Jose Silitonga: Dari Bankir Jadi Pembela Keadilan
suatapian.com-Jose Silitonga adalah seorang advokat, pengacara, dan tokoh masyarakat Indonesia yang lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Lahir di Tarutung, ibu kota Tapanuli Utara, 25 Mei 1952, Jose Silitonga tumbuh di tanah Batak yang kental adat dan iman. Pendidikan dasar hingga SMP ia tuntaskan di kota kelahirannya, sebelum merantau ke Medan untuk SMA. Tahun 1973, Jose masuk Bank Bumi Daya. Kariernya menanjak, namun berhenti di 1989 saat ia memilih pensiun muda dengan pangkat Panata Muda. Pilihannya jelas: menegakkan hukum. Tahun 1982 ia sudah lebih dulu menamatkan S1 Ilmu Hukum di Universitas Jayabaya Jakarta. Tiga tahun setelah pensiun, 1992, ia mendirikan Law Office JOSE & PARTNERS.

Hukum bukan satu-satunya panggung. Jose menapaki jalan teologi. Tahun 2007 ia meraih Magister of Arts Kepemimpinan Kristiani dari Institut Teologi Mahkota Zion Internasional. Tahun 2015, gelar Magister Pendidikan Agama Kristen dari STT Periago Jakarta ia kantongi. Di tahun yang sama, ia dipercaya sebagai Ketua STT PERIAGO Jakarta sekaligus Dosen Luar Biasa di Sekolah Tinggi Transportasi Trisakti.
Di luar kampus, ia aktif di Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia DKI Jakarta sebagai Ketua, serta menjabat Ketua Bidang Hukum dan HAM Partai Damai Sejahtera. Beberapa NGO juga mencatat namanya sebagai penggerak.
Advokasi: Dari Sampit ke Tonasa
Tahun 2002 jadi penanda. Jose turun langsung menangani konflik etnis Sampit, Kalimantan Tengah. Kerja advokasinya diganjar penghargaan dari Gubernur Kalteng. Ia juga mendampingi masyarakat Dairi melawan PT PLN di Sumut, serta warga Tonasa berhadapan dengan korporasi besar — bukan hanya lewat jalur hukum, tapi juga pemberdayaan.
Advokasinya meluas ke konflik aras gereja. Meja pengacara jadi ruang rekonsiliasi.
Tahun 2003, WALHI menganugerahinya Pahlawan Bumi. Tahun 2007, ia disebut Tokoh Kristiani. Tahun 2009, Keresidenan Tejowulan Solo memberinya gelar Raden Tumenggung Jose Prdotopuro.
Dari pernikahannya dengan Elsje Anna Cumentas, lahir dua putra: Albertho Marthin P. Silitonga, SH dan Reza Andhika Persada Silitonga, SH. Jejak hukum sang ayah diteruskan anak-anaknya.
Dari Tarutung ke Jakarta, dari bank ke ruang sidang, dari mimbar teologi ke medan konflik Jose Silitonga merangkai hidup sebagai pembela. Hukum jadi alat, iman jadi kompas.
Visi untuk Tapanuli
Tapanuli, tanah kelahiran Jose Silitonga, bukanlah tempat yang asing baginya. Lahir dan besar di wilayah ini, Jose memiliki ikatan kuat dengan daerahnya. Bahkan, pada tahun 2003, ia pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Taput, dengan visi dan misi yang berbeda dari para pesaingnya.Dalam pencalonannya, Jose memaparkan beberapa program yang ingin diwujudkannya, di antaranya menjadikan Tarutung sebagai kota administratif, meningkatkan SDM melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan tinggi, dan meningkatkan layanan kesehatan. Ia juga ingin mengangkat kearifan budaya lokal dengan menjadikan Tarutung sebagai pusat model dan seni bernuansa Batak.”Saya sudah mengusulkan berdirinya perguruan tinggi di Taput dalam program saya sebagai calon bupati Taput,” ungkap Jose.
Selain itu, ia juga menggagas agar produk pertanian menjadi komoditi ekspor dan menyumbang beberapa handtractor untuk meningkatkan pertanian di daerahnya. Namun, Jose mengakui bahwa kualitas SDM di daerahnya saat itu masih minim, sehingga penggunaan handtractor tidak bisa maksimal. “Andai dulu program saya ini dilaksanakan bupati terpilih ketika itu, bukan tidak mungkin, pertanian di Taput akan jauh lebih maju dibanding sekarang,” paparnya. (Hotman)
