemerintah, khususnya wilayah Sumatera Selatan dalam menangani Pandemi Covid-19 terkesan amoral, bahkan, mirip seperti cerita Abu Nawas yang mau terbang. Karena itu tindakan aparat Kepolisian yang cepat memeriksa keluarga Akidi Tio merupakan langkah yang sangat baik. Namun pihak Kepolisian pun harus menyelidiki secara cermat dan cepat, apa sebenarnya tujuan memberi bantuan yang cukup besar itu.

Praktisi hukum Jonson Sontang Simatupang, SH, yang dikenal dengan JS Simatupang mengemukakan pendapat hal itu kepada jurnalis dalam keterangan tertulisnya yang juga diterima jurnalis, Jum,at (6/8/21). Meminta supaya Kapolda Sumsel memberikan klarifikasi atas kejadian tersebut, agar tak terkesan intitusi Polri ternoda. “Kapolda Sumsel perlu memberikan klarifikasi tentang kejadian ini, apa pesan moral dari institusi Polri bagi masyarakat sehingga tak terulang kembali kasus seperti ini di masa mendatang,” sebutnya.

Dia juga mengkritisi kekuranghatihatian, termasuk mengenai asas perbankan bisa menimbulkan kerugian yang besar baik dari segi materi, jabatan maupun moral. Menurut JS, panggilan akrabnya, masyarakat perlu mengetahui apa sebenarnya tujuan keluarga Akidi Tio.

“Apakah mau membuat lelucon atau benar-benar ingin membantu, atau memang kesulitan untuk mencairkan uang Rp 16 triliun yang diklaim ada di Singapura. Kalau memang uang itu benar ada di Singapura, tidak ada salahnya pemerintah membantu mencairkannya. Nanti pemerintah bisa saja mendapat Rp 2 triliun,” sebutnya lagi.

CEO Berdikari Insurance ini mengatakan, publik tak perlu terlalu serius menanggapi persoalan ini. JS Simatupang mengutif kisah Abu Nawas, publik yang telanjur berbondong-bondong ingin menyaksikan Abu Nawas terbang, namun akhirnya tertipu. Abu Nawas yang sebelumnya sesumbar mau terbang ternyata hanya menggerakkan tangan meniru gerakan burung mengepakkan sayapnya. Abu Nawas pun berkilah bahwa dia mau terbang, bukan bisa terbang.

“Pesan yang disampaikan dalam cerita Abu Nawas bisa diartikan bahwa kita harus berhati-hati dalam menerima sebuah berita. Kabar apapun jangan ditelan mentah-mentah,” ujarnya, sembari menambahkan, dalam kasus ini tak perlu saling menyalahkan. Polisi pun tak bisa disalahkan.

Memang, tambahnya, saat ini masyarakat Indonesia sedang mengalami kesulitan sehingga jika ada orang yang punya niat baik untuk membantu pemerintah harus dihargai, bahkan ditunggu tunggu. (HM)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.