Mengapa Gengsi Menghantui Pesta Adat Batak, Quo Vadis LABB?
Belum lagi gedung adat Batak di Jakarta, rata-rata berkapasitas seribu orang, dengan biaya sewa yang berkisar 50-100 juta rupiah untuk satu hari. Gedung-gedung tertentu sudah dikenal sebagai gedung mewah, sehingga jika pesta diadakan di sana, pasti yang punya Ulaon orang terpandang dan semua tamu akan terkesan.
Katering pun tidak kalah pentingnya. Vendor katering biasanya sudah punya minimum order tertentu, tergantung pada gedung dan kerjasama dengan vendor tersebut. Minimum ordernya bisa mencapai ribuan porsi untuk katering adat dan lima ratusan untuk katering nasional. Kekurangan makanan di pesta adat Batak adalah hal yang paling tabu, sehingga tuan rumah harus memastikan bahwa semua tamu terlayani dengan baik.
Sekali lagi, apakah kita harus menghabiskan uang sebanyak itu? Alasannya, sekali seumur hidup, jadi pengantin perempuan harus terlihat heboh bin glamor bin mewah. Dan, apakah pernikahan yang dibuat mewah itu sudah pasti tidak cerai?
Sekedar perbandingan. Data statistik resmi perceraian di Jakarta memang tidak mengelompokkan kasus berdasarkan suku atau etnis, seperti Batak. Tetapi kita menggambil rata-rata. Kita bisa melihat gambaran umum angka perceraian di Jakarta. Pada tahun 2024, tercatat total 12.149 kasus perceraian di DKI Jakarta, dengan rasio perceraian mencapai 30% dari total pernikahan. Ini rata-rata tiap tahun. Ini menunjukkan bahwa hampir satu dari tiga pernikahan di Jakarta berakhir dengan perceraian. Faktor penyebab perceraian umumnya perselisihan dan pertengkaran namun faktor utama adalah ekonomi.
Demi kemewahan itu, kebaya brokat harus yang kualitas tinggi dan full payet, songket dan selendang harus baru berharga puluhan jutaan rupiah, make-up dan hair-do harus dari salon terkenal, tak lupa perhiasan emas yang bikin silau mata. Tapi, apakah semua itu benar-benar penting? Apakah kita tidak bisa lebih sederhana dan fokus pada yang lebih penting, yaitu kebahagiaan pengantin?
Tapi, yang lebih parah adalah ketika pengantin perempuan ditekan untuk memakai baju pengantin yang mewah, make-up yang berlebihan, dan perhiasan emas yang banyak, hanya karena ingin memenuhi ekspektasi keluarga dan tamu.
Kalau sampai ada pengantin Batak yang memakai baju pengantin warisan ibunya atau make-up dan rambut bergaya minimalis, sudah bisa dipastikan pengantin tersebut akan jadi bahan gunjingan tamu. Keluarga pengantin akan mendikte dan ‘menekan’ calon mempelai perempuan dengan kata-kata yang tidak menyenangkan, sehingga si pengantin perempuan menjadi stres dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri di hari bahagianya.
Seragam tamu undangan pun tidak luput dari perhatian. Semua harus serba mewah dan serba baru, seolah-olah pesta adat Batak adalah ajang pamer kekayaan. Lagi, pernyataan menohok, apakah kita tidak bisa lebih sederhana dan fokus pada yang lebih penting, yang lebih bermakna? Entah sejak kapan dan dari mana kebiasaan memberikan seragam kepada para tamu undangan. Padahal seragam keluarga bukan suatu keharusan tetapi diada-adakan. Dalam pernikahan adat Batak, pasti keluarga mempelai mengalokasikan dana untuk membeli seragam keluarga. Padahal pembelian seragam ini termasuk salah satu unsur yang biayanya dapat ditekan.
Jujur saja, menurut saya terkadang ‘perseragaman’ ini memberatkan keluarga mempelai. Mengapa? Karena kalau hanya orang tertentu saja yang diberikan, yang lain akan iri. Bahkan ada yang terang-terangan bertanya, “seragam untuk saya mana?”. Masih mending hanya bertanya seperti itu, tapi ketika muncul satu pertanyaan lagi, “uang jahitnya mana?”. Tak terbayang pusingnya keluarga mempelai!
Berempatilah pada calon pengantin dan keluarganya. Lihat-lihat bagaimana latar belakang finansial keluarga tersebut sebelum meminta. Bahkan bila kalian dimintai bantuan untuk jadi bridesmaid atau bestman, terima lah dengan sungguh-sungguh (jika memang mau) tanpa meminta imbalan seragam, sepatu dan macam-macam. Jika calon pengantin mengalokasikan untuk itu syukuri, tapi jika tidak ya jangan protes apalagi menolak permintaan mereka.
