Emansipasi Simalungun dan ‘Herstory’ dari Tiga Ompung Boru

Oleh: Chris Poerba

“Bagi saya hanya ada dua bangsawan, bangsawan jiwa dan budi. Bagi saya tak ada yg lebih gila daripada orang membanggakan gelar kebangsawanannya” (Surat Kartini).

suaratapian.comPada sebuah kesempatan, saya mendapat foto yang berkesan. Ketiga Ompungboru (nenek) saya dalam satu frame. Sangat jarang saya menemukan foto seperti ini, termasuk melihat ibu dari nenek saya sendiri, nenek buyut, bahasa kita sehari-hari. Melihatnya, terpikir membuat tulisan ini. Tampak pada foto adalah upacara pentahbisan dari Ompung Minaria sebagai pendeta, bersalaman dengan kakak perempuannya, Ompung Alina dan ibunya Ompung buyut Katarina Purba Sigumonrong. Inilah ‘herstory’ dari keluarga saya.

Ompung boru Pendeta (Pendeta Minaria Saragih Sumbayak). Beliau adik kandung dari Tua (nenek kandung) saya. Ompung pendeta mendaftar kuliah Teologi di STT Jakarta tanpa testing, katanya, dulu kampus masih belum di Proklamasi. Setelah lulus kembali ke GKPS menjadi Pimpinan Departemen Perempuan dan Pimpinan Sekolah Minggu GKPS. Ompung Minaria melayani HKBP, setelah menikah dengan sesama pendeta, pendeta Sihite yang menjadi dosen di Kampus HKBP Pematang Siantar. Dan setelah menunggu 27 tahun, Ompung akhirnya ditahbiskan menjadi pendeta. Pada biografi yang ditulisnya Ompung Pendeta menuliskan: ‘September 1986: Ditahbiskan menjadi pendeta HKBP. Sesuatu yang sudah saya tunggu selama 27 tahun’. Pendeta perempuan pertama HKBP.

Ompung dikenal di HKBP Rawamangun, beliau mendirikan Inang Naomi, sebuah perkumpulan inang-inang, atau ibu-ibu yang telah ditinggal pergi oleh suaminya. Kalau saya sedang ibadah di HKBP Rawamangun, ketika saya mendengar suara koor Inang Naomi, saya langsung teringat Ompung Minaria. Suatu ketika ternyata Ompung yang khotbah di HKBP Rawamangun, setelah salaman di pintu keluar, saya menghampirinya ke konsistori. Pada kutipan dari sebuah buku, seorang penulis menuliskan tentang Ompung Pendeta, seperti ini: ‘Ia biasa-biasa saja. Memang dia seorang pendeta perempuan pertama di HKBP, sesuatu banget kan, tapi pada dasarnya ia biasa-biasa saja. Justru karena biasa-biasa saja itu dia menjadi istimewa. Ia bukan Kartini, juga bukan Nawal El Shadawi, feminis Timur Tengah. Ia Minaria anak pendeta, dan istri dari seorang pendeta.’ Tahun 2021, Ompung pendeta telah berpulang, tepatnya 11 Maret 2021, pada usia 93 Tahun. Ompung terakhir saya, sekarang sudah tak ada ompung lagi…

Tua Alina (Alina Saragih Sumbayak), kami menyebutnya dengan kata Tua. Beliau nenek kandung saya. Menikah dengan Loedwyk Purba, kakek kandung saya. Oleh karenanya, saya mengenakan marga Purba Pakpak, secara patrilineal. Salah satu marga dari klan Purba Pakpak yang sekarang pusat kerajaannya di Kecamatan Pematang Purba (Kabupaten Simalungun). Saat ini, hanya di Pematang Purba masih terdapat rumah bolon (istana kerajaan) yang masih tersisa. Rumah bolon lainnya, di kecamatan lain sudah dibumihanguskan pada peristiwa “Revolusi Sosial di Sumatera Timur (Simalungun)”. Saya menggunakan tanda “kutip” pada “revolusi sosial”, karena tragedi ini masih dipertanyakan apakah revolusi? Atau bukan. Ada kesamaan antara Tua Alina (nenek saya) dengan Ompung Minaria. Keduanya mendirikan perkumpulan para perempuan yg telah ditinggal pergi oleh suaminya. Semacam women crisis centre di jaman sekarang. Kalau Ompung Minaria dengan Inang Naomi (HKBP Rawamangun), sedang Tua Alina dengan perkumpulan Inang Debora (GKPS Pematang Siantar).

