Ketika Gen Z Memilih Menciptakan Kesempatan, Bukan Menunggu

JAKARTA suaratapian. cilom-Label “generasi stroberi” kerap disematkan pada Gen Z: mudah layu, rapuh, dan menuntut untuk terus dipenuhi. Namun di tengah narasi itu, muncul sosok yang justru berjalan berlawanan arah.

Namanya Jason Mcbquin. Usia 23 tahun. Lulusan Aerospace Engineering ITB. Dan ia sedang menulis ulang definisi anak muda hari ini.

Rekam jejak Jason tidak dimulai saat wisuda. Pada usia 14 tahun, ia sudah menamatkan Sekolah Diplomat Dino Pati Jalal. Di usia yang sama, kebanyakan remaja masih mencari jati diri, Jason sudah belajar berdiplomasi.

Minatnya pada isu global membawanya aktif di Model United Nations tingkat internasional. Ia pernah berdiri dan berbicara di berbagai forum, termasuk di Jenewa. Panggung-panggung itu tidak membuatnya besar kepala. Justru sebaliknya, membuatnya haus untuk berbagi.

Jika kebanyakan anak muda mencari satu pekerjaan tetap, Jason memilih tiga. Pagi, ia duduk sebagai konsultan di industri F&B. Siang, ia turun ke lapangan sebagai tenaga marketing.
Malam, ia menjadi mentor. Membuka kelas coaching untuk adik-adik yang ingin bertanding di Model United Nations.

Di luar itu, ia aktif di Rotary International dan Asosiasi Penjualan. Baginya, kantor bukan satu-satunya ruang belajar. Komunitas adalah kampus kedua.

“Berada di lingkungan yang membuat anak muda merasa perlu belajar” kalimat itu yang ia pegang untuk terus memperluas jaringan dan kapasitas diri.

Terbaru, Jason ikut dalam Pemilihan Abang None Jakarta. Ia sempat bertengger di posisi Top 1 sebelum akhirnya tergeser.

Tapi baginya, kontes itu bukan soal mahkota. Ini laboratorium. Tempat menguji kemampuan berkompetisi secara sehat, public speaking, sekaligus memperdalam akar budaya Betawi dan Indonesia.

Visi yang ia bawa sederhana, tapi bertentangan dengan arus: anak muda tidak boleh menunggu kesempatan. Harus kreatif menciptakan kesempatan.

Satu hal lain yang ia gaungkan adalah literasi finansial sejak dini. Menurut Jason, anak muda Indonesia hanya akan mampu bersaing di kancah global jika punya dua hal: keberanian berkarya dan kemandirian ekonomi.

“Jason adalah bukti bahwa Gen Z tidak mental stroberi,” ujar salah satu pengamat muda. “Di tengah krisis global, ia memilih produktif, bukan mengeluh.”

Dengan latar pendidikan teknik, pengalaman diplomatik, jejaring komunitas, dan kepedulian sosial-budaya, Jason merepresentasikan sosok Abang Selatan ideal: cerdas, berjejaring, berbudaya, dan bekerja.

Di usia 23, ia belum selesai. Tapi satu hal sudah pasti: Indonesia membutuhkan lebih banyak Jason. Anak muda yang tidak menunggu panggung, tapi membangun panggungnya sendiri. (Hotman)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − one =