Friedrich Silaban Menuju Pahlawan Nasional: Dari Graha Delima 2 Bekasi, Pomparan Silaban Gaungkan 1000 Tanda Tangan
“Frederick Silaban adalah seorang pomparan Borsak Jungjungan Silaban dari Bonan Dolok, Humbang Hasundutan, dari kampung kami jauh dan beliau telah menorehkan prestasi yang sangat membanggakan baik skala nasional dan dunia. We are so proud of him. Tidak sangat membanggakan,” ujar Prof. Pantas.
Ia melanjutkan, kebanggaan itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. “Oleh karena itu, kami pomparan maupun kami Borsak Junjungan tidak ragu-ragu mengusulkan beliau menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia. Boleh saya katakan kami telah ada lebih dari 5.000 keluarga yang bisa mendukung kegiatan ini.”
Perjuangan ini ternyata telah melampaui batas Bekasi. Prof. Pantas mengungkapkan, sejak Mei lalu ia berkunjung ke Amerika dan menemukan bahwa warga diaspora di sana pun ikut berbahagia dan mendukung ketika Friedrich Silaban diusung oleh keluarganya menjadi pahlawan. Dukungan lintas benua ini menunjukkan betapa besarnya kerinduan akan keteladanan.
Siapa sebenarnya Friedrich Silaban sehingga layak diperjuangkan? Lahir 16 Desember 1912 dan wafat 14 Mei 1984, ia adalah arsitek legendaris yang merancang wajah Indonesia modern. Karyanya adalah monumen hidup bangsa: Masjid Istiqlal sebagai pemenang sayembara 1955 bertema “Ketuhanan”, Kompleks Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, Gedung Bank Indonesia Thamrin, Monumen Pembebasan Irian Barat, dan Gedung Pola.
Namun lebih dari sekadar karya fisik, nilai kepahlawanannya terletak pada karakternya. Prof. Pantas menekankan satu hal yang membuat Silaban berbeda dari tokoh-tokoh masa kini. “Yang kita angkat adalah contoh dari hidupnya, dia mau buat hasil yang tetap dia rendah hati dan tidak melulu bisnis tetapi membagi itu yang kita perlukan sekarang. Orang sekarang banyak mengandalkan pencitraan, dia mengandalkan perbuatan nyata tapi sederhana.”

Nilai itulah yang menjadi sangat relevan untuk Indonesia hari ini. Seorang Kristen Protestan yang merancang Masjid terbesar se-Asia Tenggara, Istiqlal, adalah simbol tertinggi toleransi dan nasionalisme. Ia membuktikan bahwa pengabdian kepada bangsa melampaui sekat agama. Inilah yang dibutuhkan bangsa: pahlawan yang mengajarkan persatuan melalui karya, bukan kata-kata.
