Arkeolog Lapangan yang Turun ke Garis Kemanusiaan

suaratapian.com-Beberapa waktu lalu, Jhohannes “Joe” Marbun, MA, Ketua Umum Cakra Satya 08, duduk sebagai penanggap dalam sebuah diskusi di HKBP Sudirman Jakarta. Narasumber utama malam itu: Togarma Naibaho. Acara selesai, tapi Joe belum selesai bicara. Kali ini untuk satu hal yang jarang dilakukan pejabat organisasi: mempromosikan buku. “Ini buku yang bernilai akademik. Selamat kepada Togarma Naibaho. Ini buku yang bernilai akademik berkaitan dengan Sohot pernikahan adat Batak dan juga rumah Batak. Hasil skripsi tahun 79, kemudian berkembang menjadi sebuah buku.”

Joe tidak menyebutnya sekadar buku adat. Ia menyebutnya arsip budaya. Karena di dalamnya, kata Joe, “menceritakan tentang asal-usul ataupun sejarah rumah Batak termasuk di dalamnya sejarah kata.”

Budaya Dimulai dari Kata

“Jadi kalau ingin memahami budaya Batak berarti juga di harus mengenal asal-usul kata dari setiap yang diucapkan. Yang kemudian berkembang menjadi tradisi budaya di masyarakat Batak.”

Itu kalimat seorang arkeolog. Bagi Joe, rumah Batak bukan hanya kayu dan ukiran. Ia adalah teks. Sohot bukan hanya mahar. Ia adalah bahasa hukum adat. Dan untuk membacanya, kau harus pulang ke akar kata.

“Barangkali bagi Bapak Ibu sekalian yang tertarik mempelajari budaya Batak, untuk generasi muda maupun yang juga sudah generasi sepuh, silakan memiliki buku ini karena manfaatnya luar biasa.”

Di akhir, Joe tidak berpidato panjang. Ia menutup dengan rekomendasi yang jujur. Karena baginya, menjaga budaya Batak bukan dengan nostalgia, tapi dengan literasi.

Malam itu di HKBP Sudirman, seorang aktivis budaya mengingatkan satu hal: Sebelum kita membangun rumah, pahami dulu arti dari setiap tiang dan setiap kata yang menopangnya.

Joe Marbun lahir di Pekanbaru, 7 November 1980. Dari kelas SDN 013 Tandun, Ujung Batu hingga Arkeologi Budaya UGM 1999–2006, ia belajar satu hal: peradaban tidak ada artinya tanpa manusia yang hidup di dalamnya. Karena itu ia tidak pernah berhenti di museum. Ia arkeolog yang lebih sibuk menggali manusia daripada tanah.

Tahun 2006, gempa Bantul dan erupsi Merapi memanggilnya. Sebagai Community Organizer YEU & CD Bethesda, ia mendampingi pengungsi, mengadvokasi hak-hak korban, dan membangun jaringan di dua dusun Bantul. Setahun kemudian, ia ke Nias sebagai Koordinator PELKESI untuk merekonstruksi layanan kesehatan pascabencana.

Dari reruntuhan, ia pindah ke kebijakan. Tahun 2008–2013, ia mendirikan dan memimpin LeTAK Jakarta, lembaga advokasi kesehatan publik. Sebelumnya, ia merintis LKAK Sekarwangi Yogyakarta untuk isu HIV/AIDS dan konseling.

Di sisi organisasi, namanya menempel di PARKINDO DIY, GAMKI DIY, Forasmatruma, hingga GMKI. Ia bukan penonton. Ia pendiri, sekretaris, dan penggerak.

Bekalnya: ratusan pelatihan dari PRA, Sphere, CBDRM, Community Organizing, hingga Advokasi Kebijakan Publik. Ia juga fasilitator. Berpikir konseptual, analitis, dan fasih berbahasa Inggris.

Hobinya sederhana: travelling, bernyanyi, membaca, olahraga, dan berorganisasi. Karena bagi Joe, hidup harus digali, dinyanyikan, dan diperjuangkan.

Jhohannes “Joe” Marbun Lumban Gaol ini juga terjun ke politik. Dia menjadi Ketua Umum Cakra Satya 08 untuk mendukung Prabowo Subianto jadi presiden. Berhasil. Di balik gelar Ahli Arkeologi dan rekam jejak advokasi kesehatan nasional, ada satu amanah yang kini ia emban.

Jabatan itu bukan sekadar nama di kop surat. Bagi Joe Marbun, Cakra Satya 08 adalah ruang baru untuk menerjemahkan ilmunya: membaca jejak sejarah, lalu mengubahnya menjadi kebijakan dan aksi hari ini.

Cakra Satya 08 di bawah nakhodanya bukan hanya organisasi. Ia menjadi wadah tempat gagasan budaya, kebijakan publik, dan gerakan kemanusiaan bertemu.

Karena bagi Joe, memimpin bukan soal berdiri di depan. Memimpin adalah menggali masalah sampai ke akarnya, lalu membangun solusinya bersama.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + eighteen =