Guru ‘Nahum Situmorang’ Bejibun Adikarya
Mendirikan sekolah
Tahun 1930, Nahum pulang kembali ke Rura Silindung, Tarutung, di sana dia bersama abangnya Sopar Situmorang mendirikan sekolah diberi nama Institut Voor Westters Lager Orderwis, di Tarutung, karena pemerintah Belanda pada waktu memiliki aturan mendirikan sekolah, sekolah yang tak mendapat izin dari Belanda disebut sekolah liar. Sekolah yang didirikan Nahum bersama abangnya itu tak mendapat subsidi pemerintah Belanda karena dianggap sekolah liar, meski demikian karena sifat disiplinnya yang ketat dan cara mengajar yang keras membuat sekolah tersebut menjadi sekolah yang sangat maju pada waktu itu.
Dalam kekagumannya pada alam Batak yang indah, maka lahirlah lagu, Rura Silindung, termasuk keindahan Danau Toba dengan lagu O Tao Toba. Terkesan semua lagu yang diciptakannya tersirat moral dan estetika narasi syairnya indah. Hampir semua hal fenomena-fenomena yang terjadi dalam interaksi sosial saat itu ditulisan dalam syair lagu, belum lagi tema-tema tentang cinta, sosial ekonomi, seperti Holong Ni Roham Do Sinta Sinta Dia Ahu. Atau, lagu Na Sonang Do Hita Na Dua adalah khayalan sepasang kekasih yang tak jadi menikah.
Misalnya, di masa itu, karena zending Tarutung sudah semacam kota pendidikan di kawasan Tapanuli Raya, dimana pemuda-pemuda di kawasan Batak datang ke Tarutung untuk sekolah, sudah tentu membuat Kota Tarutung menjadi sangat terkenal, termasuk pergaulan kaum muda yang lebih maju dibanding wilayah lain yang dekat dengan Tarutung. Menangkap fenomena kebebasan kaum muda disana juga membuat Nahum menulis lagu yang satir buat anak muda, berjudul “Sega Na Maho.”
Namun, entah kenapa tahun 1949 profesi guru ditinggalkannya. Ada yang menafsir karena kegagalan percitaannya dengan seorang putri asal Silindung, dan membuatnya pindah ke Kota Medan, jadi semacam musafir dan lebih fokus jadi seniman, di sana dia pun mulai mempelajari marketing dan menjadi broker mobil. Kita tahu waktu itu, di Batavia, yang menguasai agen mobil Eropa, Panggabean asal Tarutung.
Keistimewaan Nahum yang dikagumi adalah bahwa dia sanggup menciptakan narasi lagu beserta syair-syairnya dan sekaligus menyanyikannya. Dia juga dapat memimpin band-nya sendiri serta sanggup memainkan berbagai instrumen musik, bahkan dapat mencipta lagu saat berada di tengah-tengah orang banyak.
Di Kota Medan dia berkarya, lagu-lagu dalam bahasa Batak tua yang dihadirkan dengan kalimat manis, membuat masyarakat makin kagum kemampuannya merangkai syair lagu. Selama di Medan, sebagai seorang lelaki yang lajang, memilih jalan selibat.
Mengarang lagu semacam penyembuh dari batinnya. Kelebihannya yang sampai saat ini belum bisa dicapai pengarang lagu Batak adalah kemampuannya menarasikan bait-bait lagu itu, menjadi semacam penggugah, rangkaian bunyi yang sangat indah nan menawan. Tak hanya mengarang tetapi sanggup mendendangkannya dengan merdu.
Atas adikarya Nahum, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1969 telah memberian dirinya penghargaan, termasuk dari RRI penah memberi penghargaan kepadanya, 11 September 1965. Dan, penghargaan dari Panitia Penyelenggara Festival Irama Tapanuli Populer Sumatera Utara tertanggal, 28 Oktober 1962.
Dia meninggalkan bejibun adikarya, namun tak banyak yang peduli. Di tengah nir kepedulian itu, walau memang senyap, masih ada pribadi-pribadi yang peduli, termasuk ada Nahum Situmorang FC yang hari ini berwebinar membicarakan Nahum Situmorang persis di hari dimana dia dimuliakan Tuhan, 51 tahun lalu. Nahum perlu dimuliakan. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; dan menghibur banyak orang. Atas adikaryanya telah menafkahi bejibun pekerja seni, pengusaha hiburan dan industri rekaman.
Yang jelas bukan hanya orang-orang Batak, familiar dengan lagu-lagunya, yang pasti Generasi Baby Boomers dan Generasi X pasti pernah dengar nama Nahum Situmorang. Pengarang lagu Situmorang itu hingga ajalnya menjemput tetap melajang, membawa mati cintanya. (diolah dari berbagai sumber)
