Dari Pansur Napitu ke Pendidikan, Visi, dan Harga Diri Orang Batak

suaratapian.comSabar Pardamean Lumban Tobing lahir di Tarutung, tepatnya di Pansur Napitu. Ia dibesarkan di sana hingga lulus SMK. Anak kelima dari enam bersaudara, tiga laki-laki tiga perempuan. Hidupnya tidak mudah. Sejak kecil ia sudah kehilangan ayah. Ibunya membesarkan mereka dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Tahun 2001 ia sempat lolos masuk USU Medan lewat jalur PMDK. Tapi karena tidak ada biaya, cita-cita kuliah di Medan harus ditunda. Dengan tekad merantau, ia berangkat ke Jakarta. Titik awalnya bekerja bukan di ruang ber-AC, tapi di lantai pabrik Pulo Gadung. Menjadi buruh dengan gaji kecil.

Tapi di tengah keterbatasan itu, Sabar punya satu pegangan: “Jalur pendidikan adalah jalan untuk berhasil.” Karena itu ia membuktikan itu. Ia kuliah sambil kerja, biaya sendiri. Mulai dari D3 Banking and Finance, lulus dengan predikat terbaik.

Lanjut S1 Akuntansi di STIE Ekuitas, lalu S2 Magister Manajemen di Universitas Trisakti. Dan telah selesai studi Doktoral Ilmu Ekonomi bidang Perpajakan di Trisakti. Selama 13 tahun ia mengajar sebagai dosen di beberapa kampus ternama di Jakarta. Dari rumah keluarga tempat ia “seperti pembantu” dulu, ia naik kelas dengan kerja keras, rendah hati, dan mengandalkan Tuhan.

Hari ini, Sabar adalah Direktur Utama High Five, sebuah “one stop business solution” yang didirikan sejak 2019. Kantornya ada di Lantai 21, JohnTex.
Setiap pagi jam 08.00 tepat ia sudah Zoom briefing untuk seluruh karyawan. 300 orang, tersebar di 7 cabang: Jakarta, Surabaya, Medan, dan lainnya.

Ini yang selalu ia tekankan ke sesama orang Batak dan anak rantau: “Kalau kita sudah meninggalkan kampung halaman, kita harus berhasil. Jangan pulang membawa kegagalan. Tidak ada yang instan. Tidak ada cepat kaya. Semua butuh proses, ketekunan, visi 15-20 tahun ke depan, dan yang paling penting: dekat sama Tuhan.”

Bagi Sabar, pendidikan bukan jaminan pasti sukses, tapi pendidikan memberi, peluang besar untuk berhasil. Konsistensi dan kerja halal adalah kunci. Tetapi pendidikan memang sangat penting.

“Pertanyaan saya, kenapa pemerintah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan? Kenapa negara-negara maju bisa menciptakan nuklir, IT-nya maju? Karena faktornya pendidikan.”

Ia menyoroti banyak lulusan yang bingung setelah lulus. Ambil Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, tapi tidak tahu mau jadi apa. Mau buka Kantor Akuntan Publik, Konsultan Pajak, atau jadi akuntan di perusahaan oil and gas? Tidak spesifik.

Akibatnya CV disebar ke semua perusahaan. “Perusahaan akan seleksi. Namanya “the right man on the right job”. Kalau tidak sesuai, tidak akan lanjut.”

Bagi Sabar, visi harus jelas dari awal. Ia mengibaratkan: “Saya mau ke Bandung. Pakai Fortuner. Mau macet, mau apa, tujuan tetap Bandung. Bukan lalu balik ke Cilegon karena macet. Itu yang terjadi karena tidak ada visi.”

Sabar membuktikan bahwa mental kuat, visi jelas, dan kerja keras bisa mengalahkan keterbatasan. Menurutnya, coba kita lihat hari ini. Orang-orang yang duduk di posisi terbaik di perusahaan, jadi Direktur, jadi Chairman, rata-rata punya latar belakang pendidikan yang bagus.
“Berapa persen mereka bisa sampai di posisi itu tanpa pendidikan? Itu kan fakta.”

Ia tidak bilang pendidikan adalah jaminan 100% sukses. Tapi pendidikan memberi “peluang besar”.

Kecuali untuk 2% “pewaris”. Tapi kalau kita bicara orang yang berjuang dari nol seperti kebanyakan orang Batak, maka sekolah adalah jalan utama. Makanya tidak heran, orang Batak yang sudah berhasil sekalipun, tetap menyekolahkan anaknya ke kampus-kampus terbaik. Karena kita pegang “hamoraon, hagabeon, hasangapon”.

Ini yang paling ditekankan Sabar. “Saya sangat bangga jadi orang Batak. Bangga juga jadi orang Kristen.” Alasannya: orang Batak punya silsilah yang sangat jelas. “Tarombo”.

Ia tahu benar ungkapan, “makin cerdas seseorang makin menghargai identitasnya.” Ia sendiri Tobing Nomor 16. Bapaknya Nomor 15. Karena itu ia tahu harus manggil apa: Bapak Tua, Bapak Uda, Namboru. Dari nomor itu kita tahu sopan santun, tahu attitude. “Ini yang luar biasa dari orang Batak dibanding suku lain. Ini bukan rasis, tapi faktanya seperti itu.”