Ketika tinggal di Kuala Tanjung, setiap akhir pekan, sedapat mungkin ke Pematang Siantar, mengunjungi rumah Ompung dan Tua. Sampai di sana, rumah Tua sangat ramai, karena akhir pekan adalah waktu berkumpul Inang-Inang Debora. Ada yang lagi memasak, mengobrol, arisan dan persiapan latihan koor di gereja hari Minggu. Di perkumpulan Inang Debora semuanya adalah perempuan yang telah tinggal sendiri. Ada yang telah ditinggal meninggal suaminya. Ada yang suaminya merantau tak jelas lagi rimbanya. Suami lainnya, ada yang sudah ketahuan ternyata kawin lagi. Tua menghimpun mereka semua dalam Inang Debora. Hampir separuh hidupnya, Tua bersama Inang Debora. Mengajak Inang Debora ikut koor di acara lain. Kesamaan lainnya, kedua nenek ini memilih tidak ditindik telinganya, menurut bapaknya, Kristen tidak mengharuskannya. Pilihan diberikan kepada putri perempuannya sendiri.

Semasa masih sekolah, Tua pernah meminta saya untuk menanyakan kepada guru agama, “Mengapa murid Yesus tidak ada yang perempuan?” Saya pun menanyakannya. Guru perempuan itu kaget, sedangkan teman sekelas menertawakan. Kelas menjadi riuh. Apa yang salah dengan pertanyaan saya? Waktu itu saya sekolah di SD Kristen Pringadi, Surabaya.

Ompung boru buyut (Katarina Saragih Purba Sigumonrong). Ibu kandung keduanya, dari Tua Alina dan Ompung Minaria. Sedikitpun saya tak terbersit ada kenangan dengannya. Wajarlah, ketika saya lahir, beliau telah berpulang. Namun namanya tertulis di buku-buku teologi, sekitar kisah sejarah Kristen di Nusantara, terutama ketika menikah dengan Ompung Gereja. Perannya sangat sentral, terutama ketika suaminya meninggalkan jabatannya sebagai Panghulu Balei di Pematang Siantar, supaya lebih fokus dalam memajukan kesetaraan di Simalungun.

Tua Alina, nenek saya sendiri pernah bilang, ketika ayahnya meninggalkan jabatan tesebut, masa-masa keluarga mengalami kesulitan. Dulunya menerima gaji, sekarang tidak lagi. Kata nenek saya, dia dulu pergi dan pulang sekolah dengan kendaraan seperti delman, namun ditarik oleh manusia yang didatangkan dari Tionghoa daratan dan India. Namun ayahnya tidak menyukainya dan menganggapnya sebagai kendaraan yang tidak manusiawi. Setelah ayahnya menanggalkan jabatannya, maka Tua pun berjalan kaki pulang pergi ke sekolah. Yang lokasinya sangat berjauhan.

Pada masa-masa penuh kesulitan inilah terdapat pembagian peran gender di keluarga ini. Seperti yang diceritakan almarhum bapak kepada saya, “Ompung laki aku panggil Ompung Gereja, karena kerjanya selalu ke gereja. Sedang ompung perempuan dipanggil dengan Ompung Juma, karena selalu ke ladang.” Juma adalah ladang atau kebun. Pada masa ini, maka Ompung Katarina-lah yang memberi makan dalam artian sebenarnya. Keluarga ini mesti menghemat, menanam sayuran di kebun untuk makan sehari-hari. Sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Saya sendiri menyematkannya beliau sebagai ‘Godmother’ dari keluarga ini.

Namun pembagian gender ini pun ternyata ‘cair’. Nenek saya mengisahkan, dia digendong ibunya bersama bapaknya, mengunjungi rumah-rumah yang saling berjauhan di kampung. Kala itu awal mula pembukaan sekolah sore untuk perempuan. Mereka bertiga berjalan dari kampung ke kampung untuk meyakinkan keluarga di setiap kampung, agar putri perempuan mereka juga diijinkan masuk sekolah. Pernah ada keluarga yang hanya mengijinkan anak lelakinya saja yang masuk sekolah. Kata nenek saya, bapaknya marah, dan meminta putri mereka juga masuk sekolah. Katarina dan Wismar menjadi model untuk berbagi peran dan berperan bersama. Nilai-nilai kesetaraan diturunkan dari mereka berdua..

