Arsip Nasional Republik Indonesia Mengapresiasi Perjuangan Yayasan Warisan Tokoh Bangsa

Suaratapian.com-Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI berterima kasih atas perjuangan Yayasan Warisan Tokoh Bangsa yang dipimpin Binton Nadapdap,S.Sos.,M.M, menjaga dan merawat dokumen penting bangsa. Pemberian apresiasi itu digelarnya, Senin, 13 Maret 2023. Bertempat di kantor ANRI, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Arsip Nasional Republik Indonesia merupakan salah satu lembaga pemerintah nonkementerian.

Atas nama ANRI diwakili Kandar, Deputi Konservasi ANRI, didampingi Agus Santoso Direktur Konservasi ANRI. Hadir juga Agus Staf Khusus Wakil Menteri Dalam Negeri dan pejabat lainnya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Ketua Yayasan Warisan Tokoh Bangsa atau disingkat Wintoba.

Apresiasi itu diberikan kepada Binton karena kepeduliannya melestarikan warisan documenter yang pada hakekatnya mempunyai nilai berharga luar biasa, yang tak terhingga nilainya bagi pembangunan karakter bangsa. “Semangat untuk menarasikan dan menjaga dokumen yang dijadikan semangat pembangunan nasionalisme, patriotisme dan mengumpulkan bukti dokumen NKRI,” ujar Agus.

Selain itu, Binton sebagai pemerhati sejarah, pecinta dan kolektor yaitu; klise, film sejarah, foto sejarah, buku, lukisan, dokumen sejarah, uang kuno, dan prangko, ini dinilai sarat kepedulian dan konsisten dalam merawat. Bagi Binton hal itu sebagai bagian dari bukti sejarah yang harus dirawat untuk kelak didigitalisasikan.

Binton Kolektor Sejati, Memiliki Idealisme dan Hati Merawat Dokumen Sejarah Bangsa

Kandar juga menyampaikan, kalau amnesia pada manusia itu ngeri, tapi amnesia pada manusia masih bisa diperbaiki, tapi amnesia permanen bukti sejarah hilang dan musnah tak bisa diapa-apakan lagi. “Kalau amnesia pada manusia itu ngeri, tapi amnesia pada manusia masih bisa diperbaiki, tapi amnesia permanen bukti sejarah hilang dan musnah tak bisa diapa-apakan lagi, untuk itulah kita harus menyelamatkannya,” sebutnya.

Artinya, arsip atau dokumenter masih banyak di luar Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia, yaitu pada perorangan, tokoh-tokoh dan lembaga. Seiring waktu yang dikoleksi bias rusak jikalau tak terawat. Dalam pertemuan ini dibicarakan beberapa hal diantaranya, kerjasama pameran bersama antara Yayasan Warisan Tokoh Bangsa dan ANRI.

Pertemuan pihak Arsip Nasional Republik Indonesia dengan pengurus Yayasan Warisan Tokoh Bangsa

Selain itu, juga dibicarakan perlu digitalisasi klise yang ada di luar kapasitas alat milik Wintoba. Juga direncanakan MoU atau nota kesepahaman demi kepentingan bersama untuk Bangsa dan Negara. Saat ini, ANRI memiliki pusat studi kebangsaan dan pusat studi ke presidenan. Kantornya gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada Jakarta yang dijadikan tempat pameran tetap pameran presiden Bung Karno.

Sementara itu, menurut Binton, Yayasan Wintoba akan roadshow pameran foto sejarah dan klisenya  bekerjasama dengan ANRI. Thema yang diusung Hitam Putih dalam Balut Merah Putih. Rencananya akan mengajak Sekretaris Negara untuk berkolaborasi, bersinergi untuk pameran ini.

Proses kolektif memori bangsa tujuannya menyelamatkan bukti sejarah. Proses registrasi memori kolektif bangsa yaitu arsip yang mempunyai nilai signifikasi nasional, harus diregistrasi dan diberikan penghargaan bagi masyarakat yang memenuhi syarat.

“Yayasan Warisan Tokoh Bangsa, didirikan bertujuan untuk menyelamatkan, merawat dan meneruskan warisan tokoh bangsa. JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, demikian kata Bung Karno,” ujar Binton sembari menambahkan, pihaknya saat ini memiliki ratusan ribu bukti sejarah.

“Kami memiliki ratusan ribu bukti sejarah yang akan kami selamatkan,” ujarnya sembari menyebut, kesulitan merawat dokumen sejarah sangat tergantung media dan dibutuhkan biaya yang sangat  besar. “Berbeda media maka berbeda penanganan, suhu ruangan yang digunakan terhadap benda dokumentasi itu.”

Menurut riset survey dunia internasional, player audio visual akan hilang atau jarang ada di tahun 2025, karena tak diproduksi lagi, maka bukti sejarah, wajib segera didigitalisasi karena alatnya langka dan mahal.

Barangkali lunturnya semangat nasionalisme, sebab kita tak melatih dir memahami arti penting dan peran sejarah dalam memelihara bukti-bukti sejarah. Oleh karena itu, bijak tentang sejarah, menginspirasi dan mengingatkan kita untuk tetap memperhatikan masa lalu dan tetap semangat merawat sejarah. (HM)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eight + twenty =