Dari Pansur Napitu ke Pendidikan, Visi, dan Harga Diri Orang Batak

Kunci Berkat Ada di Orang Tua

Pria kelahiran Tapanuli, Sumatera Utara, pada 24 April 1982. selain membangun usaha ia juga merambah dunia akuntansi negara. Dari situlah fondasi disiplin, integritas, dan pemahaman mendalam tentang sistem keuangan dan perpajakan Indonesia terbentuk. Pengalaman itu kemudian ia kembangkan hingga menjadi salah satu tokoh terkemuka di bidang konsultasi manajemen dan perpajakan.

Selain karena memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dan Magister Manajemen, serta menyandang gelar Akuntan. Komitmennya pada profesionalisme terlihat dari sederet sertifikasi yang ia miliki: Chartered Accountant, Konsultan Pajak Terdaftar, Certified Tax Administration Professional, dan Brevet Konsultan Pajak. Saat ini ia juga tengah menempuh Program Doktoral Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti, sebagai bentuk upayanya terus memperdalam wawasan dan memberi kontribusi berbasis riset.

Visi dalam bisnis


Di tengah dinamika dunia usaha Indonesia yang penuh tantangan, Sabar muncul sebagai sosok CEO muda yang visioner. Ia tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun ekosistem. Melalui Hive Five, ia mendorong kemudahan berusaha bagi UMKM hingga korporasi, dengan pendekatan yang menggabungkan keahlian teknis perpajakan, strategi manajemen, dan pemahaman regulasi.

Yang membedakan kiprahnya adalah dedikasi dan kegigihan. Ia percaya bahwa kepatuhan pajak dan tata kelola bisnis yang baik bukan beban, melainkan fondasi agar usaha bisa tumbuh berkelanjutan. Karena prinsip itulah ia aktif berbagi ilmu, membimbing klien, dan ikut berkontribusi pada penguatan iklim usaha nasional.

Sabar Lumban Tobing adalah contoh bagaimana keahlian profesional, kerja keras, dan visi jangka panjang bisa bersinergi. Dari seorang akuntan negara hingga menjadi pengusaha dan konsultan yang dipercaya, perjalanannya menginspirasi banyak orang untuk membangun karier dengan integritas dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, tingkat pengangguran tinggi karena supply lulusan terlalu besar, sementara demand dari perusahaan terbatas. “Kalau supply-nya banyak, demand-nya sedikit, ya nggak ketemu angkanya. Terus bagaimana? Ya supply-nya harus kita ubah jadi pengusaha. Supaya mereka yang menampung.”

Dari situlah High Five hadir sebagai “one stop business solution”. Bukan sekadar virtual office, tapi jalan pintas untuk memudahkan orang mendirikan usaha. Legalitas, kantor, administrasi semua dipangkas agar anak muda bisa langsung fokus berbisnis. Ia menegaskan, kesuksesan High Five yang “booming” 3 tahun terakhir bukan terjadi dalam semalam.

“Sebelum High Five ada, saya sudah 15 tahun berkarir di perpajakan. Brand-nya baru 2019, tapi pondasinya sudah dibangun dari dulu.” Ia mengingatkan anak muda agar tidak silau dengan hasil akhir. “Anak zaman sekarang lihat, ‘Pak Sabar pakai Rolex Rp900 juta’. Padahal jam Rp200 ribu sama Rp900 juta nunjuk jam 11 lewat juga sama aja. Yang penting bukan itu. Itu hotel; hosom, teal, late. Iri, malas, sombong. Itu harus dibuang.”

Yang paling ia tekankan adalah karakter. Khususnya untuk orang Batak. “Harus ada hati yang mau berbagi. Bukan hanya berbagi uang. Saya terapkan sejak kecil. Waktu jadi buruh pabrik gaji kecil, tiap tahun saya sisihkan untuk belikan baju Natal buat Mama.”

Bagi Sabar, kunci berkat ada di orang tua. “Kamu dikasih uang 1 triliun pun, tidak akan bisa membalas kebaikan orang tua. Hampir tidak ada pengusaha besar hari ini yang jahat sama orang tuanya. Pasti sayang banget sama ibunya.”

