Dari Panggung Bonataon Raja Nadapdap Se-Jabodetabek; Pesan Prof. Rhenald di Bonataon 2026

Kebaktian Bonataon

Sebelum Bonataon dimulai dengan kebaktian bersama. Suasana Bonataon menjadi teduh ketika St. Binton Nadapdap berdiri memimpin Doa Syafaat. Suaranya pelan, penuh hormat, membawa seluruh keluarga besar Nadapdap masuk dalam hadirat Tuhan. “Ya Tuhan Allah,” ia memulai, “Engkaulah kasih yang melampaui segala kasih. Tuhan yang mengajarkan kami untuk mengasihi, Tuhan yang menanamkan pengharapan di dalam hati kami.”

Doanya mengalir untuk keluarga. “Tuhan, Engkau yang merawat rohani keluarga kami. Engkau yang menuntun langkah ayah, ibu, anak-anak. Kalau hari ini kami masih boleh berjalan dan tiba di tempat ini dengan selamat, itu karena berkat-Mu, ya Tuhan.” Ia tidak lupa mendoakan yang tak hadir. “Dan jikalau di antara kami masih ada yang dalam perjalanan, dalam kegiatan lain, berkati juga mereka, ya Tuhan. Karena kami percaya, semua kami ada dalam berkat-Mu.” Di tengah doa, terselip perenungan. Tentang persekutuan, tentang kedewasaan.

“Tuhan, bentuklah kami. Jadikan perkumpulan ini berarti. Ajar kami dewasa, ya Tuhan.” Doa itu ditutup dengan penyerahan total: “Selama Engkau sertai aku, malamku pun jadi terang bila di dalam-Mu. Hidup kami, ya Tuhan Yesus, kami serahkan. Pimpin kami, agar iman kami nyata dalam perbuatan baik, dalam kelemahlembutan, dalam keramahan.” Amin yang menggemakan ruangan siang itu bukan sekadar penutup doa. Ia jadi pengikat janji: bahwa keluarga besar Raja Nadapdap mau terus hidup di dalam kasih, pengharapan, dan kedewasaan yang dari Tuhan.

Mimbar Bonataon 2026 hening ketika Pdt. James H. Nadapdap maju. Suaranya tenang, tapi setiap kalimatnya menuntut hati untuk tunduk. “Tuhan yang mengajarkan kami pengharapan,” ia membuka, “Dialah yang menuntun hati ini, yang merawat rohani keluarga kita.” Ia mengajak jemaat menoleh ke belakang. “Lihat perjalanan kita. Kalau hari ini kita masih bisa sampai ke tempat ini dengan selamat, itu karena Tuhan yang memberkati langkah. Kalau di tengah kesibukan lain pun kita masih dijaga, itu juga karena berkat Tuhan. Sebab kita percaya: semua yang kita miliki ada dalam berkat-Nya.”

Lalu pendeta masuk ke inti: tentang kedewasaan. “Mengapa persekutuan bisa pecah? Mengapa persaudaraan bisa retak?” tanyanya. Jawabnya satu: “Karena kedewasaan.” “Kalau jemaat pecah, berarti jemaatnya belum dewasa. Kalau keluarga ribut, berarti belum dewasa. Kedewasaan rohani itulah yang menjaga agar segala sesuatu tidak pecah berantakan.” Ia bicara tentang perjodohan, tentang pertemuan. “Pas atau tidak pas, jodoh atau tidak jodoh — Tuhan yang mengatur. Tugas kita bukan memaksa, tapi percaya.” Lalu khotbahnya mengalir jadi doa dan nyanyian iman: “Tuhan, sertai kami. Ke mana pun kami pergi, biarlah hidup kami di dalam Tuhan Yesus. Hidup yang diuji, tapi tetap teguh. Hidup yang dibawa masuk ke rumah Allah, karena kami tahu: ikut Tuhan Yesus berarti ikut dalam kemenangan-Nya.”

“Kepada Tuhan Yesus kami berseru. Dengarkanlah kami, ya Tuhan. Berilah kami hikmat dan pengetahuan.” Ia menutup dengan pesan yang membekas: “Orang bijak tidak hanya pintar berkata-kata. Orang bijak menyatakan imannya dengan perbuatan baik. Dengan kelemahlembutan. Dengan keramahan.” “Di Bonataon ini, biarlah kita dibentuk jadi keluarga yang dewasa. Dewasa dalam iman, dewasa dalam kasih, dewasa dalam perbuatan. Sebab hanya hati yang dewasa yang bisa menjaga persekutuan tetap utuh.” Jemaat menunduk. Amin terdengar pelan, tapi dalam. Firman itu tidak mengguncang telinga. Ia meresap ke hati.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + sixteen =