Ia mengingatkan: jangan malu dengan identitas. Jangan sampai kita di kota besar, lahir di Jakarta, tapi tidak diajari tarombo. Kalau identitas hilang, kita tidak tahu lagi mau nyapa orang bagaimana.

Sabar cerita, banyak teman-temannya di kampung tidak berani ke Jakarta. “Pertama: zona nyaman. Kedua: mereka masih punya orang tua, ekonomi lebih bagus. Jadi meninggalkan kampung itu berat. Mikir kos, mikir makan. 2-3 bulan tidak kuat, pulang lagi.”

Berbeda dengan dirinya. “Saya tidak punya pilihan. Kalau pulang ke kampung akan lebih susah. Di perantauan sesusah-susahnya, asal tidak malas, masih bisa cari 1-2 juta. Di kampung belum tentu.”

Karena tidak ada pilihan itulah ia bertahan. Dari SMK Negeri dengan beasiswa, dapat PMDK ke USU tapi tidak jadi karena tidak ada biaya, lalu banting setir ke Jakarta jadi buruh pabrik Pulau Gadung.

“Kalau kita sudah meninggalkan kampung, harus berhasil. Jangan pulang bawa kegagalan. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses, pendidikan, visi jangka panjang, dan tetap pegang identitas kita sebagai orang Batak.”

Lag-lagi bagi Sabar pendidikan adalah sihir perubahan. “Jelas kalau kita sekolah dengan bagus, berprestasi, otomatis kita bisa pindah ke perusahaan yang lebih bagus. Pasti akan mempengaruhi finansial kita.” Tapi Sabar jujur: pendidikan itu bukan jaminan 100% berhasil.

Dia kasih contoh: banyak teman waktu SD-SMK juara umum, di kampung hidupnya enak, banyak duit. Sekarang? Belum tentu.
Kenapa? Karena di dunia kerja ada 2 hal: Hard skill didapat dari bangku kuliah. Soft skill, attitude, komunikasi, respek ke atasan, cara menempatkan diri. Ini tidak diajarkan di kampus.

“Sepintar apapun kalau tidak respek sama pimpinan, tidak akan dipakai. Kita orang Timur, budaya kita harus tahu tempat.” Analoginya mau ikut pertandingan harus lolos prakualifikasi dulu. Mau jadi Dirut BUMN minimal S2. Kalau SD saja tidak tamat, mimpinya jadi Menteri Keuangan ya tidak mungkin. Pendidikan membuat kita “layak bertanding”. Soal menang atau tidak, itu urusan soft skill tambah kerja keras.

Sabar masih rutin pulang ke Tarutung saat Natal dan Tahun Baru. Karena Mama masih tinggal di sana. Kalau ketemu teman-teman kampung, beliau tidak sungkan disapa “Pak Sabar”. Malah beliau yang support. “Kalau ada acara gereja butuh bantuan, saya support.”

Kenapa? Karena beliau dibesarkan di Sekolah Minggu. Bapaknya almarhum adalah Sintua HKBP yang meninggal saat masih bertugas. “Bagi saya itu kepuasan tersendiri bisa berbagi. Bukan hanya ke HKBP Pansurna Pitu, tapi ke gereja-gereja lain juga,” ujarnya.

Di perusahaan yang dia dirikan dan kelola High Five, rata-rata karyawannya usia produktif di bawah 30 tahun. Sengaja.
Karena Sabar menganut filsafat Jackma mempekerjakan anak muda karena punya ide liar dan tenaga.

Aturannya tegas. Setiap hari harus kasih 1 ide. Setiap bulan beliau sebagai CEO akan evaluasi, mana ide yang layak dieksekusi.
“Mau tidak mau mereka dipaksa berpikir, berkreasi.” Dan ini nyambung sama orang Batak. “Orang Batak terkenal pintar dan berani bicara. Makanya pengacara-pengacara besar di Indonesia banyak dari kita.”

Kiat darinya jaga pergaulan. “Kalau mau lihat kamu 10-20 tahun ke depan, lihat 5 orang terdekatmu. Itu cerminanmu.”
Kalau lima temanmu perokok, sekuat apapun kamu, lama-lama ikut. Makanya lingkungan dan pergaulan harus dijaga.

Sebagai pengusaha, Sabar dan tim melihat Indonesia akan masuk bonus demografi. 60% penduduk adalah usia produktif. Itu bisa jadi peluang, bisa jadi ancaman. Masalahnya, biaya jadi pengusaha di Indonesia masih mahal. Akta notaris, sewa kantor, ruko. Dari riset itu muncul ide virtual office.

“Di Indonesia, brand virtual office milik anak bangsa yang besar hanya High Five. Yang lain seperti Regus itu perusahaan asing. Kami bisa klaim sebagai market leader,” kata Sabar.

Data membuktikan. Sejak 2019 hingga pertengahan 2025, High Five telah membentuk lebih dari 25.000 badan usaha, PT dan CV. 80-85% di antaranya adalah perusahaan milik milenial. “Ini peran kami. Membuka jalan agar anak-anak muda tidak hanya jadi pencari kerja, tapi pencipta lapangan kerja,” ujarnya.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 2 =