DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K): Semua Karena Anugerah Tuhan

suaratapian.com-Moto majalah NARWASTU Menyuarakan Kabar Baik sejak awal diniatkan untuk memberitakan prestasi dan torehaan pecapaain anak-anak Tuhan, mengabarkan kabar baik kepada semua orang. Hal itu terlihat jelas dari apa yang dipublis tentang pengalaman pelayanan anak-anak Tuhan. Belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang yang berprestasi. Atas alasan itu jugalah majalah NARWASTU dengan konstan selalu menampilkan 21 tokoh Kristiani pilihannya atas para tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, usia dan dari berbagai bidang profesi.

Alih-alih pemberian penghargaan yang digagas oleh Jonro I. Munthe, S.Sos untuk mengapresiasi para tokoh. Konsistensinya sudah teruji digelar sejak tahun 1999. Pemberian penghargaan selalu menjadi buah pembicaraan di kalangan kekristenan. “Mereka yang mendapatkan penghormatan atas penganugerahan melalui 21 Tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU atas bukti apresiasi atas jejak rekam dari pada tokoh.

Tentu mereka bukan malaikat, tetapi tokoh yang sudah menunjukkan peran lebih dibanding dengan masyarakat secara umum,” ujar Jonro I Munthe sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU saat menjelaskan latar memulai pemberian penghargaan tersebut kepada salah satu sosok yang mendapat apresiasi adalah DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K) saat menjambangi redaksi NARWASTU, Senin, 17 Januari 2022. Pertemuan yang kemudian berlanjut di Riung Tenda, Rawamangun, Jakarta Timur.

DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K)

Lebih lanjut, Jonro lebih dalam menjelaskan latar belakang mereka, para tokoh, mendapatkan penghormatan atas penganugerahan melalui 21 Tokoh Kristiani setiap tahunnya. “Para tokoh Kristiani adalah pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.” Lebih lanjut Jonro menjelaskan, tokoh tersebut juga peduli terhadap pelayanan di tengah gereja, masyarakat dan bangsa dan negara.

Bersyukur penghargaan NARWASTU

Ditanya apa perasaan dan tanggapan Dr Waldensius menerima penghargaan NARWASTU? Dr Waldensius pun menjelaskan, bahwa pemberian penghargaan yang diberikan NARWASTU tersebut merupakan semangat dan diapresiasi keluarga. “Tentu kami bersyukur atas pengharagan itu, tetapi semua hanyalah perkenanNya. Semua karena anugerahNya. Memang semua hidup yang kita terima adalah karena Dia,” demikianlah dikatakan pria kelahiran Medan, 27 Juli 1959 menyadari berkat Tuhan yang diterimanya.

“Saya bisa menjalani kehidupan ini semata-mata karena Tuhan,” sebut dokter mata yang juga aktif melayani di GKPS Salemba, Rawamangun, Jakarta Timur. Sebelumnya dirinya adalah guru jemaat di GKPS. Memulai karir justru di pedesaan yang jauh dari perkotaan, kemudian berkarier di Jakarta. Tentu itu semata-mata perkenanan Tuhan. Sadar itu semua, hidup adalah berkat Tuhan. “Memang hidup ini karena Tuhan. Apapun yang saya dapatkan hingga saat ini adalah semata-mata berkat Tuhan. Saya sadar semuanya karena Dia, bukan karena kekuatan saya, bukan karena saya bisa menjaga diri, menjaga kesehatan,” sebut ompung satu cucu ini.

Dokter ahli mata ini dengan rendah hati mengatakan, bukan karena dirinya, tetapi karena Tuhan. “Bukan karena saya pintar bergaul, saya bisa melangkah dengan baik. Jika karena itu, mungkin saya akan banyak mengalami kekecewaan dengan kehidupan. Tetapi karena Dia, saya nggak mungkin bisa menjalani kehidupan ini dengan penuh sukacita jika tanpa Tuhan,” sebut suami Eveline br Ginting dan ayah dua putri, Margareth br Girsang dan Josephine br Girsang.

