Tegaskan Pakta 5 Anak 1 Boru, Parna Nusantara Siapkan LBH dan Road Show Nasional

Bagi Saud, kejelasan itu adalah pakta integritas bahwa Pomparan Raja Naiambaton terdiri dari 5 anak laki-laki dan 1 boru. Kejelasan identitas dan silsilah inilah yang menjadi fondasi utama membangun kebersamaan. Untuk itu, ia mengimbau seluruh pomparan agar tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan harus bahu-membahu, bergotong royong membesarkan Parna Nusantara sebagai rumah besar bersama.

Terkait arah kerja ke depan, ia berpesan keras agar program tidak berhenti di tataran wacana. Ia menekankan pentingnya eksekusi program yang cepat dan terukur. Menurutnya, keberhasilan membangun kepercayaan pomparan di akar rumput sangat ditentukan oleh seberapa cepat pengurus mampu bekerja nyata dan menunjukkan hasil.

Sementara itu dari sisi fungsi komunikasi organisasi, Sekretaris Jenderal Parna Nusantara, Heber Simbolon, SE., MSc, menegaskan peran vital Sekjen sebagai jembatan komunikasi. Hal itu ia sampaikan usai rapat di kantor sekretariat Jalan Palem, Komplek Bambu Apus, Jakarta Timur.

Heber menjelaskan, tantangan terbesar organisasi marga sebesar Parna Nusantara adalah memastikan informasi dan kebijakan dari pusat sampai secara utuh kepada seluruh anggota, mulai dari tingkat wilayah, daerah, kecamatan, hingga sektor di kelurahan. Rapat perdana ini, kata dia, adalah cara konkret menjawab harapan besar masyarakat Parna se-Nusantara.

Ia juga menyinggung pentingnya menjaga marwah dan sejarah marga melalui media sosial. Pihaknya secara konsisten terus menyuarakan pakta integritas Parna bahwa Pomparan Raja Naiambaton adalah lima anak dan satu boru. “Kalau ada orang yang mengatakan Sidua Ompu, jelas itu kita menolak,” tegas Heber, menutup pernyataannya dengan komitmen meluruskan sejarah.

Dari bidang hukum, Ketua Bidang Humas, Hukum & HAM Parna Nusantara, Pentus Napitu, SH., MH, yang juga perwakilan Marga Napitu dan Raja Napitu Indonesia, menyatakan berada di barisan terdepan menyukseskan program strategis pusat. Ia menegaskan dukungannya baik secara pribadi maupun organisasi.

Menurut Pentus, Parna Nusantara tidak boleh hanya besar di tingkat pusat, tetapi harus hadir hingga ke akar rumput. Ia menekankan gerakan harus menyentuh desa-desa untuk menjangkau seluruh marga Parna di pelosok. Untuk itu, ia mendorong pengurus pusat aktif melakukan road show ke daerah-daerah guna memperkuat konsolidasi dan soliditas pomparan.

Aspek penopang yang tak kalah krusial juga disorot Bendahara Umum Parna Nusantara, Dr. Bontor Sitio. Ia menegaskan bahwa kekuatan organisasi sosial tidak hanya terletak pada gagasan dan militansi, tetapi juga pada tata kelola keuangan yang sehat dan akuntabel. Dana adalah darah yang menghidupi setiap gerak organisasi.

Bontor sepakat bahwa transparansi menjadi kunci utama. Sejak awal, pihaknya berkomitmen menerapkan sistem pencatatan keuangan yang detail dan dapat dipertanggungjawabkan. Setiap rupiah yang masuk, baik dari donatur maupun sumber lain, wajib tercatat penggunaannya secara rinci sehingga dapat dilaporkan terbuka kepada pengurus, anggota, dan publik.

Dengan rampungnya rapat perdana ini, Parna Nusantara kini memasuki fase baru. Jika konsolidasi struktur di seluruh provinsi berhasil dirampungkan dalam satu tahun dan program-program seperti LBH serta road show ke akar rumput dapat dieksekusi secara nyata, maka cita-cita menjadikan Parna Nusantara sebagai rumah besar Pomparan Raja Naiambaton yang solid, terlindungi secara hukum, dan jelas secara sejarah bukan lagi sekadar harapan, melainkan sebuah kenyataan yang sedang dibangun bersama. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + twelve =