Yayasan Komunikasi Indonesia Gelar Diskusi “Panggilan Kristen Dalam Perjuangan Demokrasi: “Tak Ada Demokrasi yang Ideal”

Bagi Dr Manuel, pengertian final tentang demokrasi sangat tergantung kepada konteks historis, konteks sosial konteks, dari setiap negara karena itu kita akan melihat bahwa demokrasi itu berbeda-beda, kita punya gambaran demokrasi ideal itu Amerika, Korea Utara juga menyebut dirinya Republik Demokratik Korea. “Jadi tidak ada definisi tunggal tentang demokrasi. Ia sangat tergantung kepada konteks sosial, konteks budaya, konteks historisnya, ” ujar putera pahlawan Nasional Frans Kaisiepo.

Suasana diskusi bertema “Panggilan Kristen Dalam Perjuangan Demokrasi” Releksi bertepatan HUT ke-79 Indonesia Merdeka.
Acara digelar Selasa, 20 Agustus 2024. Bertempat Yayasan Komunikasi Indonesia, Jalan Matraman Raya No. 10 A, Jakarta Timur.

Selesai pemaparan Dr Manuel, John Piter Nainggolan memberi sambutan mewakili Yayasan Komunikasi Indonesia menyebutkan, refleksi yang disampaikan Dr Manuel mengajak untuk merefleksi demokrasi. “Saya kira tentang bagaimana kita merenungkan demokrasi yang terjadi Indonesia akhir-akhir ini. Pembicara tak menyimpulkan, diberikan kepada saudara-saudara untuk memberikan kontribusi, kira-kira apa kesimpulan dari demokrasi yang anut. Kita renungkan, kita pikirkan dalam-dalam. Setiap tahun setiap ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Tentang demokrasi sudah disampaikan oleh kedua pembicara kita. Tadi sungguh sangat mendalam dan saya kira kita setuju, dan mudah-mudahan ke depan diskusi seperti ini akan sering kita lakukan karena yayasan hanya memfasilitasi adanya diskusi, bukan berpolitik praktis. Apakah kita masih yakin adanya kesimbangan antara eksekutif, yudikatif dan egislatif itu saudara-saudara bahas di waktu diskusi, ” sebut pengusaha ini.

Dr. Manuel Kaisiepo; Putera Pahlawan Nasional; Tak Ada Demokrasi Ideal, Hanya Ada Pada Teori

Selesai John Piter Nainggolan memberi sambutan, acara dilanjutkan diskusi yang dimoderatori Dr. Bernard Nainggolan memberi penjelasan tentang kedua pembicara. “Pendeta Albertus Patty ini tidak asing bagi kita, bahwa kriteria-kriteria yang disebut ini cocok sekali sama negara kita. Ada Mr Strong. Apa yang disebut itu, bagaimana Hitler mempraktikkan konstitusi menjadi alat untuk menekan lawan dan menjalankan demokrasi ala Hitler, ketika itu, menjadi sangat cocok untuk kita sekarang ini. Maka kita perlu diskusi kepada mereka berdua. Seandainya masih ada bang Sabam Sirait mungkin sangat senang karena Pak Manuel ini temannya bang Saham, mereka akrab ketika di LP3S. Beliau pernah menjadi wartawan, pernah jadi menteri,” ujar Ketua Umum Yayasan Komunikasi Indonesia, ini.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 3 =