Mengapa Gengsi Menghantui Pesta Adat Batak, Quo Vadis LABB?
Oleh: Hojot Marluga
Terus terang, saya terpesona oleh antusiasme masyarakat Batak yang tak pernah pudar dalam menjaga warisan budaya dan adat istiadat mereka. Dari perayaan pernikahan yang meriah hingga dukungan sosial yang kuat, semua itu menunjukkan kebersamaan dan ikatan kekerabatan yang mendalam. Saat pertama kali menghadiri acara adat Batak di Jakarta, saya merasa seperti berada di dunia lain. Orang-orang yang saya temui begitu hangat dan ramah, membuat saya merasa seperti bagian dari keluarga besar mereka. Budaya dan adat Batak memang sangat berbeda dengan apa yang saya kenal sebelumnya, tapi itulah yang membuat saya semakin tertarik untuk menulis tentang mereka. Saya belajar lebih banyak tentang tradisi dan kebiasaan mereka, dan bagaimana mereka menjaga kebersamaan dan ikatan kekerabatan yang kuat. Mereka menunjukkan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang statis, tapi sesuatu yang hidup dan berkembang seiring waktu. Dan saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari perjalanan budaya yang kaya dan beragam ini.
Tulisan ini saya buat banyak pertanyaan. Dan pasti banyak dalam narasinya pertanyaan. Sebenarnya untuk menggugah dan merefleksi. Apakah kita tidak merasakan keresahan anak-anak muda Batak komersialisasi pesta pernikahan adat Batak? Apakah kita telah melupakan makna sebenarnya dari pernikahan adat Batak, yaitu sebagai sebuah upacara sakral yang menghubungkan dua keluarga? Pernikahan adat Batak, sebuah simfoni tradisi yang mengalun dalam irama keluarga. Tidak harus mewah, namun kerap terasa besar karena gelombang tradisi yang membawanya. Sinamot (mahar), ulos yang membungkus kasih, dan Martonggo Raja, pertemuan agung keluarga besar, semua menjadi babak penting dalam epos pernikahan ini.
Bagi generasi muda, berharap ada ruang untuk menyederhanakan, untuk menari di antara tradisi dengan langkah modern. Konsep di taman, acara inti yang fokus, semua bisa menjadi pilihan. Yang tak bisa disederhanakan adalah akar fundamental: larangan menikah semarga, dan meminta restu dari Tulang, penjaga tradisi dan kasih sayang. Dalam kesederhanaan, esensi tetap terjaga, dan cinta tetap menjadi irama utama.
Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, tapi saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir lebih dalam tentang apa yang kita lakukan di Jakarta. Apakah kita ingin terus mengikuti tren dan tradisi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kita, ataukah kita ingin kembali ke akar budaya kita dan menghidupkan kembali makna sebenarnya dari pernikahan adat Batak?
Tapi, mari kita lihat lebih dalam, apakah kita benar-benar mempertimbangkan biaya yang kita keluarkan untuk pesta pernikahan? Atau kita hanya ingin memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga?
Bicara pernikahan, berarti bicara biaya yang harus siap dikeluarkan besar atau mahal. Tapi apa yang sebenarnya kita dapatkan dari biaya yang kita keluarkan? Apakah kita benar-benar mendapatkan nilai yang sepadan dengan uang yang kita keluarkan? Atau kita hanya menciptakan hutang dan stres yang tidak perlu? Faktanya banyak pesta pernikahan digelar tetapi karena berutang.
Setuju bahwa adat Batak adalah sesuatu yang unik dan perlu dilestarikan. Namun, saya juga ingin menambahkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pesta adat Batak yang mencapai ratusan juta rupiah bahkan ada yang sampai miliaran, membuat saya mempertanyakan apakah kita telah terlalu berlebihan dalam melaksanakan adat ini?
Lagi, saya paham bahwa adat istiadat adalah identitas kita sebagai bangsa Indonesia, tapi apakah kita harus menghabiskan uang sebanyak itu? Apakah kita tidak bisa menemukan cara yang lebih sederhana dan lebih bermakna untuk melaksanakan adat Batak?
Awalnya kita berharap banyak ke LABB, singkatan dari Lembaga Adat Budaya Batak, telah mencoba menyederhanakan pesta adat Batak, khususnya pernikahan di Jakarta. Mereka berjuang sejak 2018 untuk membawa pembaruan adat yang lebih esensial, efektif, dan efisien. Namun, di Jakarta, upaya ini seperti angin lalu, tidak meninggalkan bekas yang signifikan.
Faktanya, pesta adat Batak di Jakarta tetaplah megah, seperti tak tersentuh oleh seruan penyederhanaan. Tradisi yang kuat, gengsi yang tinggi, dan ekspektasi keluarga yang besar, semua menjadi rantai yang sulit diputuskan. LABB mungkin telah berupaya, tapi tantangannya terlalu besar, dan hasilnya, upaya mereka gagal, tidak berhasil. Walau pun kita tak boleh berputus asa.
Kita perlu kepada makna, bahwa adat itu tak perlu berlebihan, yang terpenting esensi, sesuai wejangan para tetua bahwa pernikahan tidak harus bermegah-megah, yang penting adalah unsur adat yang diwajibkan ada unsur Dalihan Na Tolu bisa dilaksanakan. Mestinya kita fokus pada makna sebenarnya dari adat Batak, bukan hanya pada biaya yang dikeluarkan besar.
Apalagi mayoritas orang Batak masih hidup di perantauan sulit, ekonomi tidak mudah, apalagi menyiapkan biaya untuk pesta adat yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi, ada yang lebih menyakitkan adalah ketika kita memilih untuk tidak mengadakan pesta adat yang megah, kita akan dihakimi oleh orang banyak.
Tapi, apakah gengsi itu benar-benar penting? Apakah kita harus menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga? Saya tidak berpikir begitu. Saya percaya bahwa pernikahan adalah tentang cinta dan komitmen dua orang, bukan tentang gengsi atau harga diri.
Bahwa “yang mahal itu bukan pernikahannya, tapi gengsinya”. Kita terlalu fokus pada gengsi dan lupa bahwa pernikahan adalah tentang cinta, kasih.
