Resensi: 77 Cerita Tentang Cinta; Surat dari Hati
Rumah yang Bernama Cinta
Buku 72 halaman ini bukan tumpukan kertas. Ia adalah perjalanan. Perjalanan menelusuri sungai cinta dari hulunya yang jauh dari dongeng yang dulu dibisikkan ibu di samping ranjang, dari mitos yang tidur di lipatan kain nenek hingga ke muara yang paling kini: kisah-kisah yang tak sempat ditulis sejarah, tapi diam-diam tercetak di lipatan hati sehari-hari. Di halte yang sepi. Di dapur yang berasap. Di doa yang tak pernah sampai.
“77 Cerita Tentang Cinta’ tak datang dengan tongkat guru. Ia datang sebagai teman seperjalanan. Duduk di sampingmu, tanpa menghakimi. Ia hanya membisik: bahwa setiap kisah, sekecil biji sawi, sesunyi makam malam, menyimpan keajaiban. Layak dikenang. Layak diceritakan ulang agar tak mati.
Jika hatimu pernah patah seperti kaca yang jatuh di ubin. Jika jiwamu pernah tersesat seperti anak hilang yang lupa jalan pulang. Jika senyummu pernah bersembunyi di balik tirai kecewa maka bukalah halaman ini. Satu demi satu. Pelan-pelan saja.
Semoga satu dari tujuh puluh tujuh pintu itu adalah pintumu. Semoga satu dari tujuh puluh tujuh cerita itu menemukan tempat pulangnya di dadamu. Lalu kau sadar: cinta tidak pernah mati. Ia hanya lelah, lalu tertidur. Menunggu kau bangunkan kembali.
Dan siapa yang menulis semua ini? Danang Priyadi. Orang-orang memanggilnya “The King of Active Selling”, “Role Model Salesmanship”. Di ruang-ruang training, dari Sabang sampai Merauke, ia melatih ribuan jiwa untuk berani menawarkan hidup. Ia Theocentric Motivator, sebab kompasnya menunjuk ke langit. Ia direktur, entrepreneur, nahkoda PT. Hanna Kurnia Travel.
Tapi dalam narasi buku ini, ia menanggalkan semua gelar itu. Ia kembali jadi anak kecil. Seorang pendongeng. Karena ia tahu: manusia bisa kenyang oleh angka, tapi hanya bisa sembuh oleh cerita.
Dulu ia menjual buku di Gramedia. Kini ia menjual harapan di mana-mana. Dan buku ini adalah bukti: bahwa cinta, ketika ditulis dengan darah pengabdian, akan selalu menemukan pembacanya.
Maka bacalah. Sebab mungkin, cerita yang kau cari selama ini, sesungguhnya sedang mencari dirimu. (Hojot Marluga)
