Profil Drs. Martua Situngkir, Ak. “Ompu Abraham”: Anak Situngkir yang Tak Pernah Lupa Kampung
suaratapian.com-Ada peribahasa Batak yang sering jadi tamparan: “kacang lupa kulitnya”. Peribahasa itu menyindir mereka yang sukses lalu melupakan asal. Tapi peribahasa itu patah di hadapan Drs. Martua Situngkir, Ak., yang akrab disapa Ompu Abraham. Dari anak lelaki satu-satunya di keluarga, ia tumbuh menjadi sosok yang diperhitungkan. Gelar, jabatan, dan pengakuan datang silih berganti. Namun satu hal yang tak pernah ia tinggalkan: Desa Situngkir, kampung halamannya. Desa Situngkir, tepatnya Situngkir III, terletak di Kelurahan Parbaba, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Jaraknya sekitar 10 km dari ibu kota kabupaten Pangururan. Sebagian besar wilayahnya bersentuhan langsung dengan perairan Danau Toba. Dulu desa ini hanya dihuni segelintir masyarakat satu garis keturunan, satu ompung.
Di tanah inilah sejarah 82 tahun hidup Martua Situngkir dimulai. Ruma Batak pertama yang berdiri di sana adalah milik ayahnya. Rumah itu dibeli dari Tolping dan dijuluki Ruma Seng karena atapnya sudah terbuat dari seng. Di bawah atap seng itulah Martua lahir, besar, dan menginjak remaja.
Perjalanan pendidikan Martua pun bertumbuh bersama desa. Ia masuk Sekolah Rakyat SR 6 Parbaba pada 1951. SR itu kemudian berganti nama menjadi Sekolah Dasar Negeri SDN 1 Parbaba dan ia lulus pada 1957. Dari bangku kayu SR itulah langkahnya menuju dunia yang lebih luas dimulai.
Desa yang Turut Berubah Nama
Situngkir juga saksi perubahan peta administrasi. Dulu masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. Setelah pemekaran, menjadi bagian Kabupaten Toba Samosir. Lalu, sesuai UU RI Nomor 36 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir, Situngkir III resmi menjadi bagian Kabupaten Samosir hingga kini.
Bagi Martua, Situngkir III bukan sekadar titik di peta. Ia adalah akar. Di sinilah nilai hamoraon, hagabeon, hasangapon pertama kali ia pahami bukan dari buku, tapi dari kehidupan sehari-hari: gotong royong, dalihan natolu, dan kerasnya hidup di tepi danau.
