SEMINAR “MANJOMPUT NA SINURAT” SOROT POLITIK SEKULER DI GEREJA: DARI DEMOKRASI KE TEOKRASI
“Gereja Bukan Milik Popularitas”
Kritik paling tajam datang dari Mantan Sekretaris Umum PGI, Pdt. Emeritus Dr. Richard Daulay. Ia membedah dari kacamata sosiologi dan struktur organisasi gereja-gereja berlatar Batak.
Menurutnya, voting atau undi hanyalah mekanisme. Akar persoalannya adalah besarnya kekuasaan yang melekat pada jabatan pimpinan. Khususnya hak prerogatif appointment, hak menempatkan pendeta.
“Dalam sistem gereja dikenal sending pastors, pimpinan berhak menempatkan pendeta tanpa pertimbangan jemaat. Dan calling pastors, jemaat yang memanggil pendeta. Gereja-gereja Batak umumnya menganut sending pastors,” jelas Pdt. Daulay.
“Besarnya kuasa itu membuat jabatan pimpinan sinode sangat ‘menggiurkan’ dan diperebutkan keras. Andaikata kuasa penempatan ini dimodifikasi menjadi calling pastors atau kombinasinya, saya yakin perebutan jabatan tidak akan setegang sekarang.”
Ia menambahkan, sistem voting berisiko menjadikan gereja milik popularitas manusia. “Sementara metode cabut undi menegaskan bahwa gereja adalah milik Kristus.”
Berkaca pada HKI: 88,9% Nyatakan Efektif
Seminar ini tidak berhenti pada teori. Pdt. Riston Eirene Sihotang, S.Si., M.Hum, membawa bukti dari Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI).
HKI telah memberlakukan Manjomput na Sinurat sejak Sinode 2015 untuk menyudahi perseteruan antar-pelayan akibat pemilihan langsung yang memanas.
Berdasarkan riset dan kuesioner internal HKI, hasilnya signifikan. “Sebanyak 88,9% responden menyatakan sistem ini sangat efektif mendinginkan tensi politik gereja. Dan 81% sepakat sistem ini dipertahankan, dengan catatan evaluasi penjaringan calon harus lebih ketat,” papar Pdt. Riston.
Bagi HKI, cabut undi bukan sekadar mengubah teknis pemilihan. “Ini mengubah teologi gereja. Dari Demokrasi, suara terbanyak menang, menjadi Teokrasi, Kedaulatan Allah yang mutlak,” tegasnya.
“Kembali pada Semangat Alkitab”
Diskusi berlangsung dinamis. Pertanyaan kritis muncul: apakah metode ini relevan di era modern? Bagaimana mencegah undi menjadi cara menghindari tanggung jawab?
“Justru karena itu kita butuh tahap satu dan dua,” “Kalau calon tidak Alkitabiah dan tidak didoakan, maka undi memang jadi judi.”
Manjomput na Sinurat bukan nostalgia buta. “Ini ajakan kembali pada semangat: Tuhan yang memilih, bukan manusia yang memaksakan.”
Di akhir seminar, peserta diminta menulis komitmen. Banyak yang mencatat: “Perpanjang masa doa sebelum pemilihan” dan “Tegakkan syarat Alkitabiah, bukan syarat popularitas”.
“Gereja tidak butuh pemimpin hebat. Gereja butuh pemimpin yang dipilih Tuhan.”
Panitia menyatakan, seminar serupa akan digulirkan ke 5 kota besar lain tahun ini. Harapannya jelas: semakin banyak gereja berani “menjemput yang tertulis”, dan berani menyerahkan masa depan kepemimpinannya kembali ke tangan Tuhan.
