Djaendar Lumban Gaol Menerima Penghargaan Dari Punguan Lumban Gaol; Kepekaan Musikalitasnya Merespon Setiap Momen Melalui Nada

Di samping itu, dia menyatakan rasa bangga, penuh haru bahwa dirinya mendapat piagam penghargaan dan sejumlah uang tunai, atas sebuah lagu yang dikarangnya. “Terimakasih penuh perhatian semua tokoh, Paniroi, Pengurus lama, Pengurus Baru periode 2024-2027 dan para anggota terhadap sebuah karya, saya rasakan yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Bila mengingat nama Djaendar, selalu mengingat nama Djaendar Moeda atau lengkapnya Djaendar Moeda Harahap adalah perintis pers berbahasa Melayu kelahiran Padang Sidempuan, tahun 1861. Sosok yang banyak dikagumi jurnalis sebagai perintis pers di Indonesia.

Tentu profil Djaendar J Lumban Gaol juga bersentuhan dengan karang-mengarang. Lelaki kelahiran Desa Parik Sinomba, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara, 21 Desember 1955 ini adalah pensiunan PNS DKI Jakarta ini memiliki bakat dan musikalitas yang peka akan nada-nada. Selain menciptakan lagu, membuat dirinya mampu melahirkan dan membina trio-trio baru di kalangan generasi muda Batak.

Selain sebagai pencipta lagu, dia juga melibatkan dirinya membina langsung sejumlah Trio Artis artis Batak, seperti Pasima Trio, Gabema Trio Vol 1 sampai Vol 3, Amura Trio, Arghana Trio, La Hobas. Sejumlah lagu ciptaanya yang pernah Hits seperti: Tiamsa 1 (Gabema Trio), Tiamsa 4 (Amura Trio dan Gabema Trio), Tiamsa 6 (Gabema Trio), Holan Nipi (Argana Trio) Tahuak Manuk (Arghana Trio), Bunga Tanda Mata (Gabema Trio).

Selain itu, Pudun Pate (La’Hobas Trio), I’II Remember/My Love (Amura Trio), Menara Kembar yang dipopulerkan Erick Sihotang dan Lagu sebagai percontohan Accustic Vocal Group DKI Jakarta “Kuharap Kau Kembali” tahun 2004.

Bukan Pesohor, Tetapi Karya Berjibun

Pria lulusan Magister Sains (M.Si.) Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS) telah menorehkan sejumlah prestasi dengan menciptakan 300-an lagu, baik yang dinyanyikan secara solo maupun trio, bahkan sejumlah paduan suara Koor di berbagai Gereja. Mulai mencipta lagu sejak tahun 80-an. Ciptaan perdananya yang booming, berjudul “Rap Hita Nadua” yang dinyanyikan Trio The Star, tahun 1981.

Dari buah pengabdiannya di dunia musik, telah menerima beberapa penghargaan seperti: Penghargaan Lomba Cipta Lagu OBAMA (Operasi Bhakti ABRI Manunggal Aksara) Depdikbud TK Nasional Tahun 1997. Penghargaan Lomba Cipta Puisi IMPPI  Universitas Sumatera Utara (IMPPI-USU)  Medan Tk Nasional Tahun 1997/1998. Penghargaan Lomba Cipta Lagu Gereja Katholik Tk Nasional Tahun 2003.

Selain menciptakan lagu-lagu pop, dirinya juga telah menciptakan 50-an lagu bernotasi empat suara atau berbentuk koor. Diantaranya 26 lagu oleh Koor Ama Siontara dan empat buah lagu Koor Ama Immanuel dan lainnya. Tak berhenti di sana, dia juga membenamkan diri menulis.

Sesaat menerima penghargaan

Ratusan Puisi dan beberapa Cerpen dimuat di berbagai majalah rohani dan surat kabar Ibukota. Dia juga pengamat musik dengan memberi ulasan musik, memberi kritik dan mengendor berbagai acara musik dengan menulis berita di berbagai media online.

Kecintaannya “Tiamsa” bukan saja membuatnya dalam bentuk album lagu, bahkan juga menginspirasinya membuat cerita pendek (cerpen). Lagu-lagunya bisa dinikmat di LUGA SINGER Channel.

Hingga sekarang, pun di usia makin senja, 72 tahun, dia tetap menulis dan berkarya. Di masa pagebluk Covid-19 ini tetap meresponnya dengan menuangkannya jadi nada, seruan pada Pencipta. Djaendar punya kepekaan musikalitasnya, merespon setiap keadaan dengan menjadikannya jadi nada yang berpesan moral.

Perhatiannya pada seniman Lumban Gaol mendorongnya membuat groupnya baru. “Baru lahir di Oktober 2019, sebelum masa pandemic,” ujarnya ketika itu. Walaupun demikian group musik, kwartet yang diberi nama LUGA SINGER ini adalah group musik senior yang bertepatan bermarga yang sama Lumban Gaol.

“Demi kesatuan dan keseharian kami membangun kebersamaan, sebab kami sadar kekuatan ada di kesatuan hati,” ujarnya. Selain dirinya, ada Runggu Lumban Gaol, Parmin Lumban Gaol dan Madon Jhon Lumban Gaol.

Kini sudah 17 lagu dilahirkan dari  LUGA SINGER sejak berdiri. Tepat benar Djaendar adalah pengarang lagu Batak yang sudah lama melanglang buana di belantika musik Batak. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − twelve =