Melatih kerendahan hati menyedarkan bahwa memang kita ini tak mampu, tetapi semua karena Tuhan. “Semua karena dimampukanNya, bukan karena kemampuan saya tetapi saya mampu karena diberikan kekuatan oleh Dia. Kesadaran bagaimana diri saya ini bisa mampu, kita lupa yang sebenarnya pencipta kita, orang yang memberi kita kesempatan kita,” sebutnya sembari menambahkan, “Maka apapun yang terjadi dan semuanya Tuhan karena kasihNya bisa saya begini. Oleh karena Dia, bukan karena kekuatan saya, bagaimana tak saya bisa merasakan itu bukan kekuatan saya.”

Dirinya masih ingat benar ketika baru berkarier sebagai dokter, ditempatkan di Kepulauan Riau di satu Puskesmas yang jauh dari kota. “Saya sampai 10 tahun di daerah di Kepulauan Riau dari Puskesmas yang terpencil, sangat jauh dari keramaian. Kadang-kadang istri saya menangis di rumah menunggu saya pulang dari Puskesmas. Menapa? Oleh karena sangat sepi, tetap bisa kita jalani,” kisahnya lagi. Dari Kepulauan Riau kemudian melanjutkan Pendidikan ke Jakarta dan memilih jadi Dokter Spesialis Mata Konsultan yang kemudian berpraktek di Jakarta Eye Center hingga sekarang.

Terus melayani

Waldensius melalui pendidikan dasar SD sampai dengan SMA diselesaikan di Kota  Sidikalang yaitu SD HKBP Sidikalang,  SMPN 1 Sidikalang,  SMAN 225 Sidikalang dan lulus pada tahun 1978. Gelar Sarjana dilanjutkan dengan dokter umum yang diperoleh pada tahun 1985 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dan tahun 1995, melanjutkan pendidikan dokter spesialis mata di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi dan lulus pada tahun 1999 dengan tesis berjudul Synergic Effect of Tetracycline in Meibomian Gland Dysfunction

Kemudian pendidikan spesialis mata dilanjutkan dengan menyelesaikan fellowship di bidang katarak dan operasi refraktif serta iperasi vitreo-retina pada di Jakarta Eye Center. Tahun 2017, kemudian melanjutkan studi ke derajat pendidikan doktor (S3) di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dan berhasil diwisuda dengan nilai IP 3.94. Satu prestasi yang prestisius dari seorang dokter profesional juga masih dengan lihai belajar untuk makin mumpuni di bidang mata.

Abang kandung dari anggota DPR RI Junimart Girsang dan Ketua Umum Peradi SAI Juniver Girsang ini, di usia yang tak muda lagi dirinya mampu memahat gelar doktor dari Universitas Gajah Mada, pada, Senin, 3 Februari 2020, 2020 dengan judul disertasi “Pengembangan Metode Baru Retinektomi Relaksasi Radial yang Efektif dengan Efek Samping Minimal pada Ablasio Retina dengan Vitreoretinopati Proliferatif Tingkat, dengan predikat Cumlaude.

Disertasinya membahas penemuan baru dalam pengobatan mata di dunia. Prestasinya ini pun mendunia, dirinya menjadi pesohor terbukti dengan  banyak diundang mempersentasikan temuannya ini ke berbagai Negara. Sempat juga mengikuti pelatihan vitreoretinal di Zhongshan Ophthalmologic Center, Sun Yat Sen University, Guangzhou, China. Atas prestasi dan semangat pembelajarannya, bukan tak mungkin dirinya meraih gelar Professor di bidangnya beberapa tahun ke depan. Tetapi kembali akan kesadarannya, bahwa itu semua karena Tuhan, semua karena anugerah Tuhan. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 × four =