Mengapa Gengsi Menghantui Pesta Adat Batak, Quo Vadis LABB?
Sinamot juga menjadi ketakutan untuk anak muda Batak menikah. Seruan “turunkan harga sinamot” mulai terdengar di kalangan muda Batak, terutama di Jakarta, ini adalah respons terhadap tekanan ekonomi dan beban biaya pernikahan adat yang semakin tinggi. Sinamot, sebagai bagian penting dari tradisi pernikahan Batak, seringkali menjadi beban bagi keluarga mempelai laki-laki.
Seruan ini juga merupakan upaya untuk menyederhanakan proses pernikahan adat, sehingga lebih terjangkau dan tidak memberatkan keluarga. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga esensi tradisi sambil membuatnya lebih realistis dan sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini.
Lagi-lagi LABB sebagai lembaga adat, diharapkan dapat memainkan peran penting dalam menyosialisasikan dan mengimplementasikan perubahan ini. Tapi, apakah masyarakat Batak siap untuk menerima perubahan ini?
Besaran Sinamot ini tidak ada standar pastinya, tapi faktanya, semakin terpandang dan berpendidikan si mempelai perempuan, semakin tinggi pula Sinamot-nya. Apalagi jika Ulaon diselenggarakan oleh pihak perempuan, semakin besar pula Sinamot yang harus disiapkan.
Tapi, besaran Sinamot ini bisa jadi digunjingkan juga bila dianggap tidak sesuai atau tidak pantas bagi mereka yang mendengarnya.
Dengan adanya resiko-resiko di atas, mau tidak mau gengsi akan tetap ada dalam setiap pesta adat pernikahan Batak. Bagaimanapun keluarga menekan biaya, pada akhirnya biaya akan membengkak dengan adanya intervensi dari keluarga besar. Mengapa? Karena dalam acara tersebut yang terlibat tidak hanya keluarga inti kedua mempelai, melainkan seluruh marga yang berkaitan dengan keluarga kedua mempelai. Masing-masing mempunyai gengsi tersendiri supaya tidak dianggap remeh oleh marga yang lain.
Sekali lagi, saya bukannya menentang pesta adat semacam ini, sebagai 25 tahun jurnalis di segmed budaya Batak, saya hanya menyayangkan mereka-mereka yang memiliki sudut pandang yang mengedepankan dan mengutamakan gengsi di atas batas kemampuan. Bukankah esensi dari adat itu sendiri adalah kesakraklan dan makna yang harus diresapi sebagai pedoman kehidupan sehari-hari, dan bukannya mengutamakan gengsi semata?
Setelah beberapa tahun berdiri, LABB masih berjuang untuk membuat perubahan signifikan dalam menyederhanakan pesta adat Batak, terutama di Jakarta. LABB harus sosialisasi yang lebih efektif: LABB perlu meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Batak tentang pentingnya menyederhanakan pesta adat. LABB harus bekerja sama dengan komunitas Batak, tokoh adat, jurnalis Batak, dan Masyarakat Batak untuk membuat perubahan yang lebih luas, fokus pada menjaga esensi tradisi Batak, bukan hanya pada ritual-ritual yang tidak esensial. Jika LABB dapat melakukan hal-hal di atas, maka LABB dapat menjadi lembaga yang lebih efektif dalam menjaga dan mengembangkan budaya Batak. Namun, pertanyaan, apakah LABB siap untuk tantangan ini?
Penulis adalah Ketua Pelaksana Forum Jurnalis Batak (FORJUBA)
