Percaya, Bekerja, dan Menanti Waktu Tuhan: Renungan Dari Dr. Waldensius Girsang

Suaratapian.com-Ada satu kalimat yang kerap menjadi pegangan banyak orang di tengah penantian panjang: “Percaya Tuhan bekerja. Indah pada waktunya.” Kalimat sederhana itu pula yang dihidupi Dr. dr. Waldensius Girsang, Sp.M(K), seorang dokter spesialis mata konsultan dan akademisi. Bagi dr. Waldensius, keyakinan bukan sekadar kata di bibir. Ia menjadi fondasi cara menjalani profesi, riset, dan pengabdian. “Orang benar hidup karena percayanya,” ujarnya, mengutip prinsip iman yang ia jadikan kompas. Dalam dunia medis yang menuntut bukti, data, dan ketepatan waktu, memilih menautkan kerja keras dengan penyerahan. Di belakang namanya adalah jejak dari tahun-tahun belajar, praktik klinis, dan penelitian yang tidak instan.

Filosofinya jelas: bekerja maksimal adalah bentuk tanggung jawab manusia, sementara hasil terbaik diserahkan pada waktu Tuhan. Karena itu, setiap pasien yang ditangani dan setiap ilmu yang ia bagi, dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tanpa tergesa menuntut hasil.

Narasi hidupnya mengingatkan bahwa di antara ikhtiar dan takdir, ada ruang bernama percaya. Percaya bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil, dan bahwa setiap musim memiliki waktunya sendiri untuk menjadi indah.

Itulah potret seorang dokter yang memadukan kompetensi dengan iman: bekerja sebaik-baiknya hari ini, sambil percaya bahwa Tuhan sedang merajut segala sesuatu menjadi indah, tepat pada waktunya.

“Dia bekerja melalui hidup saya,” ujar Dr. Waldensius dan menyerukan mengubah paradigma iman. “Yang saya alami ini… adalah Dia bekerja melalui hidup saya,” ujarnya. Kalimatnya berhenti sejenak, seolah memberi ruang bagi keheningan untuk bicara.

“Bagaimana bisa begini?” Pertanyaan itu bukan keraguan. Itu takjub. Itu pengakuan seorang manusia di hadapan campur tangan Tuhan yang ia sendiri tak sanggup menjelaskan dengan logika. Ketika iman menjadi Bahasa. “Iman kita berbicara demikian,” lanjutnya. “Maka dikatakan: Bersyukurlah senantiasa.”

Di titik inilah Dr. Waldensius menampar cara berpikir yang mapan. Ia tidak sedang mengundang kita untuk sekadar “lebih giat berdoa”. Ia sedang membongkar fondasi: “Di sini kita harus merubah paradigma kita.”

Bukan Tuhan sebagai tambahan dalam hidup. Bukan Tuhan sebagai pelengkap saat susah. Tapi: Siapa sebenarnya Dia di dalam hidup kita?

Jawabannya ia berikan dengan satu kata: Kasih. “Begitu kasihnya di dalam hidup kita. Luar biasa.”

Luar biasa, karena kasih itu bekerja saat manusia tak mampu. Kasih itu menuntun saat jalan buntu. Kasih itu menjadikan hidup yang “tidak mungkin begini” menjadi kesaksian yang hari ini kita dengar.

Narasi Dr. Waldensius bukan tentang keberhasilan pribadi. Ia tentang Tuhan yang mengambil alih narasi. Tentang Dia yang menulis ulang kisah, di luar nalar, di atas kegagalan, di tengah badai.

Dan ketika seseorang benar-benar mengalami itu, satu-satunya kata yang tersisa bukan “hebat saya”, tapi: “Bersyukurlah senantiasa.”

Karena paradigma baru iman dimulai di sini: berhenti melihat diri sebagai aktor utama, dan mulai melihat Dia sebagai sutradara hidup.

Oleh karena itu ajakannya tempalah dirimu, supaya berkat itu tak jadi racun. Seruannya iman yang dewasa, bukan iman yang merajuk.

Nada suaranya meninggi. Bukan marah, tapi mendesak. “Ayo, tempalah mentalmu. Tempalah dirimu,” tegas Dr. Waldensius. Perintah itu terdengar keras, karena maksudnya dalam: “Supaya yang Kuberikan ini kau engkau bisa nikmati. Tidak menjadi racun bagi engkau.”

Baginya, bukan Tuhan yang pelit, kita yang belum siap. Di tengah gereja yang sering berdoa “Tuhan, aku mau dikasih”, Dr. Waldensius membalikkan arah.

“Jangan sikit-sikit: Dia enggak dikasih Tuhan… Tuhan kok mau dikasih racun sama kita?”

Kalimat itu menampar. Karena pertanyaannya bukan “Kenapa Tuhan tidak memberi?” tapi “Apakah kita sudah jadi bejana yang sanggup menampungnya?”

Berkat tanpa mental yang ditempa, katanya, bisa berubah wujud. Dari anugerah menjadi beban. Dari pintu menjadi jerat. Dari berkat menjadi racun.

Lagi-lagi di sinilah teologi Dr. Waldensius berdiri: Allah Bapa tidak memberi dengan sembarangan. Kasih-Nya tidak ceroboh. Ia tidak akan menyerahkan berkat besar kepada mentalitas anak kecil.

Karena anak kesayangan dididik, bukan dimanja. Ditempa, bukan dituruti. Titik baliknya iman. “Nah, itulah iman kita berbicara demikian.” Iman tidak merengek. Iman berkata: “Tuhan, bentuk aku dulu. Kuatkan aku dulu. Layakkan aku dulu.”

Jadi bukan karena Tuhan menahan. Tapi karena sekarang, engkau sudah siap menerimanya. “Kalau tidak melalui iman, mungkinkah kita hidup?”

Kalimatnya dimulai dari pertanyaan yang merobohkan fondasi. “Kalau tidak melalui Iman… mungkinkah ini tidak ada? Namanya hidup di dunia.”

Dr. Waldensius tidak sedang berfilsafat. Ia sedang membongkar akar kecemasan manusia modern: kita hidup, tapi kita hidup dalam ketakutan.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × five =