Pengusaha Mebel Asal Tangerang-Curug Bekas Anak Buah Jokowi

Suaratapian.com-Dunia perkayuan memang tak ada matinya, nyatanya tidak lekang oleh waktu. Sebut saja Presiden Joko Widodo atau yang dikenal dengan nama Jokowi adalah sosok yang memulai kariernya dari perkayuan. Sekolahnya pun jurusan perkayuan, kemudian sempat bekerja di hutan Aceh, dan kemudian menjadi pengusaha mebel di Kota Solo. Berkah jadi pengusaha mebel inilah Jokowi terangkat namanya. Diawali oleh pertemanan, oleh teman-teman Jokowi sesame pengusaha mebel mendorongnya jadi walikota Solo. Dari Walikota Solo kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta, hingga kemudian jalan Ilahi, mendapat jalan hidup yang istimewa menjadi presiden Republik Indonesia. Tentu, sosok pengusaha ini bukan pejabat, tetapi paling tidak jalan usahanya di mebel, perkayuan adalah jalan berkah untuknya. Sebut sajalah namanya Muklis. Sejak lulus sekolah SMP dia sudah mulai tertarik dengan pekerjaan perkayuan. Padahal, awalnya ketika masuk lulusan sekolah di Semarang, orangtuanya malah menyuruh untuk masuk tentara. “Saya tak tertarik sedikit pun ingin jadi tentara. Saya ingin  jadi pengusaha. Sejak kecil sudah tertarik ingin jadi pengusaha, dan jadi ingin juga dalam bergelut di dunia politik,” ujar  Muklis.

Alih-alih jadi pengusaha mebel itu pun ternyata bukan hal yang gampang, seperti yang kita pikirkan. Perlu jalan panjang untuk jadi pengusaha, dan kegigihan untuk menjadi wirausahawan yang mandiri. “Pengusaha mebel itu bukan cuma perlu pengetahuan biasa, namun juga perlu pengetahuan lain. Perlu ada skill yang khusus untuk dipelajarinya. Baik dari desain grafis juga cara pengolahan pencampuran kayu,” jelasnya.

Atas pengalaman dan sikap pembelajarannya itu, kini Muklis mumpuni di bidang bisnis perkayuan. Selain itu, Muklis perlu juga tahu takaran alat pengecatan. “Seorang pengusah harus pula tahu ukuran sesuai dengan apa yang kita mau buat, tentu sesuai pesanan orang karena dari pencampuran kita harus benar-benar teliti untuk mencapai hasil maximal,” demikian pungkas Muklis.

Mukhlis dan Romarius Manik (jurnalis Suaratapian.com)

Ritme hidup seseorang memang siapa yang tahu. Sejak dulu ternyata dirinya, ketika masih di Semarang, kota yang juga melahirkan banyak pengusah mebel sudah bergelut dengan kayu. “Perjalanan hidup saya tentang pekerjaan dunia  kayu sudah sejak kecil di Semarang. Saya malah pernah bekerja di usaha mebel bapak Jokowi. Ketika beliau sudah menjadi Presiden, kami pernah bertemu dengan beliau, namun mungkin beliau lupa saya karena sudah lama tak bertemu,” ujar Muklis.

Atas usaha yang digelutinya telah membawanya berkelana ke mana-mana. Perjalanan hidup Muklis boleh di bilang dalam pekerjaan furniture ini penuh haru biru. Telah mengelilingi manca negara. “Saya sudah berpengalaman mengunjungi beberapa Negara, saya sudah injak kaki  termasuk di negara  Jerman, Singapore, Korea Selatan dan Amerika Serikat,” kenangnya.

Bahkan, pernah dipercaya membuat meja bundar di gedung Amerika Serikat. “Salah satu contoh meja terakhir saya kirim ke Gedung Putih- Amerika Serikat,” sembari menunjukkan sisa  contoh mebel bekas dulu di Gedung Putih-Amerika Serikat.

Hanya saja ada beberapa hal yang dia sayangkan, perbedaan di luar negeri dengan di Indonesia  jauh lebih unggul di luar negeri. Mengapa Mukhlis mengatakan demikian? “Saya punya alasan. Alasan saya karena mengamati ketika ke luar negeri. Mereka memiliki skill, termasuk punya skill apa saja; baik komputer, desain grafis dan temuan baru lainnya. Sedangkan kita kuran kreatif dan produktif. Orang-orang ini sangat-sangat diperhatikan dan bahkan dibantu untuk pengembangan dirinya.”

Tentu, sebagai pengusaha, Muklis tak bekerja sendiri. Juga sadar perlu kerjasa. Tak mengerjakan sendiri, sebab memang seluruh produk kreatif itu dikerjakan oleh banyak pikiran dan gagasan yang saling sinergi.

Dia juga membangun relasi atau kerjasama dengan banyak orang. Sebagai pengusaha dia berkerja sama dengan beberapa desain terkenal seperti Kelvin Leo, desain terkenal lulusan Universitas Bogor. “Saya sendiri bisa berkembang tentu karena dukungan dari beberapa teman. Jikalau saya bekerja sendiri tak bisa maksimal hasinya. Saya juga berkerja dengan beberapa staf dan  juga tim kerja yang lainnya,” jelasnya lagi.

Dia juga beruntung punya pekerja yang setia. Mereka sudah lama ikut bersamanya. “Mereka tak mau pindah ke tempat pekerjaan lain. Alasan betah karena menurut para pekerja saya perhatian terhadap anak buah,” ujarnya bersyukur.

Lalu, satu kiat yang dimilikinya adalah selalu berpikir biasa biasa saja. “Prinsip saya harus jaga pertemanan. Saya terus menjaga pergaulan, sebab sebenarnya sumber rezeki itu juga karena banyak teman kita. Makin banyak teman kita, makin mudah kita menjalani hidup,” kiatnya. (Romarius Manik)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.