Dari Panggung Bonataon Raja Nadapdap Se-Jabodetabek; Pesan Prof. Rhenald di Bonataon 2026

Panggung Motivasi di Bonataon Nadapdap 2026

Hari itu Sopo Ethimo terasa berbeda. Bukan sekadar gedung, ia menjelma jadi rumah. Rumah besar yang dipinjamkan Prof. Rhenald Kasali untuk anak dan boru Raja Nadapdap. Namanya Scape Jakarta — tempat yang memang disiapkan untuk ‘berscape’, menghirup jeda dari riuh dunia. Sejak pagi, marga Nadapdap dari seluruh penjuru Jabodetabek datang berombongan. Yang tua dituntun, yang muda menggandeng anak. Bonataon kali ini istimewa tuan rumah ikut bersama. Prof. Rhenald Kasali. Ia membaur. Menyapa. Mendengar. Menjelang tengah acara, mikrofon berpindah.

Yang bicara pertama adalah Binton Nadapdap, anggota Dewan Kota Depok, sahabat lama Prof. Rhenald. Gayanya tetap sama: santai, lugas, tapi setiap kata menohok. Ia tidak pidato panjang. Ia memilih menatap. Matanya menyapu barisan depan, tempat naposo bulung duduk bersila. Anak-anak muda Raja Nadapdap. Generasi yang akan bawa marga ini 20 tahun ke depan. “Semoga nanti banyak tokoh-tokoh lahir dari sini,” ucapnya pelan. Hening. “Kalaupun banyak yang jadi pekerja, jadi karyawan… jangan hanya sekadar pekerja. Jangan hanya sekadar karyawan.” Ia jeda. “Jadilah pemimpin-pemimpin di kantornya masing-masing. Amin.” Kalimat itu tidak jatuh ke lantai. Ia melayang, menggantung di udara Sopo Ethimo, lalu hinggap di dada setiap anak muda. Jadi doa, jadi amanat. “Kalau dia anggota Punguan kami,” lanjut Binton, suaranya bergetar, “kami berharap dalam doa… sebab saya yakin, setidaknya dia jadi pemimpin-pemimpin di daerahnya. Atau dia…” Kalimatnya menggantung. Tidak selesai. Tidak perlu. Semua yang duduk di situ paham: anak Nadapdap tidak boleh puas jadi penonton sejarah. Harus jadi pelaku. Harus jadi kepala, bukan ekor.Tepuk tangan pelan.

Lalu Binton tersenyum, menoleh ke samping panggung. “Saya mempersilakan Prof. Silakan, Prof, memberikan motivasi buat anak-anak remaja yang ada di sini. Dan hari ini kami memberikan kesempatan buat Prof. Bapak-Ibu yang ada di sini juga, agar jadi contoh. Bahwa ada orang yang di tempat ini ‘tokoh besar’. Terima kasih.” Langkah Prof. Rhenald Kasali tenang. Mikrofon di tangan. Ia tidak bawa slide. Tidak bawa pointer. Ia bawa cerita. “Shalom. Shalom. Horas keluarga besar Nadapdap,” sapanya. “Pak Binton dan Ibu, Pak Rafael yang saya hormati, dan Ibu, Bapak, Saudara-saudara sekalian.” Ia mengaku terhormat. “Terima kasih sudah hadir di Timur Jakarta. Tempat ini kami sebut Scape Jakarta, karena ini tempat yang indah untuk kita… berscape.” Senyum mengembang di ruangan. Lalu matanya mengunci barisan naposo bulung. Nada suaranya berubah. Lebih dalam, lebih Batak. “Saya senang Bapak-Ibu berada di sini. Tapi bagi kaum muda, saya harapkan bisa meneruskan cita-cita dari Bapak-Ibu sekalian.

Dari tokoh-tokoh yang datang di sini.” Inilah bagian yang paling menancap. Yang paling ‘kita’. “Kita tahu, orang Batak itu selalu dikenal sebagai orang yang menghargai pendidikan. Menghargai pendidikan. Jumlah sarjana terbesar di suku ini bukan kebetulan. Itu karena leluhur kita percaya: dia yang membuka pintu pendidikan, artinya menutup pintu kebodohan.” Ruangan semakin hening. Hanya AC yang berdesis. “Siapakah yang membuka pintu pendidikan? Dia yang membuka pintu pendidikan, artinya menutup pintu penjara. Karena pendidikan itu adalah bekal bagi anak-anak kita agar mereka bisa berhasil dalam kehidupan. Siapa yang meneruskan pendidikan akan menutup pintu kejar.”

Kejar — kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Semua mengangguk. Paham tanpa perlu dijelaskan. “Artinya semakin banyak orang bisa hidup lebih mandiri. Oleh karena itu, maka saya selalu mengingatkan: kita harus selalu menghargai pentingnya pendidikan itu, ya.” Ia menatap wajah-wajah orangtua di barisan depan. Tangan yang kapalan. Punggung yang mulai bungkuk. “Jadi anak-anakku, jangan sia-siakan. Kalau orangtuamu banting tulang agar kau sekolah, maka tugasmu adalah jadi yang terbaik. Jangan hanya jadi karyawan. Jadilah pemimpin. Jangan hanya ikut arus. Ciptakan arah.”

Lalu, seperti seorang bapak menasihati anaknya, suaranya melembut. Membumi. “Bapak, Ibu sekalian, saya tidak berpanjang lebar. Tapi saya mendoakan Bapak-Ibu sekalian. Tahun ini banyak perubahan baru, teknologi datang begitu cepat.” Dan ia tutup dengan doa yang paling dekat dengan perut, dengan hidup: “Dan tentu saja, Saudara-saudara, kita akan menghadapi musim panas yang sangat panas. El Nino. Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang bertani akan diberkahi dengan keselamatan. Panen yang ramah, panen yang bagus, air yang berlimpah. Sehingga kemudian bisa memberikan kita pangan yang cukup untuk kehidupan kita.”

“Sekali lagi, horas. Selamat Bona Taon. Tuhan memberkati Punguan Raja Nadapdap.” Tepuk tangan pecah. Panjang. Bukan untuk gelar profesornya. Tapi untuk benih yang baru saja ia tanam di dada anak-anak Nadapdap. Bonataon 2026 selesai. Perut kenyang oleh dekke, hati hangat oleh tawa. Tapi semua pulang membawa hal yang sama: pesan. Bahwa marga bukan sekadar nama di belakang ijazah. Ia tanggung jawab yang harus dipikul di depan. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × five =