Pertemuan Bersejarah Kelompok Marga Siopat Ama dengan Tulangnya Pandiangan

Beranjak dari kondisi inilah JMT Pandiangan, penasehat dan mantan Ketua Toga Pandiangan Indonesia, berkomunikasi dengan seorang tokoh Parna Nusantara Manatar Simbolon untuk menggagas pertemuan antara kelompok marga Siopat Amat dengan Tulangnya marga Pandiangan dengan tujuan mempererat tali silaturahmi dan kekerabatan. Gagasan ini bak gayung bersambut sejumlah pengurus marga Siopat Ama menyambut gembira usulan tersebut. Meski hanya bersifat silaturahmi, namun boleh dikatakan pertemuan Tulang dengan Bere ini merupakan moment bersejarah, yang baru pertama kalinya dilaksanakan di Jabodetabek. Karena kedua marga, boleh dikata belom pernah melaksanakan pertemuan adat atau sekadar silaturahmi, akibat ketidaktahuan dan kurangnya informasi selama ini.

Hadir dari kelompok marga Siopat Ama, Sidabutar, Johny Buyung Sidabutar, Kamrol Sidabutar, dari Sijabat, Pardamean Sijabat, dari Siadari, Jansen Siadari, mewakili Sidabalok, Jhon Prinson Sidabalok, dan beberapa tokoh marga Siopat Ama, sementara dari pomparan Tamba Tua lainnya hadir Kol. TNI (purn) Parlin Rumahorbo, Ketua Parna Nusantara, Rommel Tamba dan Pentus Napitu. Sedang dari marga Pandiangan hadir  Ir. JMT Pandiangan SE, MM, yang juga saat ini ketua umum Pomparan Siraja Lontung sedunia, juga hadir, Berlin Pandiangan SH MH, Harapan Pandiangan, Harold Pandiangan dan  Edward Pandiangan.

Manatar Simbolon (tengah) diaput Rommel Tamba dan Pentus Napitu

Sekadar untuk diketahui marga Pandiangan yang menjadi tulang Siopat Ama, merupakan anak ketiga dari keturunan Siraja Lontung. Dan yang menjunjung dan menggunakan marga Pandiangan sampai saat ini adalah pomparan Raja Humirtap, yakni generasi ke lima dari Toga Pandiangan. Sebelumnya juga yang menjadi pamoruan (amang boru) Pandiangan sekitar lima ratus tahun lalu adalah marga Aruan.

Petemuan silahturahmi namar-tulang namar-bere tersebut berlangsung penuh keakraban dan kekeluargaan. Tokoh dan pengurus marga Siopat Ama mohon maaf  bila seama ini mereka terkesan kurang perhatian, kurang mengapresiasi dengan eksistensi tulang mereka Pandiangan. Karena itu ke depan mereka berjanji untuk selalu mengingat pesan leluhur mereka, agar senantiasi menghormati dan mengingat marga Pandingan sebagai Tulang yang harus dihormati. Demikian juga marga Pandiangan sebagaimana dituturkan JMT Pandiangan, dirinya baru mengetahui bahwa boru Pandianganlah yang melahirkan Siopat Ama, setelah membaca buku sejarah Raja Sidabutar yang ditulis Asdon Hutajulu. Untuk memastikan informasi dari buku tulisan tersebut, JMT Pandiangan, menyempatkan waktu ke Tomok dan Ambarita dari Kalimantan, berkomunikasi dengan sesepuh marga Siopat Ama disana. Dan memastikan kebenaran apa yang dibacanya bahwa benar namboru mereka boru Pandiangan yang menjadi ibu dari Siopat Ama.

Kamrol Sidabutar, dalam pertemuan itu, memohon kepada tulangnya Pandiangan, agar selalu memanggil mereka kelompok Siopat Ama dengan sebutan bere, bukan amang boru,  karena pemanggilan bere lebih mendekatkan kekerabatan dan silsilah. Permohoan inipun disambut baik marga Pandiangan yang hadir. Dan ke depan Siopat Ama berjanji akan selalu mengundang/mengingat tulang Pandiangan bilamana ada acara perhelatan adat yang pelaksanaanya Siopat Ama. Pertemuan silaturahmi bersejarah ini ditutup dengan saling bersalaman dan foto bersama, kedua kelompok marga.  (Papa Jovanka Hj)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − 11 =