Siasat Seniman Bertahan di Tengah Pandemi

Oleh: Drs. Djaendar J. Lumban Gaol, M.Si.

Seperti diketahui, wabah corona Covid-19 melanda dunia, semua sektor kegiatan mampet. Roda sumber perekonomian pun lumpuh. Tak ada bisnis yang tak berdampak dalam kondisi ini. Oleh karena itu, segala kegiatan menyangkut kemasyarakatan terhenti. Otomatis mata pencaharian masyarakat juga mandek. Anjuran pemerintah harus selalu berdiam dirumah. Stay at home. Hal ini dilakukan oleh pemerintah agar memutus mata rantai virus Covid-19.

Dapat diakui bahwa, covid-19 ini, semakin ganas. Tiap harinya bertambah yang terkena. Malah angka terakhir ini tembus diangka 200 ribuan kasus. Semua menderita. Semua serba sulit. Pihak pemerintah, sebebenarnya sudah melakukan yang terbaik bagi masyarakat. Memuat aturan guna menjaga berjangkitnya wabah corona ini. Mengapa demikian angka yang terkena corona begitu besar. Salah satunya masyarakat kita, kurangnya disiplin. Tak mematuhi aturan pemerintah, sesuai prokes, protokol kesehatan.

Penanganan Covid-19 harus tetap skala prioritas. Demikian Presiden RI Jokowi. Menuju adaptasi kebiasaan baru, pemerintah telah membuka kembali kegiatan seperti sediakala, namun pembatasan kapasitas tentunya, mengacu protokol kesehatan, antara lain menggunakan masker, jaga jarak. Gedung pertemuan diperbolehkan menampung hanya kapasitas 50 persen, termasuk tempat peribadatan.

Masyarakat terlihat memulai aktivitas barunya, para pekerja yang terkena PHK, perlahan kembali bekerja. Kebutuhan hidup sangatlah tinggi dan harus terpenuhi namun, kesehatan jauh lebih penting. Melihat sisi bisnis hiburan, juga mengalami hal yang sama. Keterpurukan sangat kental di bidang hiburan.

Saat ini, sudah menjelang penerapan transisi new normal. Ditilik dari sektor parwisata anjlok. Kunjungan wisatawan baik lokal maupun manca negara dipastikan tak ada yang berani dan takut berkunjung. Betul, banyak tempat hiburan, hotel dan tempat rekreasi lesu. Tempat wisata, bukan hanya Danau Toba saja yang sepi pengunjung, namun berbagai tempat wisata lainnya di Indonesia, kosong dan sepi, kering kerongtang. Kurun waktu setengah tahun ini atau selama pandemi corona, sègala bentuk kegiatan di bidang wisata stop.

Maka dari kejadian ini, menjelang dan menjalani masa adaptasi kebiasaan baru, sesuai aturan protokol kesehatan, Pemerintah telah membolehkan memulai kegiatan baru, pun bergegas perlahan. Adalah kepariwisataan dan hiburan mengalami nasib sama yaitu terpuruk. Hotel tutup. Karyawan mengurung. Semua tak berkutik. Akan tetapi, di saat sulit seperti sekarang ini, banyak ide kreatif, ide-ide jitu bermunculan. Katakanlah kegiatan Artis melahirkan live streaming hingga berepisode. Seminar seminar web (Webinar) dan lain-lain.

Dengan adanya kegiatan baru ini, maka tentu membantu urusan dapur. Menahan diri di rumah, itu paling baik memutus mata rantai virus corona. Jika keluar terpaksa, anjuran pemerintah, haruslah dilakukan. Dari kejadian yang mencekam seluruh dunia ini, kini memulai adaptasi menjelang kegiatan baru.

Hiburan

Seiring dengan kegiatan baru dunia keartisan mulai bergerak perlahan. Banyak artis kini bermunculan, baik artis ternama maupun pendatang baru. Kita dapat mengamati di media sosial seperti youtube. Di sana para seniman berlomba dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Kreativitas baru bersaing dsn berpeluang bagus. Tak ketinggalan, para artis ramai-ramai menggelar virtual.

Live streaming hampir setiap hari ada. Inilah kesempatan untuk menghibur masyarakat, sekaligus demi ngebulnya dapur, para seniman bisa menyentuh para penonton. Dan nyatanya memang, masyarakat juga sangat antusias, menerima kehadiran para seniman ini, ber kiprah lewat youtube.

Tentu di masa pandemi Covid-19, yang paling merasakan dampaknya adalah seniman. Tentu berbagai siasat untuk menghadapi situasi pun bermunculan. Artinya, bantuan untuk seniman akan membantu masyarakat bertahan di tengah pandemi, karena dihibur. Bukankah ada ungkapan yang mengatakan, “hati yang gembira adalah obat, semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Para seniman itu untuk mengajak masyarakat tetap gembiri. Walau pandemi virus corona memukul sebagian besar industri, tak terkecuali industri hiburan tak boleh membuat kita putus asah. Lalu, bagaimana siasat seniman bertransformasi, agar bisa tetap bertahan di tengah pandemi? Lantas bagaimana para pekerja? Apakah kembali di bekerja di rumah?

Ya. Mau tidak mau bekerja dari rumah. Para pengelola tempat hiburan dan wisata, perawatan hotel, tempat rekreasi yang bersinggungan dengan kepariwisataan harus terus adaptif terhadap perubahan yang ada. Tentu, pemerintah dalam hal ini, sudah berbuat dengan terobosan maksimal pun telah dilakukan, hingga penangkal virus atau vaksin. Akan tetapi, sampai saat ini belum menemukan hasilnya. Dengan merebaknya wabah ini, justru di sisi lain melahirkan kreatifitas baru. Dimana para seniman semakin menunjukkan keahliannya.

Seperti menciptakan lagu, membuat konser virtual, seminar online, termasuk didalamnya para pendidik, pengusaha, motivator mengisi webinar pariwisataan melibatkan pejabat yang berkompeten. Maka benar pula ungkapan, di tengah kristis pasti ada hal baru yang akan lahir, peluang baru yang muncul. Dengan demikian, walau banyak tantangan semisal wabah Covid-19 ini, tetaplah berkreasi dan melahirkan karya terbaik. Disiplin yang kuat dengan memperhatikan anjuran pemerintah protokol kesehatan maka, semua rintangan ini akan segera berlalu. Kegiatan pun akan berjalan seperti biasa dan perekonomian akan normal kembali.

Penulis adalah pemerhati seni, pencipta lagu

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.