Percaya, Bekerja, dan Menanti Waktu Tuhan: Renungan Dari Dr. Waldensius Girsang
Kisah Anak Hilang
Nada itu berubah. Menjadi narasi. “Coba anak yang hilang, sudah ke mana-mana dia jalan. Sampai sudah makan makanan yang kotor-kotor di luar…” Gambar itu gamblang: anak bungsu. Jauh dari rumah. Habis harta. Habis harga diri. Makan ampas babi. Tapi ceritanya tidak berhenti di kandang babi.
“Tapi dia…” Kalimatnya menggantung. Karena setiap orang percaya tahu kelanjutannya: Bapanya berlari menyambut. Jubah dikenakan. Cincin dipasang. Pesta digelar. Kotor, tapi tetap anak. Hancur, tapi tetap dikasihi.
Maka narasi ini menampar satu kebohongan: bahwa dosa membuat kita kehilangan status. Menjauhkan kita. Kasih Bapa lebih keras dari kotoran kita. Tuhan tidak sedang menghitung seberapa bersih engkau hari ini.
Ia sedang mengingatkan: Engkau anak-Ku. Dan Aku tidak akan membiarkanmu ditinggalkan. Karena itu, mau sejauh apa pun engkau tersesat, pulanglah. Rumah itu masih ada. Dan Bapa itu masih menunggu.
Menutup seluruh khotbah. Sederhana, tapi membelah. “Artinya hidup bersama dengan Dia, bukan hidup duniawi lagi.” Pernyataan itu bukan ajakan pindah agama. Ia adalah ajakan pindah pusat. Dari diri, kepada Dia. Dari fana, kepada kekal.
“Serta pengharapan yang dimiliki oleh setiap orang benar… inilah yang akan membawa kita melihat janji-janji Tuhan menjadi nyata.”
Pengharapan di sini bukan angan-angan. Ia adalah kompas. Ia menuntun langkah orang benar melewati musim kering, sampai ia berdiri di depan janji yang dulu hanya ia imani dalam air mata.
Dan janji itu nyata. Bukan karena kita hebat membuatnya. Bukan kita yang membuat, tapi Dia yang mengalir. “Yang kita buat-buat, Bapak Ibu? Memang mengalir di dalam hidup kita.”
Di titik ini sebagi pengkhotbah membongkar kemunafikan rohani yang paling halus: transaksi dengan Tuhan. “Jadi jangan kita sangka, kalau saya rajin ke gereja saya pasti… pasti….” Ibadah bukan struk pembayaran. Kesetiaan bukan faktur untuk ditagih. Karena berkat tidak lahir dari kalkulasi. Ia mengalir. Dari takhta kasih, kepada bejana yang terbuka.
Menutup renungan, maka hidup bersama Dia adalah hidup yang berhenti menuntut, dan mulai percaya. Berhenti menghitung, dan mulai mengalir. Karena pada akhirnya, janji Tuhan tidak dikejar dengan transaksi, tapi dijemput dengan penyerahan.
Keterangan:
tulisan ini dikutif dari Khotbah ini
