Profil Drs. Martua Situngkir, Ak. “Ompu Abraham”: Anak Situngkir yang Tak Pernah Lupa Kampung
Tak Lupa Kulitnya
Gelar Drs. dan Akuntan yang ia sandang, sapaan Ompu Abraham yang ia terima, tidak membuatnya jauh dari Parbaba. Justru kesuksesan itu ia jadikan jembatan untuk kembali. Sikapnya mematahkan sindiran “kacang lupa kulitnya”.
Bagi Martua Situngkir, sukses bukan tentang seberapa tinggi ia terbang, tapi seberapa setia ia mengingat tanah tempat ia pertama kali belajar berdiri. Dan tanah itu bernama Situngkir III, tepi Danau Toba, tempat ruma seng ayahnya masih menyimpan cerita.
Drs. Martua Situngkir, Ak. “Ompu Abraham” lahir dari penantian, tumbuh dengan tanggung jawab. Tanggal 6 September 1944, di bawah atap Ruma Seng milik ayahnya di Desa Situngkir III, Parbaba, seorang bayi lelaki lahir ke dunia. Ia diberi nama Martua Situngkir. Kelahirannya disambut haru oleh Huntal Situngkir, yang dipanggil Amanuel, dan Ronu Boru Simarmata, atau Nai Manuel. Setelah penantian yang cukup lama, doa mereka terjawab. Anak itu lahir, tumbuh, dan kelak menjadi kebanggaan marga Situngkir.
Martua adalah anak ketiga. Di atasnya ada dua kakak perempuan: Marthauli Boru Situngkir yang kemudian menikah dengan Meman Sagala, Op. Muba, dan menetap di Perdagangan, Sumut; serta Nai Parulian Boru Situngkir yang menikah dengan marga Simarmata dan berdomisili di Jakarta. Di bawahnya ada dua adik perempuan: Rena Boru Situngkir yang bersuami marga Malau di Jakarta, dan Nurmala Boru Situngkir yang bersuami marga Sijabat di Papua.
Namun ada satu nama yang sejak awal mewarnai hidup Martua: Manuel. Statusnya bukan abang kandung, melainkan abang angkat. Ceritanya, Nai Manuel sempat mengalami “partilaha” sering kehilangan anak. Huntal Situngkir, yang penasaran dan merindukan keturunan, lalu mengangkat Manuel, keponakannya dari amangtua, menjadi anak sendiri melalui ritual adat Batak.
Setelah pengangkatan itu, barulah lahir berturut-turut dua kakak Martua, kemudian Martua, lalu dua adiknya. Bagi Martua, Manuel adalah sosok abang yang baik hati dan sangat berbakti kepada ayahnya. Meski saat Martua lahir pada 1944 Manuel sudah merantau ke Kabanjahe, Siantar, Jakarta, lalu bekerja di Pertamina Palembang, komunikasi lewat surat dengan Huntal Situngkir tetap terjaga. Kedekatan batin Martua dan Manuel baru benar-benar terasa ketika keduanya sama-sama bermukim di Jakarta, dalam keadaan sudah berkeluarga.
Sampai Manuel meninggal dunia, Martua menunaikan perannya sebagai adik dengan penuh tanggung jawab. Ia membuktikan bahwa darah adat lebih kental dari sekadar darah kandung. Dalihan Natolu hidup dalam tindakannya.
Dari rumah seng di tepi Danau Toba itulah Martua Situngkir memulai hidup. Dari keluarga yang menghargai adat, kesetiaan, dan tanggung jawab itulah ia membentuk karakter. 70 tahun perjalanannya tak bisa dilepaskan dari nama orangtua: Huntal alias Amanuel dan Ronu alias Nai Manuel, dua sosok yang menanamkan nilai sebelum Martua mengenal dunia luar.
Dan di desa Situngkir III itulah cerita seorang anak yang “tidak lupa kulitnya” dimulai. Dalam falsafah Batak Toba, kehadiran anak laki-laki adalah penantian panjang. Anak laki-laki bukan sekadar pelengkap, tapi penopang marga. Dialah penerus marga, penjaga hula-hula dan boru, pengikat dalihan natolu. Perempuan dan laki-laki sama di hadapan Tuhan, tapi dalam struktur keluarga Batak, anak lelaki memikul garis keturunan yang tak putus.
Logika itu hidup penuh di rumah Huntal Situngkir, Amanuel, dan Ronu Boru Simarmata, Nai Manuel, di Situngkir III, Parbaba. Mereka sudah dikaruniai dua putri, Marthauli dan Nai Parulian, serta mengangkat Manuel dari keluarga dekat. Manuel baik dan berbakti, tapi secara adat ia tetap meneruskan marga ayah kandungnya. Kerinduan Amanuel dan Nai Manuel akan “penerus api tungku” belum padam.
Maka ketika 6 September 1944 Nai Manuel melahirkan bayi laki-laki, tangis itu jadi tangis syukur. Amanuel memeluk anaknya erat. Semangat hidupnya berlipat. Anak itu diberi nama Martua, yang artinya “yang diberkati”. Nama itu bukan sekadar doa, tapi pengakuan: inilah penerus keturunan Situngkir.
Kenangan pertama Martua tentang kasih ayahnya lahir dari rutinitas seorang marjaja, pedagang keliling. Amanuel menjual dagangannya ke perkebunan-perkebunan di Simalungun. Ia berangkat mengikuti jadwal gaji karyawan: berangkat tanggal 3-5, pulang tanggal 14; berangkat lagi tanggal 17-18, pulang tanggal 29. Ritme itu berulang setiap bulan.
Di sela perjalanan itulah manja seorang ayah tercurah. Setiap pulang, Amanuel selalu membawa cerita, membawa oleh-oleh, membawa tawa untuk anak lelaki yang lama ia nantikan. Di bawah atap seng Ruma Seng, Martua kecil belajar bahwa kerja keras dan kasih sayang bisa berjalan bersama. Ayahnya mungkin sering pergi, tapi setiap kepulangannya selalu merayakan Martua.
Masa kecil Martua bukan masa kecil mewah. Ia tumbuh di desa tepi Danau Toba, di tengah masyarakat satu ompung, dengan kaki telanjang dan angin danau. Tapi ia tumbuh dalam keyakinan: ia anak yang dinanti, anak yang diberkati, anak yang dipikul tanggung jawab besar sejak lahir.
Dari sanalah karakter “tidak lupa kulitnya” ditempa. Seorang anak yang tahu betapa mahalnya penantian orangtuanya, betapa berharganya sebuah nama “Martua”, dan betapa dalamnya arti pulang ke Situngkir III.
