Dari Pansur Napitu ke Pendidikan, Visi, dan Harga Diri Orang Batak
Dari Virtual Office ke Gedung Sendiri
Dari awal sebagai “one stop business solution, High Five kini berekspansi. Ada coffee shop, ada grup usaha lain. Di Alam Sutera, Karawaci, mereka bahkan punya gedung sendiri 3 lantai. Tapi inti bisnisnya tetap sama: memudahkan orang jadi pengusaha.
“Anda mau bisnis, harus punya ide dulu. Mau jualan online apa? Nanti kita yang susun: nama PT, pemegang saham, modal, domisili kantor, sampai PKP. Kita urus ke notaris. Tinggal jalan,” jelas Sabar.
Bagi Sabar, kepemimpinan adalah soal memberi kepercayaan kepada orang yang tepat. Dan kepercayaan itu hanya lahir dari kerja dan tanggung jawab. “Teman-teman, peluang itu ada. Tapi siap nggak kamu? Latih diri dari hal kecil. Bekerja totalitas. Berbagi. Jangan egois. Pikirkan tim.” Dan di tengah semua itu, ia tetap berpegang: bisnis besar dibangun di atas orang-orang yang bisa dipercaya.
“Service excellent itu penting. Yang kasih duit ke perusahaan anda itu klien, bukan bank,” ujarnya. Sabar bercerita, dulu tidak ada bank yang mau melirik High Five. “Siapa itu High Five? Biasa itu,” katanya. Kini situasinya berbalik. BNI, BRI, Mandiri, BCA berbondong-bondong. Sabar bahkan mendapat penghargaan dari BNI dan sering diundang berbicara di forum perbankan.
“Bank itu kalau bisnis kamu lagi bagus, dia merapat. Kalau lagi drop, dia palingkan wajah. Makanya kita harus bangun bisnis yang sustainable, yang bankable,” katanya.
Bankable itu artinya laporan keuangan rapi, izin lengkap, dan bisnis jelas. Dan itu yang dikerjakan High Five untuk setiap klien. Konsep High Five sederhana. Anak muda punya ide bisnis, High Five yang urus sisanya. “Kami tidak cuma dirikan PT. Kami pastikan bisnis kamu bisa jalan dan sustain,” kata Sabar.

Anti Pinjol dan Judi Online
Setiap bulan Sabar menyebar kuesioner kepuasan ke semua klien. Ia minta kritik dan saran. “Saya orangnya terbuka dikritik. Kalau saya salah, tolong kritik. Ibarat minum pil pahit. Pahit tapi bikin sehat. Daripada tidak dikasih pil tapi pelan-pelan mati,” ujarnya.
Di internal, aturannya tegas: dilarang pinjol dan judi online. Ketahuan, langsung pecat. Tapi perusahaan juga menyediakan solusi: karyawan yang butuh dana bisa ajukan kasbon ke HRD. Dan selama 5,5 tahun, gaji karyawan tidak pernah telat sedetik pun.
Sabar mengingatkan, dulu mengurus perusahaan tahun 2007 masih ribet. Harus ke RT/RW urus izin gangguan, ke notaris mahal, urus SIUP TDP sendiri. Sekarang sudah ada High Five. “Tapi ingat, segala sesuatu bisa kita raih kalau sungguh-sungguh. Jangan sombong. Libatkan Tuhan. Orang sombong itu karena merasa tidak butuh Tuhan. Begitu hilang, stres,” katanya.
Ia dibentuk di keluarga Kristen Batak yang kental dengan adab. Di ruang kerjanya, Sabar Pardamean Lumban Tobing tidak pernah lelah mengulang satu kalimat: negara ini berdiri dari uang pajak rakyatnya. Baginya, masalah mendasar bangsa hari ini bukan soal fasilitas. Tapi soal kesadaran.
“Kenapa orang mau beli mobil mewah, jam tangan mewah? Karena apresiasinya langsung. Dinikmati sekarang juga. Tapi bayar pajak berat, karena tidak langsung merasakan,” ujarnya.
Padahal, menurutnya, semua yang kita nikmati hari ini bersumber dari pajak. “Mau ke bandara? AC-nya nyala. Ada polisi jaga. Ada MRT, KRL. Adik-adik kita sekolah SD sampai SMA ada gurunya. Itu dari mana? Dari APBN. Dan 83% APBN itu dari pajak yang disetor pengusaha dan masyarakat.” Ia menantang logika orang yang suka bertanya “pajak saya larinya ke mana”. “Boleh. Tapi matiin dulu lampunya di bandara. Jangan pakai AC. Homeschooling aja anaknya, jangan sekolah negeri. Kalau mau menikmati fasilitas negara, ya ikut bayar.”
Alibi Korupsi untuk Menghindar Pajak
Sabar mengakui korupsi ada. Tapi menjadikannya alasan tidak bayar pajak adalah “alibi”. “Bilangan aja: saya nggak ikhlas bayar pajak. Selesai. Nggak usah kasih narasi macam-macam,” katanya blak-blakan. Ia mengingatkan konsekuensi logisnya. Kalau negara tidak punya uang, maka guru, PNS, Polri tidak digaji. Mau tidak mau pemerintah utang ke luar negeri.
“Utang itu harus dibalikin. Dari mana duitnya? Dari pajak juga. Jadi berpikirlah secara konstruktif. Jangan lihat satu elemen doang.” Ia mencontohkan saat Covid-19. Pemerintah keluarkan vaksin untuk 98% penduduk. Satu orang 3 kali vaksin, total bisa Rp1,5 juta. Kalau dikali jutaan penduduk, itu triliunan. “Duitnya dari mana? Dari pajak. Masa sudah disuntik ke badan, masih bilang ‘nggak ngerasain’? Dosa banget jadi orang,” katanya.
Sebagai konsultan dan akademisi pajak 15 tahun, Sabar mengingatkan era sekarang sudah berbeda. Sejak Tax Amnesty 2016 dan adanya AEOI, data perbankan, notaris, sampai luar negeri bisa diakses Ditjen Pajak. “NIK kamu sekarang = NPWP 16 digit. Beli rumah pasti lewat notaris. Akta dikirim ke pajak. Beli mobil DP 200 juta, di SPT harus tercermin penghasilan 200 juta. Nggak ada, ya dikejar,” jelasnya.
Pidana pajak juga sudah diperluas di UU No 7/2021. Bukan hanya tidak lapor, tapi lapor tidak benar juga pidana. “Kenapa orang takut? Karena ada yang disembunyikan. Orang tua saya ajarin: berani karena benar, takut karena salah.”
Di akhir Sabar berpesan khusus untuk anak rantau Batak. “Pertama: kenali diri. Banyak orang nggak tahu diri, gampang terbawa arus sosial media. Lihat orang flexing, langsung mau ikut. Padahal nggak ngukur kemampuan dan risiko.”
“Kedua: punya visi dan fokus. Jangan jadi ikan mati yang ikut arus. Ikan hidup itu lawan arus. Tapi bukan berarti lawan bos di kantor ya,” selorohnya.
“Ketiga: jangan mental pengemis. Lebih bahagia kalau tangan kita di atas, bisa memberi. Di sosial media banyak ‘bantu-bantu’. Padahal tidak ada kewajiban orang bantu kita.”
Bagi Sabar, semua perubahan dimulai dari cara berpikir. “Kalau cara berpikirmu berubah, tindakanmu berubah. Dan itu yang menentukan kamu 10-20 tahun ke depan.” Sabar Tobing ingin meninggalkan satu warisan: generasi yang paham pajak, paham tanggung jawab, dan tidak lupa daratan. (Hojot Marluga)
