Pertemuan Bersejarah Kelompok Marga Siopat Ama dengan Tulangnya Pandiangan

suaratapian.com-Marga bagi masyarakat orang Batak, tidak hanya sekadar identitas kesukuan, tetapi juga menjadi simbol dan penanda garis kekerabatan serta kekeluargaan. Dalam masyarakat Batak  dikenal memiliki sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu dengan azas egaliter dan keseimbangan, dimana peranan marga menjadi tiang utama dari sistem kekerabatan tersebut. Dalam sistem kekerabatan orang Batak tersebut, masyarakat Batak sejak dahulu menganut sistem perkawinan marga yang melahirkan jalinan kekeluargaan na marhula-hula (tulang) dan boru. Salah satu unsur dalihan na tolu tersebut somba marhulahula  termasuk Tulang (keluarga pihak istri/ibu), mengharuskan orang Batak mengormati marga dari istri atau ibunya (hulahula atau tulangnya).

Berlatar dari unsur somba marhulahula/tulang inilah kelompok marga Siopat Ama (Sidabutar, Sijabat, Siadari dan Sidabalok) belum lama ini mengadakan pertemuan silaturahmi penting dengan tulangnya marga Pandiangan di lapo ni Tondong, Bekasi, (Jumat 14/8). Karena pertemuan tersebut baru kali pertama diadakan setelah selama ratusan tahun. Kelompok marga Siopat Ama adalah keturunan generasi keenam dari Tamba Tua, anak kedua dari Sorba Dijulu/Naiambaton (yang merupakan induk dari marga-marga Parna).

Foto Bersama Kelompok marga Siopat ama dengan tulangnya Pandiangan

Kenapa mereka menyebut diri sebagai kelompok marga Siopat Ama, karena menurut hikayat sejarahnya, mereka  adalah empat bersaudara kandung yang dilahirkan seorang ibu boru Pandiangan, dari empat orang ayah abang beradik. Kisah singkatnya, Guru Sotindion generasi kelima dari Tamba Tua, memiliki empat anak bernama Sidabutar, Sijabat, Siadari dan Sidabalok. Ketika Sidabutar menikah dengan boru Pandiangan, melahirkan seorang anak, dan yang masih balita, Sidabutar meninggal dunia. Dalam budaya Batak mengenal sistem perkawinan levirat, yakni menikahi janda dari saudari laki lakinya yang meninggal. Dalam adat adat Batak disebut manghabia atau pagodanghon. Setelah Sidabutar meninggal, istrinya boru Pandiangan dinikahi adiknya Sijabat atas saran ayah mereka Guru Sotindion.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − 9 =