Dilantik di Hadapan Ephorus HKBP, Cornel Simbolon Usung Visi “Satu PARNA”
Visi PARNA 2026–2030
Usai dilantik, Cornel Simbolon menegaskan visi kepengurusan baru. “Visi kita jelas. Menjadi warga PARNA yang berakar pada budaya Batak, berpegang pada ‘tona ni Raja Naiambaton’, dan memberi arti bagi Indonesia,” kata Cornel.
Ia menambahkan, kebanggaan sebagai keturunan Raja Naiambaton harus diwujudkan lewat karya nyata. “Bukan hanya bangga sebagai keturunan Raja Naiambaton, tapi juga hadir lewat karya, prestasi, dan pengabdian,” pungkasnya.
Pelantikan ini menandai babak baru PARNA Indonesia dengan semangat “Satu PARNA”: bersatu dalam keberagaman, bergerak dalam satu tujuan.
Setelah melantik jajaran pengurus PARNA Indonesia. Dalam sambutannya, dia menegaskan filosofi persatuan yang menjadi dasar PARNA.
“Parna adalah sisada anak, sisada boru, sisada lungun, sisada siriaon, na unang na tokka naso jadi marsibuatan,” ujarnya. Filosofi itu menekankan bahwa seluruh pomparan Raja Naiambaton adalah satu keturunan, satu duka, satu suka, dan pantang untuk saling mengawinkan.
Lebih lanjut, Cornel menyatakan fokus kepengurusan periode ini adalah konsolidasi organisasi. Menurutnya, konsolidasi dimaknai sebagai upaya mengembangkan struktur PARNA hingga ke berbagai wilayah di Indonesia.
“Selama periode pertama saya, kita hanya mampu membentuk kepengurusan di Batam, Kepulauan Riau, kemudian di Riau. Baru setelah itu melantik pengurus di Jakarta,” jelasnya.
Ia menambahkan, ke depan PARNA akan memperluas jangkauan kepengurusan agar soliditas pomparan Raja Naiambaton semakin kuat di seluruh Nusantara.
Dia juga menilai perbedaan pandangan di internal marga merupakan hal yang lumrah dan tidak perlu dipertentangkan. “Perbedaan itu selalu saja ada, hampir di seluruh marga-marga. Jangankan di lingkungan PARNA, lingkungan marga itu sendiri pun banyak sekarang akibat perbedaan-perbedaan,” ujarnya lagi.

Menurutnya, salah satu pemicu perbedaan yang paling menonjol di internal marga adalah persoalan hak kesulungan. “Misalnya dalam menentukan siapa siakkangan, hak kesulungan. Hak-hak kesulungan itu menjadi salah satu ciri yang paling menonjol. Sama, di lingkungan PARNA juga ada sedikit perbedaan,” jelasnya.
Meski demikian, dia menegaskan perbedaan tarombo tidak boleh menjadi alasan untuk terpecah. “Berbeda tarombo tak perlu dipersoalkan, yang terpenting satu tujuan,” tegasnya.
Ia menambahkan, filosofi itulah yang seharusnya dihidupi seluruh pomparan Raja Naiambaton. “Begitulah seharusnya anak ni raja. Begitulah seharusnya kita semua,” kata Cornel.
Menutup pernyataannya, Cornel memaknai persatuan bukan sebagai keseragaman, melainkan kesetiaan di tengah keberagaman. “Persatuan bukan berarti seragam. Persatuan berarti berani berbeda, tapi setia untuk tidak berpisah,” pungkasnya.
