Resensi: 77 Cerita Tentang Cinta; Surat dari Hati

Penjual Makna di Pasar Kehidupan

Ada manusia yang hidup sekadar mengisi ruang. Ada yang hidup untuk menanam makna. Danang Priyadi memilih yang kedua. Ia menjadikan dirinya esensi, bukan aksesori di panggung dunia.

Maka buku ini, “77 Cerita Tentang Cinta”, perlu kita baca. Bukan karena aku pandai menjual kata. Aku justru penjual yang payah. Penjual sejati adalah dia, penulisnya sendiri.

Sebab bukunya bestseller. Sudah tujuh atau bahkan sudah sepuluh judul ia lahirkan. Hampir semuanya laku, disambut, dirayakan. Barangkali karena puluhan tahun ia hidup di antara rak-rak Gramedia. Ia kenal bau kertas, ia hafal detak nadi pembaca. Ia tahu buku mana yang dibeli karena luka, buku mana yang dicari karena rindu.

Tapi rahasianya bukan itu saja. Bagi Danang, menjual bukan soal menghilangkan barang dari gudang. Menjual adalah pelayanan. Ia tak pernah menaruh buku di tangan orang dengan transaksi. Ia menaruhnya dengan doa: semoga halaman ini menyembuhkanmu.

Dulu ia manajer toko buku. Kini ia manajer jiwa-jiwa yang lelah. Dulu ia menghitung omzet, kini ia menghitung berapa hati yang kembali menyala setelah membaca tulisannya.

Ia menanam makna dengan diam-diam. Di penjara, di gereja, di jalanan. Ia tak berdagang. Ia melayani. Sebab ia paham: buku yang lahir dari peluh pengabdian, tak perlu spanduk. Ia akan menemukan pembacanya sendiri.

Danang Priyadi telah membuktikan satu hal: penulis yang besar bukan yang pandai merangkai diksi, tapi yang berani merangkai hidupnya jadi teladan. Dan itu, tak ada di etalase mana pun. Hanya ada di manusia yang memilih menjadi makna.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × four =