Semangat Pembelajar Ala Monang Sianipar

Namun nyatanya ekonomi menentukan. Kondisi itulah yang menyadarkannya membawah belajar terus menerus, sebab sebagai pengusaha tak ada pilihan lain kecuali harus menguasai ilmu kepiting, sebagai pengusaha dia tak punya peluang untuk kuliah ataupun mengikuti kursus yang berhubungan dengan keuangan. Semula karena keterpaksaan, dia belajar sendiri melalui buku, dia bertanya pada orang yang berilmu pengetahuan di bidang usaha yang digelutinya. Justru itulah yang membuatnya survival sebagai seorang pembelajar sejati.

Sebagai pengusaha dia belajar sendiri mandiri hingga mumpuni. Daya tahannya kuat. Dia berhasil mendesain suatu sistem administrasi keuangan yang kemudian dia manfaatkan dalam membangun MSA Cargo dan jaringannya.Dengan sistem yang dia temukan itu Monang berhasil mengendalikan kegiatan bisnis yang besar yang begitu kompleks di belasan kota, dengan sistem itu dia juga bisa mengetahui segala aktivitas dari unit usaha setiap hari dalam bentuk laporan keuangan.

Ternyata bermanfaat bagi dia untuk mengendalikan cash flow perusahaan dalam bentuk neraca setiap hari, sehingga kalau terjadi ketidaksesuaian dia dapat melakukan tindakan penyelamatan secara dini.Berangkat dari pengalaman tersebut meyakini bahwa kita dapat menyebabkan otodidak, belajar sendiri, secara mandiri apabila ada kemauan keras. Jika ada ada kemauan disitu ada jalan, seperti itulah prinsip yang dimilikinya.

Monang bersama istri

Selain itu, Monang juga penggali manajemen budaya perusahaan, dia mudah menjalankan layanan yang dia sebut ada keseragaman cara melihat, cara berpikir dan cara bertindak, dengan penuh keyakinan dia terus belajar Apa yang menarik baginya termasuk mau belajar memotret, memelihara anggrek, belajar berbahasa Inggris dan lucunya juga bisa belajar arsitektur dan desain.

Itu sebabnya di usia tua dia terus hampir tak pernah berhenti setiap waktu berubah, selalu ada perbaikan di Toba Tabo, lapo yang sangat terkenal itu. Justru pada tingkat kesibukan yang semangat tinggi itu pun Monang juga masih memberi hatinya mengelola majalah bernuansa etnik Batak Bona ni Pinasa, media Kargo, belakangan juga menerbitkan media Toba Dream yang juga akhirnya stop terbit.

Tentu, pengalamannya mengelola media membawanya berkesempatan menulis. Walau sehebat sastrawan menulis namun dia tergolong orangtua Batak yang mampu menampilkan karya tulis dari hasil pemikirannya yang otentik. Maka bertolak dari pengalaman tersebut keempat anaknya setelah menamatkan SMA tak dianjurkan untuk melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, meskipun secara finansial dia mampu menyekolahkan, bahkan hingga ke luar negeri sekalipun.

Namun dia hanya mencoba berpikir terbalik dari banyak kebanyakan orang yang meyakini anak-anaknya harus bersekolah tinggi, bergelar tinggi, bahwa belajar adalah dari pribadi, suatu proses tak ada akhirnya selama hidup manusia harus belajar. Manusia pembelajar itulah yang dikembangkannya terus-menerus, sehingga usaha MSA Cargo berkembang pesat.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 5 =