Guru ‘Nahum Situmorang’ Bejibun Adikarya

Di Batavia, dari sekian banyak instrumen musik, rupanya biola yang paling disenangi. Dia ingin sekali memiliki sebuah biola yang paling dirindukannya. Keinginan ini dicetuskan kepada orang-tuanya lewat mengirim surat, tetapi balasan yang datang tak seperti yang diharapkan, karena keadaan ekonomi orangtuanya tak bisa berjanji akan mengirimkan uang untuk membeli sebuah biola.

Jawaban tersebut tak menimbulkan kekecewaan, tapi rasa ingin untuk segera memiliki biola mendorong dia untuk menulis surat kepada abang di Tarutung, dan menyampaikan maksud seperti yang tersirat dalam surat yang dikirimkan kepada orang-tuanya. Ternyata apa yang diharapkan dapat terwujud, karena abangnya mengirim uang untuk membeli sebuah biola. Dengan adanya biola itu, dia semakin gairah mengembangkan bakatnya, walau pada saat itu yang berjudul. “Aloha U” merupakan lagu favorit Namun Situmorang, lagu ini hampir setiap hari dinyanyikannya.

Suatu hari sesudah kenaikan kelas ke kelas III, pada Kweekshool Kepala Sekolah mengumumkan bahwa bahwa sekolah mereka akan dipindahkan ke Lembang Bandung, murid-murid berencana mengadakan pesta untuk hal tersebut. Pada kesempatan itu Nahum muncul dipentaskan dengan mengumandangkan lagu favoritnya diiringi biola yang dimainkan sendiri, suara dan gesekan biola Namun Situmorang mendapat sambutan meriah dari seluruh yang hadir.

Selang berapa lama Nahum mendengar kabar dari adiknya bahwa lagu kesayangannya Aloha U sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Fareweli To Thee, bahkan lagu itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa daerah Tapanuli oleh adiknya sendiri dengan judul Horas Ma Ho. Tahun 1927, melanjutkan sekolah di Lembang. Alih-alih Nahum sebenarnya sekolah ke Jawa bukan karena kemampuan ekonomi orangtuanya, melainkan karena dibawa satu pendeta yang bertugas di Sipirok dan kemudian kembali ke Depok, Jawa Barat. Setamatnya dari HIS, Tarutung. Di Jakarta dia sekolah di Kweekschool Gunung Sahari dan kemudian meneruskan pendidikan ke Lembang, Bandung, lulus tahun 1928.

Di Kota Kembang, Lembang menyambut ramah kehadiran murid-murid dari Kweekschool. Kelembutan kota ini mengingatkan Nahum akan kampung halaman di Tarutung, untuk melepaskan rasa rindu ini, dia menulis surat kepada orangtua, dan teman-temannya tak kecuali kekasihnya. Suatu berselang sejak dia meninggalkan kampung halaman, menimbulkan rasa rindu yang sangat akan kekasihnya. Surat-surat yang diterima dari kekasih di Tarutung, sering kali menyebabkan Nahum memikirkan jauh ke masa yang akan datang. Kerinduan akan kekasih di kejauhan terpadu dengan alam romantis kota Lembang, sehingga diciptakannya lagu “Ala Dao” yang khusus untuk kekasih.

Nahum juga disebut-sebut menterjemahkan sebuah lagu yang berjudul “Serenade Toscelli” ke dalam bahasa daerah Tapanuli, dan diberi judul Ro Ho Saonari dan lagu ini ditujukan untuk kekasihnya. Surat-surat yang diterima Namun, bukan dari Tarutung saja, bahkan dari Sipirok tempat kelahirannya. Pernah ada seorang penulis dan bercerita tentang Padang Sidempuan yang sedang musik salak. Membaca surat itu, Nahum terkenang akan masa kanak-kanaknya, tak bergitu lama dia kemudian buat lagu Ketabo Tu Padang Sidempuan.

Dan, waktu hendak menyelesaikan pendidikan di Lembang, dia lebih fokus untuk sekolah namun tak pernah lupa menghidupi batin dan keterpanggilannya akan musik, yang terus menggelora di hati. Hasratnya akan musik tak juga mengganggunya bangku sekolah. Setelah lulus dia menjadi seorang guru, tahun 1928 dia mulai melarutkan diri dalam dunia pendidikan, mengajar di HIS van de Batak’s Studiefond di Sibolga dalam tempat mula-mula mengajar. Lagi, walau berprofesi menjadi guru, Nahum tetap menghidupi bidang seniman, dan terus membina bakat yang ada pada dirinya, Sibolga Julu penghasil tuak termashur tak luput dari incarannya, sumber inspirasi dalam mencipta lagu yang diberi judul “Tumba Goreng.”

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × one =