PAMERAN TENUN ULOS 2026: Menenun Harapan, Merajut Kemandirian di Plaza Industri Kemenperin
Menenun Harapan, Merajut Kemandirian
Sementara itu, Ketua Umum FKP HKBP Dra. Sandra Sidabutar menegaskan, bahwa pameran ini adalah wujud nyata pelayanan perempuan gereja yang tidak hanya berdoa, tetapi juga bekerja dan memberdayakan.
Tema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian” mengandung makna teologis yang dalam: budaya bukan sekadar warisan masa lalu untuk disimpan di lemari, melainkan sumber kehidupan yang menopang masa depan.
Di balik setiap helai ulos, ada ketekunan dan doa perempuan penenun. Di balik setiap produk kerajinan dan sajian kuliner, ada kerja keras, kreativitas, serta harapan sebuah keluarga untuk hidup lebih baik.
Karena itu, memberdayakan perempuan bukan sekadar memberi kesempatan bekerja, melainkan mengakui martabat, kemampuan, dan peran strategis mereka sebagai tiang keluarga, pilar masyarakat, dan pembangun bangsa.
Dari sisi industri, Dirjen IKMA Kemenperin Reni Yanita menjelaskan, komitmen pemerintah memperkuat ekosistem industri ulos melalui penguatan SDM, pelatihan kewirausahaan, webinar, dan penumbuhan wirausaha baru.
Ia juga menyebutkan, capaian penting: Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis, sebagai aset kekayaan intelektual komunal masyarakat.

Data pun menunjukkan harapan baru. Kinerja ekspor tenun ikat Indonesia pada Semester I 2026 mencapai USD 34 ribu, naik 150 persen dibanding periode sama tahun lalu, dengan 43 sentra tenun ulos tercatat di Sumatera Utara.
Kini ulos telah bertransformasi menjadi beragam produk modern: busana siap pakai, aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata yang diterima pasar nasional bahkan berpeluang menembus pasar global.
Namun, di balik gemerlap pameran, pesan rohaninya tetap pulang ke satu titik: warisan yang dipelihara dengan kasih, dikembangkan dengan kreativitas, dan ditopang oleh kemandirian ekonomi akan menjadi berkat.
Karena itu, ajakan mari hadir di Plaza Industri Kemenperin hingga 15 Oktober 2026, bukan hanya untuk mengenakan dan menikmati ulos, tetapi untuk menghargai tangan-tangan yang menenun, menjaga warisan budaya, serta mendukung kemandirian perempuan dan masyarakat.
Sebab ketika kita menenun harapan dan merajut kemandirian, kita sesungguhnya sedang merawat iman yang berakar dalam Kristus sekaligus memuliakan martabat budaya yang Tuhan percayakan kepada kita. (Hojot Marluga)
