Prof. Dr Hotman M. Siahaan: Tantangan Orang Batak Ke Depan Bagaimana Meningkatkan Kualitas Punguan (Organisasi)

Apakah ada kearifan budaya Batak yang bisa dijadikan pijakan untuk itu?

Sungguh banyak kearifan budaya Batak yang bisa dijadikan pijakan untuk menghadapi globalisasi. Misalnya kearifan dalam konsep “punguan”, apakah “punguan” na sa marga, na saompu, sahuta, dan berbagai punguan lainnya yang begitu kukuh dipertahankan orang Batak dimanapun, bahkan di “huta sileban” yang manapun, adalah kearifan yang mumpuni sebagai modal sosial (social capital).  Masalahnya adalah bagaimana mengelola kecenderungan akan “punguan” itu sebagai modal sosial. Sebab salah satu tantangan globalisasi adalah bagaimana meningkatkan kualitas modal sosial. Mereka yang memiliki modal sosial yang kuat, pada umumnya akan mampu bersaing dalam konteks globalisasai. Masalahnya, saya melihat memanfaatkan “punguan” orang Batak untuk menjadi modal sosial itulah yang masih lemah selama ini.

Seperti apa sebenarnya budaya punya kekuatan mempertahankan identitasnya menghadapi globalisasi?

Budaya yang  memiliki competitive advantage yang tinggi, itulah yang bisa mempertahankan identitas menghadapi globalisasi. Kebudayaan seperti itu adalah kebudayaan yang selalu lentur, adaptive, namun memiliki nilai-nilai kepirbadaian yang kokoh. Nilai-nilai yang tersirat dalam Budaya Dalihan Na Tolu sesungguhnya memiliki competitive advantage itu, asal saja dia dipahami sebagai kata kerja, bukan sebagai kata benda.

Dalihan na Tolu sebagai filosofi hidup orang Batak, apakah punya kekuatan menghadapi terpaan globalisasi?

Jelas punya . filosofi Dalihan Na Tolu adalah emansipatoris, demokratis, seimbang, selaras. Adanya yang satu adalah karena topangan yang lain, dan karena itu, ketiga tungku harus berada pada posisi yang sejajar meski dalam peran yang berbeda demi menjaga yang lain. Itulah filosofi yang sangat mumpuni menghadapi terpaan globalisasi.

Adakah kearifan budaya Batak yang mengajarkan  adaptasi dalam konteks inovasi budaya?

Ada banyak kearifan itu. Seperti sudah dijelaskan di atas tadi, banyak nilai-nilai budaya Batak yang bisa mengajarkan adaptasi budaya dan sikap inovatif, asal saja sikap budaya adalah emansipatoris. Memberdayakan.

Seperti apa seharusnya peran orang Batak, agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan konteksnya pada era sekarang?

Ya peran yang emansipatoris itu. Sikap kritis dan memberdayakan, tidak merasa benar dan pintar sendiri. (HM)

Keterangan:

Wawancara ini pernah dimuat di Harian Batak Pos, tahun 2011

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + fifteen =