Ia juga mengajarkan ke 300 karyawannya: jangan tunggu gaji Rp10 juta baru berbagi. “Belajar memberi dari hal kecil. Kalau dari Rp2 juta saja berat, dikasih miliaran juga akan berat. Itu harus dilatih.”

Sama seperti karir. “Saya dari buruh pabrik, staf, manajer, direktur keuangan, sampai punya perusahaan. Nggak ada yang instan. Pertanyaannya: mau nggak kamu jalanin proses itu? Atau menyerah di tengah jalan?”

Sabar juga menyorot perjalanan Komisarisnya, John LW. “Tahun 2020 dia masuk sebagai marketing. Saya kasih gaji Rp4 juta. Dia minta naik ke Rp6 juta pun saya nggak kasih. Tapi dengan gaji Rp4 juta, kerjanya kayak digaji Rp40 juta. Semua dikerjain. Marketing, rekrut karyawan. Totalitas.”

“Dia nggak pernah bilang ‘saya digaji 4 juta, ya kerja secukupnya’. Nah itu yang bikin orang berhasil,” ujarnya. Hingga pertengahan 2025, High Five telah membentuk 25.000 lebih badan usaha di Indonesia. 80-85% di antaranya milik milenial.

Bagi Sabar, angka itu bukan soal bisnis semata. Itu soal tanggung jawab: menciptakan pengusaha baru agar tidak ada lagi lulusan yang menganggur karena “tidak ketemu” dengan lowongan.

Pesannya sederhana: punya visi, kerja keras, jaga attitude, dan jangan lupa berbagi, keberhasilan seseorang tidak diukur dari gelar atau jabatan. Tapi dari dua kata: bisa dipercaya dan bertanggung jawab.

“Totalitas dia dalam bekerja. Jangan heran kok dia bisa berhasil,” ujar Sabar saat menceritakan sosok John LW, kini Komisaris High Five.

Kisah itu bermula tahun 2021. Empat pendiri awal High Five mengundurkan diri dan melepas seluruh sahamnya. 100% saham perusahaan jatuh ke tangan Sabar. Sebagai pemilik, ia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: kepada siapa saham ini akan dipercayakan?

“Saya tidak akan sembarangan menyerahkan saham ke orang lain. Saya analisa benar-benar,” katanya. Jawabannya jatuh pada John LW. Saat itu John baru karyawan dengan gaji Rp4 juta. Tapi etos kerjanya sudah “seperti digaji Rp40 juta”. Semua dikerjakan: marketing, rekrutmen, operasional.

“Dia belum pemilik saham, belum komisaris, tapi kerjanya sudah all out. Apalagi setelah saya kasih 30% saham dan angkat jadi Komisaris? Makin gila. Dalam arti positif,” ujar Sabar.

Keputusan itu menjadi bukti prinsip Sabar dalam berbisnis: ketika opportunity bertemu dengan kemampuan. “Ada dua yang harus ketemu di satu tempat: kesempatan dan kemampuan. Kalau kesempatan ada tapi kamu tidak mempersiapkan diri, itu akan lewat. Bang John sudah mempersiapkan diri dengan baik, opportunity datang, makanya dia luar biasa.”

Sebagai pebisnis sekaligus akademisi, Sabar menanamkan budaya kerja yang tegas di High Five. “Kami larang karyawan pinjol. Larang judi online. Ketahuan, hari itu juga dipecat. Tapi kami juga kasih solusi. Butuh duit? Ngomong ke HRD, kami kasih kasbon. Jadi tidak ada alasan.”

Ia juga menekankan soal tanggung jawab kepada karyawan. Selama 5,5 tahun berdiri, High Five mengklaim tidak pernah sekalipun telat membayar gaji.

“Apa yang menjadi hak karyawan, serahkan. Jangan ambil yang bukan hak kamu. Itu prinsip bisnis yang bertanggung jawab.” Sikap fair juga ia terapkan ke partner. “Saya orangnya sangat fair soal pembagian. Bisa ditanya sama Bang John. Makanya orang mau kerja all out sama kita.”

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × one =