Hari Ulos Nasional Dirayakan Masih Sebatas Regional

Suaratapian.comSetiap tanggal 17 Oktober diperingati sebagai Hari Ulos Nasional yang ditetapkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 2015 lalu. Ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 270/P/2014 tentang penetapan Ulos Batak sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Artinya sudah tujuh tahun sejak ditetapkan diperingati Hari Ulos Nasional yang digelar setiap tahunnya. Hanya sayang menyemarakkan Hari Ulos Nasional masih dirayakan sebatas di regional, apalagi tahun ini, karena pandemic, perayaan ulos dirayakan sangat sederhana, belum menasional.

Di Sumatera Utara sendiri, perayaan Hari Ulos Nasional 2021 diinisiatori Yayasan Pusuk Buhit pimpinan Efendi Naibaho. Acara digelar melalui  Webinar dan titik siarnya di Merica Food Center Millenium ICT Lantai 5, Kota Medan, pada Minggu, 17 Oktober 2021. Perhelatan yang dibungkus tema Ulos Menyatukan Kita. Melalui peringatan Hari Ulos Nasional diharapkan bisa menjaga kelestarian ulos Batak sebagai warisan dan identitas budaya Batak. Lebih dari itu, ulos bisa menyatukan kita, seluruh etnis-etnik Batak yang punya kemiripan masing-masing kain tenun ini.

Tampil beberapa pembicara diantaranya; Manguji Nababan, Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Medan. Idris Pasaribu, redaktur sastra harian Analisa, Ryta Tambunan, dosen antroplogi di Universitas Sumatera Utara, dan Prof Dr Syaad Afifuddin Sembiring Kloko SE MEc, Wakil ketua Cendikiawan Karo 2021-2026.

Sementara itu, Prof Dr Syaad menyampaikan macam-macam pakaian adat Batak, dari kain adat Toba hingga Karo. Sebagaimana kita tahu ulos, biasanya dikenakan dalam kegiatan sehari hari, maupun pada upacara adat.

“Pakaian Adat yang digunakan Suku Mandailing hampir sama dengan suku Batak Toba. Suku Mandailing juga mengenakan kain ulos. Akan tetapi, suku Mandailing menambahkan aksesoris untuk melengkapi penampilan mereka,” sebutnya.

“Suku Pakpak memiliki kain yang dinamakan kain Oles. Suku Simalungun juga menggunakan Ulos, disebut Hiou. Berbeda dengan Suku Batak Toba, sedangkan Suku Simalungun menambahkan Kain Samping yang disebut Surisuri. Batak Karo memiliki kain khusus yang terbuat dari pintalan kapas yang disebut Uis Gara. Uis gara artinya kain merah, karena pembuatannya menggunakan benang merah.”

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.