Nama Ompung Gereja yang tertulis di kalimat sebelumnya adalah nama gelar dari Djaulung Wismar Saragih Sumbayak. Almarhum bapak saya, sebagai cucu tertua, yang ‘menggelarinya’ dengan Ompung Gereja. Jaulung nama Simalungunnya, Wismar nama baptisnya. Wismar, pada arus utama, telah dikenal sebagai: Misionaris lokal- pribumi, pendiri Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Sebuah gereja dengan konsep “Kristen Nusantara” yang tahun 2021 ini akan berusia 118 tahun. Gereja yang berusia lebih tua ketimbang republik ini berdiri. Hal ini dihitung dari September 1903, yang kami kenang sebagai masuknya Injil di Tanah Simalungun.

Wismar mempertemukan kekristenan dan budaya secara inklusif: Kristen Nusantara. Tidak perlu kebarat-baratan, pakai peci ke gereja. Injil yang inkulturasi dengan kebudayaan Simalungun, bukan kekristenan yang menjadi bulldozer bagi kebudayaan lokal. Wismar pun dikenal sebagai orang Nusantara pertama penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Nusantara (Simalungun). Disematkan kepadanya sebagai ‘Martin Luther Simalungun’. Museum Alkitab Indonesia di bilangan jalan Salemba menuliskannya. Menganjurkan agar ibadah ke gereja mengenakan busana dan kesenian asli Simalungun, padahal sesuatu yang dilarang zending Jerman, kala itu. Selain itu dia menerbitkan majalah pertama, menyusun kamus bahasa Simalungun. Diterima banyak pihak tanpa sekat lintas agama, marga, status di Simalungun.

Pada tanggal 23 Desember 1945, tanggal yang sama ketika saya dilahirkan, Wismar memimpin orang-orang di Simalungun untuk mendukung kemerdekaan Indonesia yang telah dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta. Semua narasi utama ini telah tercatat. Namun, kita pun perlu membangun narasi yang lain. Narasi pinggiran yang jarang dibicarakan. Pada bukunya “Marsinalsal” kita akan mendapati kiprahnya Wismar pada emansipasi kesetaraan terhadap perempuan. Wismar, merintis sekolah perempuan, merumuskan konsep kesetaraan gender di rumah tangga, pernikahan yang monogami dan perempuan pun mendapat hak warisan yang sama dengan lelaki. Semua ini menurutnya, pada masa itu dianggap tidak bersesuaian dengan adat. Namun Kristen membolehkan. Wismar menyatakannya untuk Tuhan dan kemanusiaan.

Pada perayaan Natal keluarga 2019, Pdt. Padmono yang menyampaikan khotbah (penulis novel sejarah Wismar: ‘Rasul Simalungun’). Menurutnya, Wismar bukan hanya dikenal sebagai orang Nusantara pertama penerjemah Alkitab Perjanjian Baru. Melainkan juga memajukan bangsanya melalui pendidikan. Pendeta ini menyampaikan data sejarah, bahwa sampai sekitar tahun 1900, jumlah murid di sekolahnya sebanyak 700 orang, padahal orang Kristen di Simalungun baru sekitar 100 orang. Jadi menurutnya, karya Wismar sudah melampaui sekat agama. Wismar sebagai pendeta, misionaris pribumi, penerjemah, penasehat pemerintahan, perintis sekolah perempuan. Menurut Padmo, hal ini seperti yang dilakukan Kartini dan Dewi Sartika. Ada buku kecil yang ditulis oleh Wismar yang juga sering terlewatkan oleh banyak orang: “Portama I Tonga Jabu”. Buku kecil sekitar 50 halaman ini memuat tentang peran gender, suami dan isteri berbagi peran di rumah tangga. Namun seringkali semua kisah-kisah pinggiran ini, terlewat atau dibaca sepintas lalu.

Sama halnya peran Katarina yang seperti ‘tenggelam’ padahal sangat penting ketika keluarga ini mengalami masa-masa kesulitan. Demikian juga peran Wismar sebagai perintis sekolah perempuan dan konsep keadilan gender lainnya yang sering terlupakan. Atau mungkin karena beliau seorang lelaki dan pendeta? Sehingga sering terlewat pada bacaan emansipasi perempuan. Atau memang kisah-kisah seperti emansipasi perempuan memang selalu senyap. Namun sekarang, setiap bulan April, bagi saya, ada perayaan yang cukup personal, mengenang ‘herstory’ dari ketiga ompung boru. Agar setiap manusia yang pernah diabaikan mendapatkan pembebasan dan persamaan hak pada setiap kehidupan di masyarakat. Emansipasi di Simalungun.

Selamat hari emansipasi.

Jakarta, 21 April 2021, 00:26

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.