PAMERAN TENUN ULOS 2026: Menenun Harapan, Merajut Kemandirian di Plaza Industri Kemenperin
Ulos bukan sekadar kain
Sebanyak 50 Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM unggulan binaan FKP HKBP hadir memeriahkan, mulai dari ulos ragam corak, songket, busana “ready-to-wear,” tas kulit, aksesori, pernak-pernik kerajinan hingga kuliner khas Batak yang menggugah selera.
Pameran ini digelar secara khusus dalam rangka menyambut Hari Ulos Indonesia yang diperingati setiap 17 Oktober, sebagai momentum memperkuat kecintaan generasi muda terhadap wastra nusantara.
Acara pembukaan pada Selasa, 13 Oktober 2026, berlangsung khidmat dan penuh warna budaya, dihadiri langsung Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, jajaran Dirjen IKMA, dan Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST.
Dalam sambutannya, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan, bahwa pelestarian ulos tidak boleh berhenti pada sekadar menjaga agar kain itu tetap ada.
“Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya,” tegas Sarmuji.

Menurut Sekretaris Jenderal Partai Golkar ini, ulos bukan sekadar produk budaya, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas, tradisi, dan penghidupan masyarakat Batak yang di dalamnya tersimpan ketekunan, keterampilan, dan kearifan lokal turun-temurun.
Sementara dari sisi rohani dan budaya, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan memberikan pesan yang mendalam dan menyejukkan tentang relasi iman dan budaya.
Ephorus menegaskan, Ulos bukan sekadar kain. Ulos adalah warisan nilai, ungkapan kasih, tanda penghormatan, doa, pengharapan, dan ikatan persaudaraan yang hidup.
Di dalam setiap helai ulos, kata Ephorus, tersimpan kearifan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak dibangun sendirian, melainkan melalui kasih, kepedulian, dan ikatan yang saling menguatkan.
Sebagai gereja yang hidup dan bertumbuh di tengah kebudayaan Batak, HKBP, lanjut Ephorus, berkomitmen untuk merawat kearifan lokal dalam terang Injil.

Iman Kristen, jelasnya, tidak mengajak untuk merendahkan warisan budaya, melainkan menilainya dengan bijaksana, memelihara segala sesuatu yang baik, serta mengarahkannya bagi kehidupan yang semakin manusiawi dan memuliakan Tuhan.
Dalam konteks itu pula, Ephorus menyampaikan imbauan penting yang menjadi penekanan rohani pameran ini.
“Janganlah ada orang Kristen yang membakar atau menghancurkan ulos atas nama Alkitab atau Tuhan. Kita perlu membedakan dengan bijaksana antara iman kepada Kristus dan penghargaan terhadap warisan budaya,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi jembatan teologis yang dewasa: tidak setiap warisan budaya harus diterima tanpa penilaian, tetapi tidak pula setiap unsur budaya patut ditolak tanpa pemahaman yang benar.
HKBP pada kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Perindustrian atas dukungan dan ruang yang diberikan untuk menampilkan keindahan sekaligus potensi ekonomi warisan budaya bangsa.
