Percaya, Bekerja, dan Menanti Waktu Tuhan: Renungan Dari Dr. Waldensius Girsang
Kesaksian Seorang Medis
“Sering saya katakan, Bapak Ibu… karena saya latar belakang medis,” ujarnya.
Dari ruang praktik ia membawa logika berbeda ke mimbar. Seorang dokter tahu batas ilmu. Ia tahu ada penyakit yang tidak bisa diselesaikan dengan analisis berulang.
“Bapak Ibu, jangan terlampau banyak mikir macam-macam, apa segala.”
Bukan berarti berhenti berpikir. Tapi berhenti meremukkan diri dalam pikiran yang tidak membawa ke mana-mana.
Jawabannya serahkan pada iman: Pasti. Karena ada Tuhan yang memegang. “Wajar kita sebagai manusia berpikir. Kalau enggak mau berpikir, sering saya katakan…”
Ia tidak menolak nalar. Ia menolak kepanikan. Iman, baginya adalah pikiran yang sudah diserahkan. Logika yang sudah berlutut. Analisis yang berhenti di kaki Salib dan berkata: “Cukup Tuhan.”
Maka khotbah ini bukan anti-intelektual. Ini anti-kecemasan. Jika medis mengobati tubuh, maka Iman mengobati cara kita memandang hidup. Karena tanpa Iman, hidup hanya jadi deretan “bagaimana kalau…”. Dengan Iman, hidup menjadi kesaksian: “Ternyata ada Dia.”
Dan mungkin itu alasan mengapa ia terus mengulang: Tenang. “Kamu anak yang Kukasihi”. Tuhan tidak akan membiarkan kita hancur. Firman itu jatuh seperti embun. Lembut, tapi menghidupkan.
“Firman Tuhan hari ini mengatakan: karena kasih-Nya terhadap hidup kita…” Kalimat itu bukan slogan. Ia adalah jaminan.
Lagi dia mengatakan, “Percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita ditindaklanjuti, disakiti, ditekan, dan dikecewakan. Tidak mungkin, kan?”
Tindaklanjuti oleh masalah. Disakiti oleh manusia. Ditekan oleh keadaan. Dikecewakan oleh harapan. Empat tembok itu runtuh di hadapan satu fakta: Kasih-Nya.
Karena jika Allah sudah menyebut kita anak, maka Ia tidak akan membuang kita ke tengah jalan.
