Kritik Film BPODT “Harta Tahta Boru Ni Raja”
Film ini mengisahkan seorang mahasiswa memperjuangkan skripsinya, dia mau menyelesaikan sarjananya. Dua kali judul skripsinya ditolak, oleh teman-temannya menyarankan untuk segera menyelesaikan kuliah dengan mencari judul yang mudah diteliti, maka sampai pada diskusi judul yang bisa diteliti pahlawan revolusi di tanah Batak karena si mahasiswa orang Batak.
Pemeran utama yang dinamai Jerry Panjaitan yang lebih suka menamai dirinya Jerry Tan karena malu pakai marga. Judul skripsi pun dinarasikan ulang meneliti tentang sosok Pahlawan Revolusi D.I Panjaitan. Kira-kira judulnya Peranan D.I Panjaitan Dalam Penegakan Pancasila di Indonesia. Dan judul pun disetujui pihak kampus.
Oleh karena penelitian lapangannya harus pergi ke Toba, di Kabupaten Toba di mana D.I Panjaitan atau Donald Isak Panjaitan Pahlawan Revolusi itu lahir, di sana ada museum yang menceritakan siapa D.I Panjaitan. Maka si Jerry Tan meneliti ke Toba bersama tiga sahabatnya.
Sebelumnya Jerry Tan telah berkontak melalui email dengan seorang penyiar radio, awalnya dikira bukan perempuan ternyata perempuan dan masih adik kelasnya, yang juga mengetahui tentang D.I Panjaitan. Si gadis ini nanti semacam gaet, penyambung narasumber dari si mahasiswa untuk meneliti siapa D.I Panjaitan.
Dalam ceritanya memang ada cerita bahwa si anak muda ini kemudian jatuh cinta pada si perempuan, yang selama dalam penelitian di lapangan dia terbantu, dan barangkali itulah mendasari muncul kata Boru Ni Raja. Tetapi apa makna Tahta dan Harta dalam film ini tak jelas!
Dari judul mari kita dikritisi. Judulnya Harta Tahta Boru Ni Raja. Saya kira secara nalar, narasi tidak menjual, tidak mempromosikan Danau Toba, tidak mengena. Maka perlu ditanya, apa dasar dari pembuat judul itu, harus begitu, judul filmnya tidak menarik sama sekali.
Lalu dalam cerita itu yang mulai membuat gerah menonton, sebagai penonton kita tak ada melihat pemandangan-pemandangan Danau Toba dari delapan kabupaten, padahal film BPODT.
Dalam cerita film itu tidak menunjukkan kawasan Danau Toba secara utuh dari delapan kawasan Danau Toba. Semua penyutingan filim ada di Kabupaten Toba, yang lucunya lagi nanti lebih banyak menceritakan Institute Dell, kita tahu didirikan seorang orang hebat, Luhut Binsar Panjaitan.
Nanti radionya juga radio Del, yang di mana perempuan dan anak muda itu juga sering bertemu di studio yang dibagun Luhut Panjaitan. Sebagai penonton kita dibuatnya mulai gerak, karena ketika muncul direktur utamanya dalam shoot film itu; Jimmy Panjaitan. Memang tidak disebutkan, namanya dalam film itu, tetapi muncul untuk menunjukan memang dialah yang membiaya film dan memang, bukan hanya dia muncul ada pejabat menengah di BPODT, saya kenal Nelson Lumbantoruan, cuma perannya hanya menjelaskan tentang siapa D. I Panjaitan.
Film ini tak memberi edukasi yang dalam soal Danau Toba, mengapa hanya enggel-enggel kawasan di satu kabupaten saja disorot? Lagi, mengingat sponsornya adalah BPODT, yang kita tahu fungsi dan tugas utamanya mengkoordinasi semua kawasan Danau Toba, agar kawasan ini benar-benar menjadi kawasan yang maju pesat.
Tetapi tidak muncul karena lagi-lagi yang membuat miris mengapa, hanya Kabupaten Toba yang disorot. Di mana Kabupaten Simalungun? Di mana Kabupaten Karo? Di mana Pakpak di mana Tapanuli di mana Humbang dan Samosir? Tidak muncul dalam film ini.
Lucunya, lagi pemeran utama ini bermarga Panjaitan yang diteliti D.I Panjaitan sampai disini tak apalah. Lalu, enggel-enggel yang banyak disorot itu tempat-tempat Del yang kebetulan dibangun oleh Panjaitan. Lalu yang muncul atau mensponsori film ini adalah BPODT Jimmy Panjaitan.
Jadinya film ini seperti film tentang satu marga saja. Kita berharap film ini menjadi ajang marketing, mempromosikan Danau Toba menyeluruh, karena memang sejak awal diniatkan untuk mempromosikan Danau Toba, tetapi nyatanya tak ada terlihat kepekaan itu. (Hojot Marluga)
