Pdt Andreas Sinaga; Pejuang Hati, Mendonorkan Hati Demi Putrinya Karen

suaratapian.com-Pengalaman hidup setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang melihat persoalan sebagai beban, tetapi orang yang percaya pada Tuhan sadar benar penjagaanNya. Dan caraNya selalu unik dan kerap memberi pengalaman hidup yang tak mudah, namun yang pasti pertonganNya tak pernah lepas. Paling tidak itulah pengalaman hidup dari Pdt Andreas Sinaga berjuang untuk kesembuhan putrinya, diognosa dokter di usia menjelang satu tahun gagal fungsi hatinya. Karen yang baru berusia delapan bulan, yang lahir di Balikpapan, Agustus 2020, sesungguhnya lahir normal. Tak ada tanda-tanda kelainan kesehatan, berat badannya pun normal. Hidup keluarga ini awalnya normal, tugas pelayanan berjalan dengan baik, bahkan pembangunan gereja pun sedang berjalan, gereja yang awalnya hanya komunitas anak-anak kampus.

Hingga kemudian pengalaman hidup keluarga ini untuk Karen. Sejak dinyatakan pihak medis di RS Hermina Balikpapan masa pada hatinya. Kisah itu bermula ada kelainan pada fisik Karen, kulitnya kekuningan. Awalnya kedua orang tuanya tak menaruh curiga, karena bayi Karen tak rewel dan menangis. Karen cukup dijemur pagi hari. Minggu berjalan. Bulan berganti. Karen  tetap tak ada perubahan. Pihak dokter menyatakan “Hal seperti itu biasa pada bayi.”

September 2020 jadi hari yang tak pernah dilupakan keluarga Pdt. Andreas Sinaga dan istrinya Tetty Silalahi. Tiba-tiba sepanjang lengan tangan bayi Karen timbul lebam hitam, bahkan muncul lebam di lipatan paha dan tulang belakang, selain itu muncul di wajah Karen.  Dan yang memilukan kondisinya semakin memburuk. Sesaat Karen tersedak dan muntah, wajahnya pucat pasi. Nafas tersengal. Tidak ada respon saat disentuh.

Karenanya segera dibawa ke RS Hermina, Balikpapan. Hasil pemeriksaan rumah sakit dinyatakan terkena “atresia bilier.” Atresia bilier sendiri artinya kondisi di mana terdapat gangguan aliran cairan empedu seorang bayi. Akibatnya, cairan empedu tak dapat menuju usus dan terakumulasi di dalam hati, sehingga menimbulkan kerusakan hati atau sirosis. Kelainan ini merupakan salah satu penyakit yang jarang terjadi dan khas terjadi pada bayi baru lahir.

Oleh karena itu, pihak RS Hermina merujuk pengobatan ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitas medisnya, dan Karen dipindah ke RSKD Balikpapan, Rumah Sakit negeri milik provinsi oleh karena di sana peralatan lebih lengkap.

Hasil pemeriksaan RSKD, sama saja, Karen tetap dinyatakan atresia bilier. Liver atau hati bayi Karen sudah mengeras. Livernya sudah tak berfungsi lagi. Akibatnya semua racun dari makanan masuk ke dalam darah. Itu sebabnya kulit Karen tampak kuning.

Menurut dokter, atresia bilier ini bawaan lahir dari bayi Karen. Sejak lahir empedu dan saluran ke hati tidak lengkap. Akibatnya semua racun dari ASI  yang diproses di hati menumpuk. Tak bisa disalurkan ke empedu.

 “Rasanya dunia mau runtuh,” kata Andreas, mengetahui putri keduanya mengalami sakit tersebut. Apalagi istrinya, Tetty Silalahi sangat terpukul. Dua minggu dia menutup diri. Dia merasa Tuhan tak berpihak padanya. “Aku merasa Tuhan pun tak berpihak padaku. Ini tak adil Tuhan. Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengalami ini?”

Kita banyangkan bagaimana merasakan seperti keadaan yang tak berpihak. Padahal memang di hidup ini keberuntungan dan kegagalan datang silih berganti, maka kita tak boleh merasa bahwa kita sendirian, meskipun rasanya keadaan sangat tak berpihak.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

7 + fifteen =