Semangat Pembelajar Ala Monang Sianipar

Mengutif tulisan teman saya, Junior Nainggolan di Warningtime.com menyebut, “Hidup saya ini mukjizat. Pendidikan saya sangat rendah. Namun dengan langkah kecil saya sampai juga ke Jakarta. Dulu pernah diterima karyawan Garuda tetapi hanya tiga tahun berkerja. Saya akhirnya memberanikan diri untuk membuat perusahaan sendiri. Dengan hanya mengandalkan vespa memulai usaha. Ini Mukzijat. Tuhan yang memberikan semuanya. Dari awalnya 1 kota hingga kini 11 kota. Bersyukur karena banyak karyawan yang loyalitas tinggi hingga ada masa kerja 20-30 tahun,” ujar Monang, sebagaimana dikuti Pemred majalah GAHARU.Sebagai manusia pembelajar kita bisa belajar bagaimana Monang menanamkan kesadaran bahwa di depan kita terbentang masa depan.

Tentu, banyak permasalahan yang rumit karena perubahan teknologi yang begitu cepat.Kisah pria Batak kelahiran Medan, 2 Juni 1940 (meninggal, Sabtu, 11 Juli 2021) memulai pendidikan dasar menengah hingga atas di sekolah Nasrani Medan. Sempat masuk fakultas teknik universitas Sumatera Utara, tetapi hanya enam bulan saja. Tak kuliah, lalu merantau ke Jakarta selama tiga tahun tak mendapat pekerjaan, kemudian kembali ke Medan dan diterima bekerja sebagai pesuruh di perusahaan tekstil tahun 1964.Bosan sebagai karyawan dia mengikuti tes dan berhasil masuk di sebuah perusahaan penerbangan Garuda Indonesia Airlines (GIA).

Namun tahun 1968 diberhentikan karena terlibat ormas terlarang, lalu dia ikut mendirikan bisnis tour dan travel PT Kostour, namun beberapa tahun kemudian dia mengundurkan diri dan mendirikan bidang yang sama diberi nama PT Bonansa Holiday. Tahun 1980 menjadikan MSA Cargo dan kini sudah memiliki belasan kantor di Indonesia. Di tengah kesibukannya mengelola perusahaan Monang masih memberi hati mengelola lembaga sosial yang bernama Toba Dream, sejak tahun 2002 hingga akhir hidupnya.

Dia memang manusia unik. Tepat 24 Februari 1968 dia menikah dengan Elly Rosalina Kusuma seorang putri Sunda yang kemudian hari jadi seorang Kristen, mereka diberkati di gereja GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat, kemudian hari anggota jemaat di sana sampai akhir hidupnya. Dari pernikahannya Tuhan anugerah empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan.Lagi, semangat pembelajaran tak pernah berhenti. Semangat berjuangnya itu patut jadi inspirasi. Menyadari latar belakang pendidikan yang kurang baik, dia memilih jadi pengusaha. Ternyata menjadi berkah tersendiri baginya. Sebagai pengusaha mampu mendorongnya untuk terus belajar, belajar hingga akhir hayat.

Awalnya, dia merasa malu dan rendah diri melihat teman-temannya mampu meneruskan kuliah dan memperoleh gelar sarjana. Faktanya memang mereka, teman-temannya lebih cepat mendapat pekerjaan, sedangkan dirinya harus menunggu lama bahkan, agak lama menganggur.Di Jakarta Monang mencari pekerjaan di berbagai perusahaan, bahkan sampai ke Surabaya tetapi tak satupun perusahaan yang mau menerimanya. Rentetan kegagalan yang tak berujung itu membuat orang tuanya khawatir dan menyuruhnya pulang kampung dan bekerja di sebuah perusahaan milik Karel Sianipar company (Karsitex). Sadar kurang titel, membawanya memilih sebagai pengusaha.

Tentu, jadi pengusaha pun dengan keputusan nekad. Padahal waktu itu dia buta sama sekali soal administrasi keuangan, operasional usaha dan pemasaran, manajemen dan lain sebagainya soal mengelola usaha. Aktivitas sebagai pengusaha tentu menuntut pengetahuan yang baik.Di masa muda sebenarnya Monang memilih ingin jadi seniman, sebagai sastrawan yang popular.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − 5 =