Pomparan Raja Palahuta Manurung Lumban Huala, Sipinggan, Parmaksian Se-Jabodetabek Gelar Pesta Partangiangan Akbar di Cililitan

suaratapian.com-Pomparan Raja Palahuta Manurung Lumban Huala, Sipinggan, Parmaksian Se-Jabodetabek menggelar Pesta Partangiangan akbar yang berlangsung penuh sukacita dan kekeluargaan. Acara yang menjadi agenda rutin persatuan marga ini dipusatkan di Gedung Gorga 4, Jalan Mandala V No. 38, Cililitan, Jakarta Timur, pada Minggu, 4 Oktober 2026, dan dihadiri 700-an pomparan dari berbagai wilayah Jabodetabek. Rangkaian acara diawali dengan kebaktian yang khidmat. Ibadah mengusung tema sentral “Kenanglah Kasih Sebagai Pengikat yang Mempersatukan dan Menyempurnakan” yang diambil dari Kolose 3:14. Suasana ibadah semakin semarak dengan penampilan Koor Pomparan Raja Palahuta Manurung yang membawakan pujian dengan penuh penghayatan.

Firman Tuhan dalam kebaktian tersebut disampaikan oleh Pengkhotbah Pdt. Maulinus Siregar, M.Th. Dalam khotbahnya, Pdt. Maulinus menekankan bahwa kasih adalah pengikat sejati yang menyempurnakan persatuan. “Kasih itu betul-betul mengikat dan menyempurnakan, menyatukan pikiran dan hati kita sehingga kita merasa bahwa sukacita kita itu tidak dapat dibeli oleh apapun kecuali oleh Allah Kristus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pdt. Maulinus menjelaskan, bahwa kesatuan hanya bisa tercapai jika kasih menjadi fondasi utama. Menurutnya, operasionalisasi kasih dalam kehidupan sehari-hari harus diwujudkan dalam sikap sabar, murah hati, tidak cemburu, dan tidak sombong. Dengan kesabaran hati yang mampu mengerem amarah dan komentar negatif, terutama kepada orang-orang terdekat, maka persatuan itu akan terawat dan mekar menjadi berkat bagi banyak orang.

Setelah ibadah kerohanian, acara dilanjutkan dengan sesi liturgis dan sambutan-sambutan. Ketua Panitia Pesta, St. Ronald P. Manurung, SE, dalam sambutannya menyampaikan selamat datang dan selamat hari Minggu kepada seluruh pomparan. “Marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas segala anugerah, kasih, penyertaan, dan berkat-Nya, sehingga pada hari ini kita masih diberikan kesempatan, kesehatan, dan sukacita,” kata Ronald.

Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk memanfaatkan momen partangiangan ini dengan hati yang tulus, murni, dan rendah hati. “Sejenak kita tinggalkan segala kesibukan, persoalan, dan pergumulan yang ada dalam kehidupan kita. Mari kita menenangkan hati dan pikiran. Kiranya melalui ibadah Partangiangan ini, iman kita semakin diteguhkan dan kasih persaudaraan di antara kita sebagai Pomparan ni Opputta Raja Palahuta Manurung semakin erat,” tambahnya.

Acara kemudian memasuki agenda utama organisasi, yakni Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Lama Periode 2022-2026 yang disampaikan oleh Drs. Dalen Manurung. Dalam laporannya, Dalen memaparkan capaian-capaian program kerja, kegiatan sosial, dan partangiangan selama empat tahun masa bakti. Doa syafaat dalam sesi ini dipimpin oleh St. DR. Laurensius Manurung, SE., MM., yang mendoakan kesehatan dan kemajuan pomparan.

Puncak acara ditandai dengan proses pengukuhan dan pelantikan Pengurus Baru Periode 2026-2030. Kepengurusan baru ini diharapkan mampu membawa semangat baru dalam menjaga soliditas marga. Adapun susunan inti pengurus yang dikukuhkan adalah Ketua Umum Dalen Manurung, Ketua Harian St. Ronald P. Manurung, Sekretaris St. Ronny P. Manurung dan Dino J. Manurung, serta Bendahara. Prosesi ini disambut dengan tortor bersama oleh panitia, pengurus, dan para penasehat sebagai simbol restu dan dukungan.

Semangat kebersamaan semakin terasa dalam sesi tortor adat yang menjadi ciri khas pesta orang Batak. Secara bergantian, tortor dipersembahkan mulai dari Tortor Haha Doli dohot Anggi Doli, Tortor Banjar Batu dan Banjar Ganjang, Tortor Lumban Lintong, Lumban Nabolon, Sosor Nabolon, hingga Tortor Anak-anak yang tampil lucu dan menggemaskan.

Rangkaian tortor berlanjut dengan Tortor Sosor Sangapan dan Maria Janji, Tortor Lumban Tonga-tonga, Tortor Remaja dan Naposo, Tortor Lumban Latong, Lumban Binanga, Lumban Manurung, hingga Tortor Keluarga Muda dengan usia pernikahan di bawah 10 tahun. Setiap kelompok marga tampil dengan ulos dan semangat yang menunjukkan identitas dan kebanggaan sebagai pomparan Raja Palahuta.

Menjelang penutupan, acara diisi dengan hiburan, pembagian Grand Prize, dan doa penutup. Seluruh hadirin kemudian berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Batak “O Tano Batak” dengan penuh haru dan kebanggaan, sebagai penutup sempurna dari sebuah pesta partangiangan yang tidak hanya mempersatukan marga, tetapi juga meneguhkan iman dan kasih sesuai dengan tema Kolose 3:14.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − 5 =