Profil Drs. Martua Situngkir, Ak. “Ompu Abraham”: Anak Situngkir yang Tak Pernah Lupa Kampung
“Ompu Abraham”
Cinta Martua Situngkir tidak dimulai di tepi Danau Toba, tapi di bangku kuliah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di kota pelajar itulah ia berjumpa dengan Dra. Rosnauli Saragih, MACM., M.Th. Pertemuan dua mahasiswa, dua cita-cita, dan dua marga yang kelak merajut keluarga besar Situngkir-Saragih.
Dari pernikahan itu, Tuhan menganugerahkan empat anak. Empat nama, empat gelar, empat jejak yang melanjutkan warisan hamoraon dan hasangapon keluarga. Anak-anak yang Meneruskan Api Tungku Rotua Novdiana Boru Situngkir, SE., M.Si. Putri sulung yang kini bersanding dengan Jekson Pangaribuan, SE., M.Si. Gelar dan pernikahannya menegaskan nilai Batak: perempuan Batak tetap membawa marga ayahnya ke ruma tangga baru, menjadi boru yang menguatkan hula-hula.
Pandapotan Sampetua Situngkir, MBAPutra pertama, kini disapa Ama Abraham. Ia menikah dengan Dahlia Boru Panggabean. Nama “Pandapotan Sampetua” bukan kebetulan doa agar ia “mendapat yang tua-tua”, mendapat kehormatan dan kebijaksanaan. Di pundaknya kini tongkat estafet marga Situngkir. Rizki Boru Situngkir, SE., Ak., MBA. Putri kedua yang menyandang gelar akuntan dan magister. Ia menikah dengan dr. Jeffry Naek Tua Panjaitan, Sp.OG. Kombinasi ekonomi dan medis dalam satu keluarga menjadi cermin: keluarga Martua tidak hanya mengejar materi, tapi juga pengabdian.
Lalu, Jonggi Darma Prasatya Situngkir, SE., MIB Putra bungsu. Nama “Jonggi Darma Prasatya” sarat makna: menegakkan kebenaran dengan setia. Dengan gelar Magister International Business, ia membawa nama Situngkir melangkah ke panggung global. Ibu Rumah Tangga yang Juga CendekiaDra. Rosnauli Saragih, yang kini dipanggil Ny. Martua Situngkir, Op. Abraham Boru, bukan sekadar pendamping. Gelar MACM dan M.Th yang ia sandang menunjukkan ia perempuan terdidik, pemikir, dan penjaga nilai iman dalam keluarga. Di tengah kesibukan Martua sebagai akuntan dan abdi masyarakat, Rosnauli menjadi tiang. Ia yang memastikan empat anak tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga berkarakter.
Dari Yogyakarta ke Jakarta, dari Jakarta kembali ke Samosir, rumah tangga Martua-Rosnauli berdiri di atas dua pilar: pendidikan dan adat. Mereka membuktikan bahwa pernikahan modern tidak harus memutus akar. Justru sebaliknya, pendidikan tinggi dipakai untuk mengangkat marga, bukan melupakannya.
Empat anak, empat gelar, empat keluarga baru. Itulah jawaban Martua atas kerinduan ayahnya, Amanuel, yang dulu begitu merindukan anak laki-laki penerus. Kini Situngkir tidak hanya punya satu penerus, tapi satu generasi utuh yang tersebar, berkarya, dan tetap memegang marga dengan bangga. Dari Ruma Seng di Situngkir III, kisah Martua kini berlanjut di rumah-rumah anak dan cucunya. Dan di setiap rumah itu, nama “Ompu Abraham” tetap disebut dengan hormat, bukan karena gelarnya, tapi karena ia tak pernah lupa dari mana ia berasal.
Ulos, Bukan Sekadar Kain
Sebuah nota kesepahaman ditandatangani. Tapi yang lahir bukan sekadar dokumen. Dewan Pengurus Nasional Batak Center – DPN BC bersama Lokus Adat Budaya Batak – LABB resmi mengikat kerja sama strategis untuk satu tujuan: menjaga napas budaya Batak agar tidak padam ditelan zaman.
Di panggung yang sama, pengukuhan pun dilakukan. Drs. Martua Situngkir, Ak., Ompu Abraham, sebagai Ketua Umum Parsadaan Pomparan Raja Silahisabungan Indonesia 2024-2029 dan Wakil Ketua Umum Dewan Mangaraja LABB, dikukuhkan langsung sebagai Ketua Panitia program “Ulos Namarhadohohan”.
“Ulos Namarhadohohan” bukan acara seremonial. Namanya mengandung makna: ulos yang saling menghangatkan, yang mengikat, yang meneduhkan. Program ini memposisikan ulos bukan hanya sebagai warisan kain tenun, tapi sebagai motor ekonomi dan jati diri.
Dengan MoU ini, Batak Center dan LABB menargetkan program yang menyentuh langsung akar rumput: Sanggar tari hidup, ruang belajar dan panggung bagi tortor, gondang, dan seni tradisi agar tidak hanya dipentaskan, tapi dihidupi generasi muda.Inkubator UMKM berbasis koperasi marga, pengrajin ulos, penenun, dan pelaku usaha Batak dibina, diberi akses pasar, dan dikuatkan dalam sistem koperasi agar ekonomi marga berputar di dalam marga.
Pusat kajian sejarah dan bahasa Batak – laboratorium pemikiran untuk menelusuri aksara, silsilah, dan nilai dalihan natolu agar warisan itu tidak hanya dihafal, tapi dipahami.
Penunjukan Martua Situngkir sebagai Ketua Panitia bukan kebetulan. Sosok yang sejak kecil menolak “kacang lupa kulitnya” itu kini dipercaya memimpin gerakan nyata. Bagi Martua, ulos adalah simbol. Ia menghangatkan pengantin baru, meneguhkan duka, merayakan suka. Tapi lebih dari itu, ulos adalah identitas yang harus punya nilai ekonomi agar penenunnya tidak punah.
“Dengan ridho Tuhan Allah Yang Esa Mahakasih,” ucap para pemangku adat, “kerja sama ini diharapkan melahirkan dampak nyata bagi peradaban Batak ke depan.”Dari MoU ke sanggar, dari sanggar ke koperasi, dari koperasi ke pusat kajian, itulah alur “Ulos Namarhadohohan”. Benang ulos yang dulu hanya ditenun di hande-hande, kini ditenun menjadi program, kebijakan, dan harapan.
Karena bagi Batak, menjaga ulos berarti menjaga diri sendiri. Dan menjaga diri sendiri berarti memastikan anak cucu masih bisa berkata: “Au halak Batak, dohot uloshu” Aku orang Batak, beserta ulosku. (Hojot Marluga)
